Lonjakan harga minyak dunia akhir-akhir ini sempat memicu kekhawatiran akan memaksa The Fed untuk menunda langkah pelonggaran kebijakan, termasuk pemotongan suku bunga. Namun, analis dari Morgan Stanley justru memperkirakan bank sentral Amerika Serikat itu masih akan melanjutkan rencana pemotongan suku bunga pada 2026, meski ada gejolak energi global.
Perusahaan jasa keuangan ternama itu menyatakan bahwa lonjakan harga minyak bersifat sementara dan belum cukup kuat untuk mengganggu tren disinflasi secara keseluruhan. Fokus utama The Fed, menurut Morgan Stanley, bukan pada inflasi jangka pendek yang terdorong oleh energi, melainkan pada ekspektasi inflasi jangka panjang yang hingga kini masih terjaga.
Mengapa Fed Tetap Bisa Turunkan Suku Bunga
Meskipun harga minyak melonjak, tekanan inflasi secara keseluruhan dinilai masih bisa dikendalikan. Inflasi inti, yang tidak termasuk volatilitas harga pangan dan energi, menjadi indikator utama yang diacuhkan oleh bank sentral AS.
1. Ekspektasi Inflasi Jangka Panjang Tetap Stabil
Lonjakan harga minyak memang berdampak pada inflasi jangka pendek. Namun, ekspektasi inflasi jangka panjang—yang lebih penting bagi The Fed—masih berada di kisaran normal. Ini menunjukkan bahwa pasar tidak percaya lonjakan minyak akan berdampak jangka panjang.
2. Inflasi Inti Tidak Terpengaruh Signifikan
Inflasi inti, yang menjadi fokus utama kebijakan moneter, belum menunjukkan tanda-tanda percepatan yang signifikan akibat lonjakan harga energi. Ini memungkinkan The Fed untuk tetap fokus pada tujuan jangka panjang tanpa terlalu khawatir pada gangguan sementara.
3. Kondisi Keuangan Sudah Ketat
Sejak awal 2026, kondisi keuangan global mengalami pengetatan cukup signifikan. Dolar yang menguat, harga minyak yang tinggi, dan risiko pasar yang naik, sudah memberikan efek serupa dengan kenaikan suku bunga sekitar 80 basis poin. Ini mengurangi kebutuhan The Fed untuk mengetat kebijakan lebih lanjut.
Skenario Pelonggaran Kebijakan Fed di 2026
Morgan Stanley memperkirakan bahwa The Fed akan mulai melonggarkan kebijakan pada akhir 2026. Rencananya, bank sentral itu akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin masing-masing, sehingga suku bunga kebijakan akan turun ke kisaran 3,0% hingga 3,25%.
1. Pemotongan Suku Bunga Dimulai Paruh Kedua 2026
Dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang secara bertahap mendingin, The Fed diproyeksikan akan memulai langkah pelonggaran pada paruh kedua 2026. Ini akan menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi telah cukup terkendali.
2. Dua Kali Pemotongan 25 Basis Poin
Langkah pertama akan dilakukan dengan pemotongan sebesar 25 basis poin, diikuti oleh pemotongan serupa di kuartal berikutnya. Tujuannya adalah untuk memberikan stimulan halus tanpa mengganggu stabilitas ekonomi.
3. Target Suku Bunga: 3,0% hingga 3,25%
Setelah dua kali pemotongan, suku bunga kebijakan diperkirakan akan berada di kisaran 3,0% hingga 3,25%. Ini akan menjadi level yang lebih sejalan dengan kondisi ekonomi saat itu, serta memberikan ruang bagi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meskipun skenario pelonggaran masih berlaku, ada beberapa risiko yang bisa mengubah arah kebijakan The Fed. Salah satunya adalah lonjakan ekspektasi inflasi jangka panjang yang berkelanjutan.
Lonjakan Ekspektasi Jangka Panjang
Jika masyarakat dan pasar mulai percaya bahwa inflasi akan terus tinggi dalam jangka panjang, maka The Fed mungkin terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ini bisa menunda atau bahkan membatalkan rencana pemotongan suku bunga.
Gangguan Struktural dari Energi
Lonjakan harga minyak yang bersifat sementara biasanya tidak terlalu mengganggu. Namun, jika gangguan energi berlangsung terus-menerus dan mulai memengaruhi biaya produksi secara luas, maka ini bisa memicu inflasi inti naik.
Ketidakpastian Geopolitik
Konflik di Timur Tengah dan ketidakstabilan global bisa memicu kenaikan harga minyak yang lebih parah dan berkepanjangan. Ini akan menjadi tantangan besar bagi The Fed dalam menjaga ekspektasi inflasi tetap stabil.
Perbandingan Proyeksi Inflasi dan Suku Bunga Fed
Berikut adalah ringkasan proyeksi Morgan Stanley terkait inflasi dan kebijakan suku bunga Fed di 2026:
| Indikator | Proyeksi 2026 |
|---|---|
| Inflasi inti (tanpa energi & pangan) | Stabil di sekitar 3,2% |
| Lonjakan harga minyak | Bersifat sementara |
| Ekspektasi inflasi jangka panjang | Tetap di bawah 3% |
| Suku bunga kebijakan akhir 2026 | 3,0% hingga 3,25% |
| Jumlah pemotongan suku bunga | Dua kali masing-masing 25 basis poin |
Catatan: Data di atas bersifat proyeksi dan dapat berubah tergantung perkembangan ekonomi global serta kondisi geopolitik.
Kesimpulan
Meskipun lonjakan harga minyak sempat memicu kekhawatiran, The Fed masih diproyeksikan akan melanjutkan langkah pelonggaran kebijakan di 2026. Ini berkat ekspektasi inflasi jangka panjang yang tetap stabil dan inflasi inti yang belum terdampak signifikan.
Namun, skenario ini bukan tanpa risiko. Gangguan energi yang berkepanjangan, lonjakan ekspektasi inflasi, dan ketidakpastian geopolitik bisa mengubah arah kebijakan. Untuk saat ini, Morgan Stanley tetap optimistis bahwa The Fed bisa menjaga jalur disinflasi tetap berjalan.
Disclaimer: Proyeksi ini didasarkan pada data dan asumsi hingga April 2026. Perubahan mendadak dalam kondisi ekonomi global, geopolitik, atau pasar keuangan bisa mengubah skenario ini.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













