Dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah memang sering kali menjadi sorotan, terutama dalam konteks investasi dan keuangan. Namun, bagi PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF), gejolak tersebut belum berdampak signifikan pada bisnis pembiayaan syariah, khususnya di segmen pembiayaan haji. Perusahaan tetap optimistis dengan pertumbuhan produk ini, meski tengah berada di tengah ketidakpastian global.
Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, menyampaikan bahwa pembiayaan syariah saat ini masih fokus pada kebutuhan ibadah haji, belum merambah ke umrah. Ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi produk yang mulai dikembangkan sejak akhir 2025. Menurutnya, potensi pasar pembiayaan haji masih sangat luas, dan CNAF pun berkomitmen untuk terus mengeksplorasi peluang tersebut.
Prospek Pembiayaan Haji yang Tetap Menjanjikan
Meski baru, pembiayaan haji dari CNAF mulai menunjukkan sinyal positif. Dengan basis nasabah yang terus bertambah dan minat masyarakat terhadap solusi syariah yang semakin tinggi, produk ini berpotensi menjadi salah satu pilar bisnis baru perusahaan. Apalagi, saat ini pembiayaan syariah sudah menyumbang 31% dari total portofolio pembiayaan CNAF, atau sebesar Rp 2,88 triliun di tahun 2025.
1. Fokus pada Produk Haji Saja
Untuk saat ini, CNAF belum melebarkan sayap ke pembiayaan umrah. Strategi ini diambil untuk memastikan bahwa produk haji bisa dikembangkan secara maksimal, baik dari segi kualitas layanan maupun penetrasi pasar. Dengan begitu, perusahaan bisa membangun brand yang kuat di segmen syariah sebelum memperluas ke produk lain.
2. Kolaborasi dengan Biro Perjalanan dan Komunitas
Salah satu langkah strategis yang diambil adalah menjalin kerja sama dengan biro perjalanan haji serta komunitas lokal. Tujuannya untuk memperluas distribusi dan mempermudah akses masyarakat terhadap produk pembiayaan. Ini juga menjadi cara efektif untuk meningkatkan kepercayaan, karena mitra lokal bisa memberikan edukasi langsung kepada calon nasabah.
3. Target Pertumbuhan Portofolio Syariah di 2026
CNAF menargetkan pembiayaan syariah mencapai Rp 3,74 triliun di tahun 2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya. Target ini sejalan dengan rencana perusahaan untuk menyalurkan total pembiayaan baru sebesar Rp 9,6 triliun di tahun yang sama.
Kinerja Keuangan dan Strategi Bisnis CNAF
Dalam menjalankan strategi bisnisnya, CNAF tidak hanya mengandalkan produk syariah. Perusahaan juga terus mengembangkan portofolio pembiayaan konvensional, termasuk pembiayaan kendaraan dan multiguna. Sepanjang 2025, CNAF telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 7,9 triliun, dengan komponen multiguna menyumbang Rp 7,58 triliun.
1. Peningkatan Kolaborasi dengan APM dan Dealer
Untuk meningkatkan volume pembiayaan, CNAF terus memperkuat kerja sama dengan Agen Pembiayaan Mandiri (APM) dan dealer kendaraan. Langkah ini diambil agar proses pengajuan dan pencairan dana bisa lebih cepat dan efisien. Selain itu, kolaborasi ini juga membantu perusahaan menjangkau lebih banyak calon nasabah di berbagai wilayah.
2. Pengembangan Produk yang Responsif terhadap Tren Pasar
CNAF tidak ingin ketinggalan dalam mengikuti tren pasar. Salah satunya adalah dengan menghadirkan produk pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern, seperti solusi syariah yang transparan dan mudah diakses. Ini menjadi nilai tambah tersendiri di tengah persaingan bisnis pembiayaan yang semakin ketat.
3. Target Pertumbuhan Piutang 3% di 2026
Perusahaan juga menargetkan pertumbuhan piutang pembiayaan sebesar 3% pada tahun 2026. Target ini realistis mengingat kondisi pasar yang mulai pulih pasca ketidakpastian ekonomi global. Dengan strategi yang tepat dan eksekusi yang baik, CNAF optimistis bisa mencapai target tersebut.
Tabel Perbandingan Portofolio Pembiayaan CNAF 2025
| Jenis Pembiayaan | Nilai (Rp) | Kontribusi terhadap Total |
|---|---|---|
| Pembiayaan Syariah | 2,88 triliun | 31% |
| Pembiayaan Multiguna | 7,58 triliun | 82% (dari total multiguna) |
| Total Pembiayaan 2025 | 7,9 triliun | 100% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung kondisi pasar serta kebijakan internal perusahaan.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Bisnis Syariah
Meski kawasan Timur Tengah tengah dilanda ketegangan, dampaknya terhadap bisnis pembiayaan haji CNAF terbilang minim. Hal ini karena mekanisme pembiayaan dilakukan secara lokal dan tidak bergantung langsung pada pihak di luar negeri. Selain itu, CNAF juga telah mempersiapkan mitigasi risiko yang cukup baik, sehingga tidak terlalu terpapar terhadap gejolak eksternal.
1. Stabilitas Produk Syariah di Tengah Gejolak Global
Produk syariah CNAF dirancang untuk memberikan kepastian dan kenyamanan bagi nasabah. Dengan struktur yang transparan serta proses yang terstandarisasi, risiko terhadap fluktuasi eksternal bisa diminimalkan. Ini menjadi salah satu alasan mengapa produk ini tetap diminati meski ada ketidakpastian global.
2. Edukasi Nasabah sebagai Penopang Utama
CNAF juga aktif melakukan edukasi ke masyarakat tentang manfaat dan cara kerja pembiayaan syariah. Dengan begitu, nasabah bisa lebih paham dan percaya diri dalam menggunakan produk ini. Edukasi ini dilakukan baik secara langsung maupun digital, agar bisa menjangkau berbagai kalangan.
Penutup
CIMB Niaga Auto Finance terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan bisnis syariah, khususnya pembiayaan haji. Meski berada di tengah gejolak global, perusahaan tetap optimistis dengan prospek pertumbuhan produk ini. Dengan strategi yang tepat dan dukungan mitra yang kuat, CNAF siap menjadikan pembiayaan syariah sebagai salah satu pilar bisnis di masa depan.
Disclaimer: Data dan target yang disebutkan dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar, regulasi, dan kebijakan internal perusahaan.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













