Edukasi

Rencana Swasembada Gula 2026 Dipercepat, Mentan Amran Beberkan Kerugian Akibat Rembesan Rafinasi yang Menjurus pada Krisis Harga Komoditas Petani

Danang Ismail
×

Rencana Swasembada Gula 2026 Dipercepat, Mentan Amran Beberkan Kerugian Akibat Rembesan Rafinasi yang Menjurus pada Krisis Harga Komoditas Petani

Sebarkan artikel ini
Rencana Swasembada Gula 2026 Dipercepat, Mentan Amran Beberkan Kerugian Akibat Rembesan Rafinasi yang Menjurus pada Krisis Harga Komoditas Petani

Persoalan gula di Tanah Air akhirnya mulai mendapat perhatian serius dari pemerintah. Setelah bertahun-tahun terasa stagnan, kini langkah-langkah konkret mulai diambil untuk memperbaiki rantai produksi dari hulu hingga hilir. Menteri Andi Amran Sulaiman membongkar sejumlah masalah lama yang selama ini menyebabkan ketergantungan impor dan rendahnya produktivitas. Salah satunya adalah sistem penanaman tebu yang masih menggunakan metode ratun—teknik lama yang justru menurunkan hasil panen.

Langkah pertama yang diambil adalah program bongkar ratun. Metode ini menargetkan peremajaan lahan tebu yang sudah tidak produktif. Dari total sekitar 500.000 hektare lahan tebu nasional, lebih dari 300.000 hektare di antaranya sudah memasuki masa tanam tua. Evaluasi menunjukkan bahwa sekitar 70 hingga 80 persen tanaman tebu sudah tidak layak lagi untuk produksi. Akibatnya, produktivitas menurun dan petani pun terpuruk karena hasil panen yang minim.

Program bongkar ratun ini didukung dengan anggaran sebesar Rp1,7 triliun. Tujuannya jelas: meremajakan 100.000 hektare lahan per tahun selama tiga tahun berturut-turut. Harapannya, produktivitas bisa meningkat dan kesejahteraan petani juga ikut membaik.

Strategi Jitu Pemerintah dalam Membenahi Sektor Gula

Untuk mengatasi masalah gula secara menyeluruh, pemerintah tidak hanya fokus pada sektor produksi. Ada tiga strategi utama yang diungkapkan oleh Mentan Amran untuk memperkuat rantai gula nasional. Ketiganya dirancang untuk saling melengkapi dan memberikan dampak jangka panjang.

1. Bongkar Sistem Ratun yang Merugikan Petani

Sistem ratun yang selama ini digunakan oleh banyak petani justru menjadi penyebab utama rendahnya produktivitas. Dalam metode ini, petani menanam tebu menggunakan bibit dari sisa panen lama yang dibiarkan tumbuh tunas. Hasilnya, tanaman menjadi kurang sehat dan produktivitas menurun drastis.

Program bongkar ratun bertujuan mengganti metode ini dengan penanaman bibit unggul yang lebih produktif dan tahan hama. Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan hasil panen hingga 30 persen dalam beberapa musim tanam ke depan.

2. Pengendalian Impor Melalui Kebijakan Lartas

Impor gula selama ini menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, ketergantungan ini justru merugikan petani lokal. Untuk itu, pemerintah mulai menerapkan Lartas (Larangan dan Pembatasan) terhadap impor gula.

Tujuannya adalah melindungi industri dalam negeri agar bisa tumbuh dan bersaing. Dengan mengurangi volume impor, diharapkan harga gula lokal bisa dan petani pun mendapat jaminan pasar yang lebih baik.

3. Revitalisasi Industri Gula

Langkah ketiga adalah revitalisasi pabrik gula yang sebagian besar kondisinya sudah memprihatinkan. Banyak pabrik gula di Indonesia masih menggunakan teknologi lama, sehingga produksi rendah dan kualitas gula pun terpengaruh.

Revitalisasi ini mencakup pembaruan mesin, , hingga peningkatan kualitas hasil akhir. Dengan begitu, gula lokal bisa bersaing dengan produk impor, baik dari segi harga maupun kualitas.

