Di tengah suasana menjelang berbuka puasa, Pemerintah Kota Palu menggelar acara silaturahmi bersama para Ketua RT dan RW dari Kecamatan Palu Barat dan Tawaeli. Acara yang digelar di Rumah Jabatan Wali Kota Palu ini bukan sekadar ajang berbuka bersama, tapi juga ruang diskusi untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun wilayah.
Hadir sebagai narasumber utama, Wali Kota Palu, H. Hadianto Rasyid, memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan visi baru dalam pembangunan kota. Ia menegaskan bahwa langkah-langkah strategis harus segera diambil agar percepatan pembangunan bisa dirasakan masyarakat dalam waktu dekat.
Sinergi Lokal Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Momen buka puasa bersama ini menjadi sarana penting untuk menjalin hubungan erat antara pemerintah dan tokoh masyarakat. Dalam konteks ini, Ketua RT dan RW bukan hanya sebagai penghubung antara pemerintah dan warga, tapi juga mitra strategis dalam pelaksanaan program daerah.
1. Perubahan Strategi Pembangunan Wilayah
Salah satu poin penting yang disampaikan Hadianto Rasyid adalah perlunya perubahan strategi pembangunan. Selama ini, fokus pembangunan cenderung hanya pada infrastruktur fisik. Padahal, pembangunan yang berkelanjutan harus mencakup berbagai sektor, termasuk ekonomi, sosial, dan partisipasi masyarakat.
Pemerintah kini mulai beralih ke pendekatan yang lebih holistik. Ini berarti setiap program tidak hanya dibangun dari atas ke bawah, tapi juga melibatkan masukan dari bawah, terutama dari tokoh masyarakat setempat.
2. Efisiensi Anggaran dan Adaptasi Cepat
Kondisi anggaran yang terbatas membuat Pemkot Palu harus lebih selektif dalam menentukan prioritas. Efisiensi ini bukan berarti mengurangi kualitas program, tapi justru menjadi tantangan untuk berinovasi dan bekerja lebih cerdas.
Strategi ini membutuhkan sinergi yang kuat antara OPD, camat, lurah, hingga Ketua RT dan RW. Kolaborasi ini penting agar setiap program bisa tepat sasaran dan memberi dampak nyata.
3. Target Capaian Pembangunan Jangka Menengah
Wali Kota Palu optimistis target pembangunan besar bisa selesai menjelang akhir masa jabatannya. Fokusnya bukan hanya pada fisik bangunan, tapi juga pada bagaimana proyek-proyek tersebut bisa mendorong laju pertumbuhan ekonomi daerah.
Perkiraan pencapaian hasil optimal ditargetkan mulai terlihat pada tahun 2028, dan akan semakin terasa pada 2029. Ini merupakan periode penting untuk menunjukkan bahwa perubahan yang dilakukan selama ini bukan sekadar retorika.
Peran Ketua RT/RW dalam Ekosistem Pembangunan
Tokoh masyarakat, khususnya Ketua RT dan RW, memiliki peran sentral dalam proses pembangunan. Mereka adalah ujung tombak dalam penyaluran informasi, pelaksanaan program, dan pengawasan di lapangan.
1. Mitra Terdepan dalam Implementasi Program
Sebagai ujung pemerintahan, Ketua RT dan RW sering kali menjadi yang pertama tahu kebutuhan masyarakat. Mereka juga yang paling tahu kondisi riil di lapangan, seperti jalan rusak, fasilitas umum yang kurang, atau potensi ekonomi lokal yang belum tersentuh.
Oleh karena itu, mereka sangat strategis dalam membantu pemerintah merancang program yang relevan dan responsif terhadap kebutuhan warga.
2. Penggerak Partisipasi Masyarakat
Selain itu, Ketua RT dan RW juga punya peran penting dalam mendorong partisipasi warga dalam pembangunan. Misalnya, dalam program gotong royong, kebersihan lingkungan, atau pengelolaan sampah.
Partisipasi aktif masyarakat akan membuat program pemerintah lebih mudah dijalankan dan hasilnya lebih berkelanjutan.
3. Penjaga Stabilitas Sosial
Dalam konteks sosial, Ketua RT dan RW juga berfungsi sebagai penjaga stabilitas. Mereka membantu menyelesaikan konflik kecil sebelum membesar, menjaga keamanan lingkungan, dan memastikan solidaritas antarwarga tetap terjaga.
Inspirasi dari Singapura: Transformasi Dimulai dari Level Dasar
Dalam arahannya, Hadianto Rasyid sempat membandingkan Kota Palu dengan Singapura di era 1970-an. Saat itu, Singapura juga menghadapi berbagai keterbatasan, baik secara geografis maupun ekonomi. Namun, melalui pendekatan yang tepat dan dukungan dari masyarakat, Singapura berhasil melakukan transformasi luar biasa.
| Aspek | Kota Palu (Saat Ini) | Singapura (Era 1970-an) |
|---|---|---|
| Luas Wilayah | Terbatas, sebagian rawan bencana | Sangat kecil, pulau terpencil |
| Ekonomi | Bergantung pada sektor tertentu | Masih berkembang, terbatas sumber daya |
| Infrastruktur | Dalam tahap pemulihan pasca-bencana | Belum berkembang pesat |
| Potensi Lokal | Belum maksimal dimanfaatkan | SDA terbatas |
Perbandingan ini bukan untuk menyamakan kondisi, tapi sebagai inspirasi bahwa perubahan besar bisa dimulai dari level dasar. Dan salah satu kunci suksesnya adalah kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat lokal.
Langkah Nyata yang Harus Diambil
Untuk mewujudkan visi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, beberapa langkah konkret perlu segera diambil. Langkah-langkah ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga harus didukung oleh seluruh elemen masyarakat.
1. Identifikasi Potensi Lokal Secara Spesifik
Setiap kelurahan dan lingkungan memiliki potensi unik yang bisa dikembangkan. Mulai dari potensi ekonomi kreatif, pertanian perkotaan, hingga destinasi wisata lokal. Pemerintah bersama RT/RW perlu melakukan pemetaan bersama untuk mengidentifikasi potensi ini.
2. Peningkatan Kapasitas Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan agar bisa menjadi agen perubahan yang efektif. Pelatihan manajemen, kepemimpinan, dan pengelolaan program kecil bisa menjadi awal yang baik.
3. Penyusunan Roadmap Bersama
Roadmap atau peta jalan pembangunan perlu disusun secara kolaboratif. Ini mencakup tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang, serta indikator keberhasilan yang jelas. Dokumen ini akan menjadi panduan bersama dalam pelaksanaan program.
Kesimpulan
Silaturahmi melalui buka puasa bersama ini bukan hanya soal makan bersama, tapi juga tentang membangun komitmen bersama menuju masa depan Kota Palu yang lebih baik. Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah dan tokoh masyarakat, langkah-langkah strategis bisa lebih cepat diimplementasikan dan dampaknya bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat sesuai dengan kondisi dan pernyataan resmi pada tanggal pelaksanaan acara, 11 Maret 2026. Data dan rencana kebijakan bisa berubah seiring dinamika situasi dan kebutuhan aktual di lapangan.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













