Wall Street kembali terpuruk di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen pasar yang tadinya sempat membaik justru kembali tertekan karena dua faktor utama: lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah dan rencana pembatasan ekspor chip AI oleh pemerintahan Trump. Investor pun mulai berhati-hati, dan aliran dana bergerak ke sektor-sektor yang dianggap lebih aman.
Indeks utama Wall Street pada Kamis, 5 Maret 2026, ditutup dengan performa negatif. S&P 500 turun 0,6% ke level 6.829,45, Nasdaq Composite turun 0,3% ke 22.748,99, dan Dow Jones terperosok hingga 1,6% ke 47.954,19. Meski sempat menguat di tengah sesi, tekanan dari sentimen geopolitik dan sektor teknologi akhirnya memaksa penutupan yang lesu.
Lonjakan Ketegangan Geopolitik dan Dampaknya ke Pasar
Konflik di Timur Tengah semakin memanas. Iran melancarkan serangan rudal ke Israel untuk hari keenam berturut-turut, menunjukkan bahwa eskalasi militer masih jauh dari titik akhir. Serangan ini terjadi tak lama setelah Senat AS menolak mosi untuk menghentikan kampanye udara, yang semakin memperjelas bahwa intervensi militer bisa saja berlanjut.
1. Iran dan Ancaman Terhadap Stabilitas Global
Iran tampaknya tidak berniat mundur. Munculnya nama Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran yang terbunuh, sebagai kandidat terkuat pengganti ayahnya, menunjukkan bahwa kekuasaan di Teheran tetap stabil dan tidak goyah meski di tengah tekanan luar.
2. Respon Trump dan Sentimen Politik
Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Khamenei tidak bisa diterima sebagai pemimpin baru Iran tanpa persetujuan pribadinya. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa AS akan terus terlibat aktif dalam dinamika politik Iran, yang bisa memicu ketidakpastian lebih lanjut di pasar global.
Lonjakan Harga Energi dan Dampaknya ke Ekonomi
Salah satu dampak langsung dari konflik ini adalah lonjakan harga minyak. Brent dan WTI mendekati level USD80 per barel, yang memicu kekhawatiran inflasi di pasar global. Kristalina Georgieva dari IMF menyebut bahwa konflik ini menguji ketahanan ekonomi dunia secara keseluruhan.
1. Kenaikan Harga Bahan Bakar
Konsumen Amerika mulai merasakan dampaknya di pompa bensin. Harga bahan bakar yang naik bukan hanya memengaruhi pengeluaran rumah tangga, tapi juga bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi secara makro.
2. Ancaman Inflasi dan Kebijakan The Fed
Data inflasi yang naik bisa memaksa Federal Reserve untuk menunda rencana penurunan suku bunga. Investor kini lebih waspada terhadap langkah The Fed, terutama menjelang pertemuan Juni yang akan dipimpin oleh Ketua baru.
Sektor Teknologi Tertekan Akibat Pembatasan AI
Sektor teknologi juga menjadi sorotan. Saham Nvidia dan perusahaan semikonduktor lainnya terpuruk setelah muncul laporan bahwa pemerintah AS sedang menyusun aturan pembatasan ekspor chip AI ke seluruh dunia tanpa persetujuan Washington.
1. Pembatasan Global Ekspor Chip AI
Aturan yang diusulkan akan memaksa perusahaan seperti Nvidia dan AMD untuk meminta izin AS sebelum mengekspor akselerator AI. Ini adalah ekspansi dari kebijakan yang sebelumnya hanya berlaku untuk sekitar 40 negara. Saham Nvidia langsung terperosok setelah laporan ini beredar.
2. Dampak ke Perusahaan Teknologi Lain
Tidak semua perusahaan teknologi terdampak negatif. Broadcom justru mencatatkan performa positif setelah merilis hasil kuartal yang melebihi ekspektasi dan mengumumkan rencana pembelian kembali saham senilai USD10 miliar.
Data Ekonomi AS Masih Menopang Sentimen
Di tengah ketidakpastian geopolitik, data ekonomi AS tetap menunjukkan ketahanan yang baik. Laporan penggajian swasta untuk Februari menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dari yang diperkirakan. PHK juga turun drastis dari 108 ribu menjadi hanya 48 ribu dalam sebulan.
1. Penurunan Klaim Pengangguran
Jumlah klaim pengangguran awal tetap stabil di angka 213 ribu, lebih rendah dari estimasi pasar yang memprediksi 215 ribu. Ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih sehat meski ada tekanan dari luar.
2. Optimisme dari ISM dan Beige Book
Indeks ISM untuk sektor jasa naik ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sementara laporan Beige Book dari Federal Reserve menunjukkan bahwa bank sentral masih optimis terhadap perekonomian domestik.
Perubahan Ekspektasi Suku Bunga
Investor kini mulai merombak ekspektasi terkait penurunan suku bunga. Probabilitas penurunan suku bunga pada pertemuan Juni turun menjadi hanya 39%, yang merupakan level terendah sepanjang tahun. Skeptisisme terhadap kemampuan Ketua baru The Fed untuk langsung menurunkan suku bunga semakin meningkat.
Kesimpulan
Wall Street memasuki fase ketidakpastian yang tinggi. Konflik AS-Iran dan rencana pembatasan teknologi AI menjadi dua faktor besar yang menekan sentimen pasar. Namun, data ekonomi yang solid masih memberikan landasan bagi optimisme jangka pendek. Investor kini harus waspada terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Disclaimer: Data dan perkembangan geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung situasi di lapangan.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













