Perbankan

Konsumsi Masyarakat Indonesia Masih Kuat Meski Hadapi Tantangan Ekonomi Global 2026 Menurut Mandiri Institute

Herdi Alif Al Hikam
×

Konsumsi Masyarakat Indonesia Masih Kuat Meski Hadapi Tantangan Ekonomi Global 2026 Menurut Mandiri Institute

Sebarkan artikel ini
Konsumsi Masyarakat Indonesia Masih Kuat Meski Hadapi Tantangan Ekonomi Global 2026 Menurut Mandiri Institute

Aktivitas konsumsi masyarakat Indonesia tetap menunjukkan ketangguhan meski tengah menghadapi berbagai dinamika ekonomi global. Data dari Mandiri Institute mencatat peningkatan belanja masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap dan bahkan mengalami peningkatan, terutama menjelang dan saat .

Salah satu indikator yang digunakan adalah Mandiri Spending Index (). MSI mencatat pertumbuhan sebesar 2,9 persen dibandingkan periode pra-Ramadan. Angka ini sedikit lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan pada tahun-tahun sebelumnya yang berada di angka 2,8 persen. Artinya, semangat belanja masyarakat selama Ramadan hingga Lebaran 2026 tergolong lebih tinggi dan konsisten.

Kelompok Menengah Jadi Lokomotif Konsumsi

Peran penting kelompok menengah dalam mendorong konsumsi terlihat jelas. Selama periode Ramadan hingga Lebaran 2026, konsumsi kelompok ini tumbuh sebesar 4,1 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok bawah yang hanya tumbuh 2,1 persen dan kelompok atas yang tumbuh 2,6 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa kelas menengah menjadi tulang punggung konsumsi domestik.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut bahwa pertumbuhan belanja kelompok menengah bisa mencapai 1,4 hingga dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dua kelompok lainnya. Kondisi ini terutama terlihat saat berlangsung. THR memberikan dorongan langsung terhadap daya beli, terutama bagi kalangan menengah yang memiliki pola konsumsi aktif.

1. Peran THR dalam Meningkatkan Daya Beli

THR menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan konsumsi. Pencairan THR yang tepat waktu dan lancar memberikan efek langsung pada peningkatan belanja masyarakat. Kebijakan ini tidak hanya memperkuat daya beli, tapi juga mendorong roda perekonomian secara keseluruhan.

2. Kelompok Menengah Lebih Responsif terhadap Stimulus Ekonomi

Data menunjukkan bahwa kelompok menengah lebih responsif terhadap stimulus ekonomi seperti THR. Mereka cenderung menggunakan tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, baik yang esensial maupun non-esensial. Ini menjadikan mereka penggerak utama dalam menjaga momentum konsumsi nasional.

Generasi Muda Dorong Pertumbuhan Konsumsi

Selain kelas sosial, faktor usia juga turut memengaruhi pola konsumsi. Mandiri Institute mencatat bahwa generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi penggerak utama konsumsi selama Ramadan hingga Lebaran 2026. Konsumsi Gen Z tumbuh sebesar 4,4 persen, lebih tinggi dibandingkan milenial (3 persen) dan Gen X (1,4 persen).

Gen Z dikenal sebagai generasi yang lebih adaptif terhadap tren dan teknologi. Mereka juga lebih nyaman dalam berbelanja secara digital, baik melalui e-commerce maupun platform sosial media. Hal ini membuat mereka lebih aktif dalam melakukan transaksi, terutama menjelang hari raya.

3. Preferensi Konsumsi Gen Z Lebih pada Gaya Hidup

Gen Z lebih tertarik pada produk-produk yang berkaitan dengan gaya hidup. Mereka cenderung mengutamakan penampilan dan ekspresi diri melalui barang-barang yang mereka beli. Fesyen, , dan elektronik menjadi yang paling banyak diborong.

4. Pola Belanja Milenial Lebih Seimbang

Milenial memiliki pola konsumsi yang lebih seimbang antara kebutuhan esensial dan non-esensial. Mereka juga lebih sadar akan kualitas dan manfaat produk. Meski pertumbuhan konsumsi mereka tidak secepat Gen Z, milenial tetap menjadi kontributor penting dalam penguatan belanja nasional.

Sektor Non-Esensial Mendominasi Pertumbuhan Belanja

Belanja masyarakat selama Ramadan hingga Lebaran 2026 didominasi oleh sektor non-esensial. Kenaikan ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai merasa lebih percaya diri dalam melakukan konsumsi diskresioner. Berikut rinciannya:

Kategori Pertumbuhan Konsumsi
Fesyen 6,4%
Beauty Care 4,9%
Elektronik 4,7%
Kebutuhan Harian 3,1%

Pada periode Ramadan-Lebaran 2025, sektor kebutuhan harian justru menjadi yang tertinggi. Namun pada 2026, masyarakat lebih banyak mengalokasikan belanjanya untuk kebutuhan gaya hidup. Ini bisa menjadi indikator positif bahwa tingkat kepercayaan diri masyarakat terhadap kondisi ekonomi mulai membaik.

Kebijakan Pemerintah dan Dukungan Digital Jadi Penopang

Pertumbuhan konsumsi yang solid tidak terlepas dari sinergi berbagai kebijakan pemerintah dan perkembangan teknologi. Distribusi THR yang tepat waktu menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong peningkatan daya beli. Selain itu, ekosistem pembayaran digital yang semakin matang juga mempermudah masyarakat dalam bertransaksi.

Kebijakan fiskal yang terukur dan berfokus pada perlindungan daya beli masyarakat terus memberikan dampak positif. Dengan adanya dukungan ini, khususnya bagi kelompok menengah, proyeksi konsumsi domestik ke depan masih terjaga. Kelompok ini diproyeksikan akan tetap menjadi penggerak utama ekonomi nasional meski menghadapi fluktuasi global.

5. Penguatan Infrastruktur Digital

Infrastruktur digital yang semakin baik memungkinkan masyarakat untuk berbelanja kapan saja dan di mana saja. Platform e-commerce dan pembayaran digital memberikan akses yang lebih luas, terutama bagi generasi muda yang lebih familiar dengan teknologi.

6. Kebijakan Perlindungan Daya Beli

Kebijakan seperti subsidi, insentif, dan penyaluran bantuan sosial juga turut menjaga daya beli masyarakat. Terutama bagi kelompok menengah ke bawah, kebijakan ini menjadi penyangga agar tetap bisa berkonsumsi meski menghadapi tekanan ekonomi.

Proyeksi Konsumsi ke Depan

Momentum Ramadan hingga Lebaran 2026 menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan konsumsi di kuartal-kuartal berikutnya. Dengan daya beli yang terjaga dan semangat belanja yang tinggi, konsumsi domestik diproyeksikan akan terus menjadi penopang utama ekonomi nasional.

Tim Ekonom Bank Mandiri optimis bahwa pertumbuhan konsumsi akan tetap berjalan positif, terutama jika didukung oleh kebijakan yang tepat dan stabilitas makroekonomi. Kelas menengah dan generasi muda akan terus menjadi fokus utama dalam menjaga momentum ini.

Disclaimer: Data dan angka yang disajikan dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga 2026. Nilai dan kondisi ekonomi dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada faktor internal maupun yang memengaruhi perekonomian nasional.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.