Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas. Kawasan yang menjadi jalur kritis bagi perdagangan minyak global itu kini menjadi sorotan setelah ancaman terhadap kapal-kapal komersial semakin intens. Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa masa depan NATO bisa berujung buruk jika negara-negara sekutu tidak turut membantu membuka kembali jalur tersebut.
Dalam wawancara yang dirilis pada 15 Maret 2026 dan dilaporkan oleh Financial Times, Trump menegaskan bahwa ketergantungan Eropa dan China terhadap pasokan minyak dari Teluk Persia seharusnya membuat mereka turut bertanggung jawab. Amerika Serikat, kata Trump, tidak lagi bergantung pada jalur ini, sehingga tanggung jawab seharusnya beralih ke negara-negara yang masih sangat mengandalkannya.
Ancaman di Selat Hormuz dan Dampaknya
Selat Hormuz adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Sekitar 20 persen minyak global melewati selat sempit ini setiap harinya. Ketika Iran mulai mengancam kapal-kapal yang melintas, efeknya langsung terasa di pasar minyak global.
Harga minyak yang sebelumnya stabil di sekitar 65 dolar AS per barel langsung melonjak ke atas 100 dolar AS per barel. Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan inflasi global dan mengganggu rantai pasok energi di berbagai belahan dunia.
1. Posisi Strategis Selat Hormuz
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Letaknya yang strategis menjadikannya jalur vital bagi ekspor minyak dari negara-negara seperti Iran, Irak, Kuwait, dan Arab Saudi. Setiap gangguan di kawasan ini bisa mengganggu pasokan energi global.
2. Ancaman Iran dan Reaksi Global
Iran mengumumkan akan menargetkan kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz sebagai bentuk protes terhadap sanksi internasional. Langkah ini memicu ketidakpastian besar di kawasan dan menghentikan sebagian besar lalu lintas pelayaran.
3. Lonjakan Harga Minyak Global
Sebagai dampak langsung dari ketegangan ini, harga minyak dunia melonjak drastis. Ini berdampak pada biaya energi di berbagai negara, terutama yang masih sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Teluk Persia.
Pernyataan Trump dan Pandangan Terhadap Sekutu
Trump menyatakan bahwa negara-negara yang paling diuntungkan dari jalur pelayaran tersebut seharusnya ikut menjaga keamanannya. Ia menilai bahwa jika sekutu tidak merespons secara serius, maka aliansi NATO bisa terancam.
1. Tanggung Jawab Sekutu NATO
Menurut Trump, Eropa dan China adalah pihak yang paling diuntungkan dari keamanan jalur Selat Hormuz. Namun, mereka dianggap belum cukup membantu dalam menjaga stabilitas kawasan. Ia menilai ini sebagai bentuk ketidakseimbangan tanggung jawab.
2. Ancaman Terhadap Masa Depan NATO
Trump memperingatkan bahwa jika tidak ada respons yang memadai dari sekutu AS, maka NATO bisa kehilangan relevansinya. Ia menilai aliansi ini harus didasari oleh saling bantu-membantu, bukan hanya manfaat sepihak.
3. Pertimbangan untuk Tunda Pertemuan dengan Xi Jinping
Trump juga disebut mempertimbangkan untuk menunda pertemuan dengan Presiden China, Xi Jinping. Langkah ini dianggap sebagai cara untuk menekan Beijing agar turut membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Perbandingan Ketergantungan Energi Global
Negara atau kawasan yang masih sangat bergantung pada impor minyak dari Teluk Persia akan merasakan dampak lebih besar dari gangguan di Selat Hormuz. Berikut adalah perbandingan ketergantungan energi beberapa negara besar:
| Negara/Kawasan | Ketergantungan pada Impor Minyak dari Teluk Persia | Dampak Lonjakan Harga Minyak |
|---|---|---|
| Eropa | Tinggi | Inflasi energi meningkat |
| China | Tinggi | Gangguan rantai pasok |
| Jepang | Sedang | Kenaikan biaya energi |
| Amerika Serikat | Rendah | Dampak minimal |
| India | Tinggi | Defisit anggaran meningkat |
Dampak Jangka Panjang bagi Ekonomi Global
Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor ekonomi global. Negara-negara yang bergantung tinggi pada impor minyak akan menghadapi tekanan pada anggaran dan inflasi yang tinggi.
1. