Entertaiment

Survey YouTuber Ungkap Banyak Gamer Abaikan Fitur Multiplayer dalam Permainan Modern

Fadhly Ramadan
×

Survey YouTuber Ungkap Banyak Gamer Abaikan Fitur Multiplayer dalam Permainan Modern

Sebarkan artikel ini
Survey YouTuber Ungkap Banyak Gamer Abaikan Fitur Multiplayer dalam Permainan Modern

Di kawasan Asia, game online ibarat yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan digital. Era warnet yang pernah menjamur di Indonesia, Filipina, hingga Korea Selatan, jadi bukti betapa kuatnya budaya bermain bersama secara daring di kawasan ini. Tapi beda cerita di barat. Di sana, gamer lebih nyaman dengan pengalaman single player yang bisa dinikmati secara tanpa harus terhubung ke internet. Model bisnisnya pun lebih ke pembelian sekali pakai, mirip seperti beli DVD film.

Belakangan, raksasa game barat mulai berbondong-bondong merilis game online mereka sendiri. Tapi sayang, ambisi itu tak selalu berbuah manis. Banyak proyek yang akhirnya tenggelam, meski sudah menguras anggaran ratusan juta . Alasannya? Bukan karena kualitas permainan yang buruk, tapi karena gamer mulai bosan. Terlalu banyak pilihan, terlalu banyak paksaan, dan terlalu banyak monetisasi yang mengganggu.

Survey Ini Tunjukkan Sikap Gamer Barat terhadap Multiplayer

Salah satu YouTuber bernama FaulesGaming, yang punya lebih dari 200 ribu subscriber, sempat melakukan survei menarik lewat polling di channel-nya. Tujuannya sederhana: mencari tahu elemen apa saja dalam game yang mulai tidak dipedulikan gamer seiring waktu. Hasilnya cukup mengejutkan, terutama bagi pengembang yang terlalu bergantung pada multiplayer dan live service.

Dari total 1 juta responden yang terkumpul saat ini, 56% menyatakan bahwa mereka tidak lagi peduli dengan game multiplayer. Artinya, lebih dari separuh gamer barat tidak lagi memprioritaskan fitur bermain bersama secara online. Padahal, ini adalah salah satu pilar utama dalam strategi bisnis game modern saat ini.

1. Multiplayer Jadi Elemen yang Paling Banyak Diabaikan

Hasil survei ini menunjukkan bahwa multiplayer jadi elemen paling banyak diabaikan oleh gamer barat. Bukan karena mereka tidak suka bermain bersama teman, tapi karena banyak game online yang terlalu memaksakan sistem live service. Banyak dari mereka merasa diubah jadi lebih monetisasi, bukan lebih menyenangkan.

2. Grafis Masih Penting, Tapi Tidak Sepenting Dulu

Grafis menempati posisi kedua dengan 29% suara. Ini menunjukkan bahwa walaupun visual tetap jadi pertimbangan, gamer kini tidak lagi terlalu terpaku pada kualitas grafis yang ekstrem. Mereka lebih fokus pada kenyamanan bermain dan pengalaman yang menyenangkan, bukan sekadar tampilan yang memukau.

3. Monetisasi Agresif Jadi Penyebab Utama Kebosanan

Bukan cuma multiplayer, praktik monetisasi agresif juga jadi utama mengapa gamer mulai menjauhi game online. Banyak game yang terasa seperti "pay-to-win" atau terlalu banyak menawarkan konten berbayar yang mengganggu gameplay. Ini yang membuat banyak gamer merasa pengalaman bermain mereka tidak lagi murni.

4. Live Service yang Dipaksakan Bikin Jenuh

Live service yang seharusnya memberi konten segar secara berkala, malah sering kali terasa seperti strategi untuk terus menarik uang dari pemain. Banyak gamer mengeluh karena update yang tidak bermakna, event yang terlalu sering, dan sistem progres yang terlalu lambat tanpa pembelian tambahan.

5. Kualitas Cerita dan Gameplay Lebih Diutamakan

Gamer kini lebih memilih game dengan cerita mendalam dan gameplay yang solid, meski hanya bisa dimainkan sendiri. Ini menjelaskan mengapa game single player seperti The Last of Us, Elden Ring, dan Hades tetap populer meski tidak menawarkan mode multiplayer.

Perbandingan Minat Gamer terhadap Elemen Game

Berikut adalah rincian hasil survei FaulesGaming terkait elemen mana saja yang mulai tidak dipedulikan gamer:

Elemen Game Persentase (%)
Multiplayer 56%
Grafis 29%
Monetisasi Game 7%
Live Service 5%
Lainnya %

Catatan: Data diambil dari polling FaulesGaming dengan responden lebih dari 1 juta orang. Hasil bisa berubah seiring waktu.

Kenapa Gamer Barat Lebih Pilih Single Player?

Gaya hidup dan budaya gaming di barat memang berbeda. Gamer di sana lebih menghargai pengalaman yang utuh dan personal. Mereka tidak ingin dibebani dengan update terus-menerus atau sistem monetisasi yang mengganggu. Game single player memberi kontrol penuh kepada pemain, tanpa campur tangan developer yang berlebihan.

Tips untuk Developer yang Masih Fokus ke Multiplayer

  1. Jangan Paksa Live Service
    Jika ingin tetap menggunakan live service, pastikan itu menambah nilai permainan, bukan malah mengurangi.

  2. Kurangi Monetisasi Agresif
    Terlalu banyak penawaran berbayar bisa membuat gamer merasa tidak dihargai.

  3. Berikan Konten yang Bermanfaat
    Update yang hanya mengisi waktu, tanpa memberi pengalaman baru, hanya akan mempercepat kebosanan.

  4. Dengarkan Suara Pemain
    Survei seperti yang dilakukan FaulesGaming bisa jadi cerminan nyata apa yang diinginkan gamer.

  5. Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas
    Lebih baik rilis konten berkualitas setahun sekali daripada update setiap minggu tapi isinya asal-asalan.

Disclaimer

Data dalam artikel ini bersumber dari polling FaulesGaming yang diambil dari lebih dari 1 juta responden. Hasil survei bersifat dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu tergantung baru dari komunitas. Angka yang disebutkan bersifat estimasi dan tidak mewakili seluruh gamer global, melainkan mayoritas dari wilayah barat.

Penutup

Minat gamer terhadap multiplayer memang sedang menurun, terutama di pasar barat. Ini bukan berarti multiplayer tidak lagi, tapi lebih ke bagaimana game tersebut dikemas dan dijual. Jika terlalu memaksakan sistem online dan monetisasi, gamer akan langsung "nggak tertarik". Untuk developer yang ingin bertahan, mungkin saatnya mulai lebih banyak dan mengurangi paksaan yang hanya merugikan pengalaman bermain.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.