Dampak Jangka Panjang dari Perubahan Ini

Perubahan besar dalam sektor gula tidak bisa terjadi dalam semalam. Namun, langkah-langkah yang diambil pemerintah saat ini menunjukkan komitmen serius untuk memperbaiki sistem yang sudah terlanjur rusak. Dari sisi petani, program bongkar ratun bisa menjadi awal dari pemulihan kesejahteraan mereka.

Dari sisi konsumen, pengendalian impor dan revitalisasi industri diharapkan bisa menekan harga gula di pasaran. Jika berhasil, ini juga akan berdampak pada lainnya yang menggunakan gula sebagai bahan baku.

Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski langkah-langkah tersebut terdengar logis, tetap saja ada sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai. Pertama, adopsi teknologi baru oleh petani masih menjadi kendala. Banyak petani yang belum siap beralih dari sistem lama ke sistem baru karena keterbatasan pengetahuan dan modal.

Kedua, anggaran yang disediakan meski besar, tetap perlu pengawasan ketat agar tidak terjadi pemborosan atau penyalahgunaan . Ketiga, koordinasi antar instansi harus berjalan lancar agar program bisa berjalan optimal.

Penyebab Produktivitas Rendah Gula Nasional

Produktivitas rendah gula di Indonesia bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor utama yang selama ini menjadi penghambat produksi gula nasional.

1. Penggunaan Bibit Tua dan Tidak Unggul

Sebagaimana telah disebutkan, sekitar 70 hingga 80 persen tanaman tebu di Indonesia sudah tidak produktif. Bibit tua ini tidak hanya menghasilkan panen yang sedikit, tetapi juga rentan terhadap hama dan penyakit.

2. Teknologi Produksi yang Ketinggalan Zaman

Banyak pabrik gula di Indonesia masih menggunakan teknologi lama. Efisiensi produksi rendah dan kualitas gula pun terpengaruh. Hal ini membuat produk lokal sulit bersaing dengan gula impor.

3. Kurangnya Dukungan Infrastruktur

Infrastruktur pendukung seperti ke perkebunan dan sistem irigasi masih kurang memadai. Akibatnya, distribusi hasil panen menjadi terhambat dan biaya produksi pun meningkat.

Langkah-Langkah yang Bisa Dilakukan Petani

Selain menunggu program pemerintah, petani juga bisa mulai mengambil langkah mandiri untuk meningkatkan hasil panen.

1. Beralih ke Bibit Unggul

Petani disarankan untuk mulai menggunakan bibit unggul yang lebih produktif dan tahan hama. Bantuan penyuluhan dari pemerintah bisa dimanfaatkan untuk memahami cara penanaman yang benar.

2. Ikuti Program Bantuan Pemerintah

Program bongkar ratun memberikan dukungan biaya dan teknologi. Petani yang ingin ikut sebaiknya segera mendaftar dan mempersiapkan lahan agar bisa langsung dilibatkan.

3. Tingkatkan Literasi Pertanian

Dengan mengikuti pelatihan dan penyuluhan dari Dinas Pertanian setempat, petani bisa memperoleh pengetahuan baru tentang teknik bercocok tanam yang lebih efisien dan modern.

Perbandingan Produktivitas Sebelum dan Sesudah Perbaikan

Faktor Sebelum Perbaikan Setelah Perbaikan
Produktivitas Tebu per Hektare 60 ton 80 ton
Kualitas Gula Rendah Meningkat
Ketergantungan Impor Tinggi Menurun
Pendapatan Petani Stagnan Meningkat

Catatan: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung implementasi di lapangan.

Kesimpulan

Perubahan besar dalam sektor gula nasional memang tidak bisa terjadi dalam waktu singkat. Namun, langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah saat ini menunjukkan komitmen untuk memperbaiki sistem yang sudah terlanjur rusak. Dengan bantuan teknologi, peningkatan infrastruktur, dan dukungan kebijakan yang tepat, sektor gula Indonesia bisa bangkit dan menjadi andalan ekonomi nasional.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kebijakan dan kondisi lapangan.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.