Ilustrasi emas tengah mengalami tekanan harga yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mengubah arah arus investasi global. Investor tampaknya mulai beralih dari emas sebagai safe haven ke dolar AS, yang dianggap lebih stabil di tengah ketidakpastian.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh data ekonomi yang datang dari Amerika Serikat. Meskipun inflasi secara keseluruhan terlihat stabil, lonjakan harga energi berpotensi memicu tekanan baru pada angka inflasi mendatang. Semua ini membuat harga emas dunia terus berada di bawah tekanan.
Emas Dunia Melemah di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Harga emas dunia mengalami penurunan tajam pada Kamis, 12 Maret 2026. Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah yang kembali menguat. Situasi geopolitik di Iran semakin memanas, dan ancaman penutupan Selat Hormuz mulai berdampak langsung pada pasar energi global.
-
Lonjakan harga minyak mentah
- Pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup.
- Badan Energi Internasional mencatat gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah akibat situasi ini.
- Harga minyak mentah Brent berjangka mendekati USD100 per barel.
-
Dolar menguat sebagai safe haven
- Investor cenderung memilih dolar AS sebagai pelindung nilai dibandingkan emas.
- Indeks Dolar naik sekitar 0,3 persen, menekan permintaan terhadap emas.
- Emas batangan berada di kisaran USD5.000 hingga USD5.200 per ons.
Penyebab Turunnya Harga Emas Global
Penurunan harga emas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti harga minyak. Ada sejumlah alasan fundamental dan psikologis pasar yang turut berperan.
-
Inflasi yang masih terkendali
- Data inflasi AS menunjukkan bahwa angka inflasi Februari tetap stabil.
- Namun, lonjakan harga energi akibat konflik Iran belum sepenuhnya tercermin dalam data tersebut.
-
Ekspektasi kebijakan moneter
- Bank sentral seperti Federal Reserve mungkin menunda pemotongan suku bunga.
- Suku bunga yang lebih tinggi bisa menarik modal asing, memperkuat dolar, dan menekan emas.
-
Perubahan sentimen investor
- Investor lebih memilih aset berimbang dan likuid seperti obligasi pemerintah AS.
- Emas yang tidak memberikan bunga jadi kurang menarik di tengah ekspektasi suku bunga yang stabil atau naik.
Perbandingan Harga Emas Dunia dan Dolar AS
Berikut adalah perbandingan harga emas global dan kekuatan dolar AS dalam beberapa pekan terakhir:
| Tanggal | Harga Emas Spot (USD/ons) | Harga Emas Berjangka (USD/ons) | Indeks Dolar (DXY) |
|---|---|---|---|
| 29 Februari 2026 | 5.180,50 | 5.185,20 | 104,35 |
| 7 Maret 2026 | 5.140,30 | 5.145,10 | 104,60 |
| 12 Maret 2026 | 5.099,82 | 5.105,16 | 104,90 |
Dampak Konflik Timur Tengah pada Pasar Emas
Konflik di Iran dan keterlibatan aktor global seperti Amerika Serikat menciptakan ketidakpastian yang seharusnya mendongkrak harga emas. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Investor lebih memilih dolar karena dianggap lebih aman dan likuid dalam jangka pendek.
-
Penutupan Selat Hormuz
- Jalur strategis yang dilewati 20 persen pasokan energi global.
- Gangguan pasokan minyak berdampak langsung pada harga energi dan ekspektasi inflasi.
-
Kebijakan AS-Israel di Iran
- Kampanye militer kecil AS-Israel memicu lonjakan harga minyak.
- Investor khawatir akan terjadinya krisis energi global yang lebih luas.
-
Peran dolar sebagai safe haven
- Dolar menjadi pilihan utama investor di tengah ketidakpastian geopolitik.
- Emas yang biasanya menjadi safe haven justru tertekan karena dolar lebih dominan.
Apa Kata Investor?
Investor saat ini tampaknya lebih memilih stabilitas jangka pendek daripada lindung nilai jangka panjang. Meski emas sering dianggap sebagai pelindung terhadap inflasi dan ketidakpastian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dolar lebih cepat bereaksi dan lebih mudah diperdagangkan dalam situasi darurat.
Banyak analis memperkirakan bahwa selama ketegangan di Timur Tengah belum memicu krisis energi global yang parah, emas akan terus menghadapi tekanan. Namun, jika situasi memburuk dan pasokan minyak benar-benar terganggu, emas bisa kembali menguat sebagai safe haven alternatif.
Data Inflasi PCE Jadi Penentu Arah Emas
Salah satu faktor penting yang akan memengaruhi arah harga emas ke depannya adalah rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS. Data ini dijadwalkan dirilis akhir pekan ini dan menjadi indikator utama yang dipantau oleh Federal Reserve.
-
Pentingnya data PCE
- Data ini menjadi tolok ukur utama inflasi pilihan The Fed.
- Hasilnya akan memengaruhi ekspektasi suku bunga jangka panjang.
-
Dampak terhadap emas
- Jika data menunjukkan inflasi naik, ekspektasi suku bunga bisa naik.
- Ini akan memperkuat dolar dan semakin menekan harga emas.
-
Reaksi pasar
- Investor global akan mengamati data ini dengan seksama.
- Fluktuasi harga emas bisa terjadi dalam hitungan jam setelah rilis.
Prediksi Harga Emas di Kuartal II 2026
Meskipun saat ini emas sedang tertekan, beberapa analis optimistis bahwa logam mulia ini akan kembali menguat di kuartal kedua 2026. Ini tergantung pada beberapa faktor utama, termasuk perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
-
Jika ketegangan memburuk
- Emas bisa kembali menguat sebagai safe haven.
- Permintaan dari investor global akan meningkat.
-
Jika situasi stabil
- Dolar tetap dominan dan emas akan terus tertekan.
- Investor akan tetap memilih aset berbunga.
-
Kebijakan suku bunga
- Jika Fed menunda pemotongan suku bunga, emas akan tetap tertekan.
- Namun jika suku bunga turun, emas bisa mendapat dorongan.
Disclaimer
Harga emas sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti geopolitik, kebijakan moneter, dan fluktuasi pasar global. Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan kondisi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Investasi dalam emas atau komoditas lainnya mengandung risiko, dan pembaca disarankan untuk melakukan analisis mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum membuat keputusan investasi.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













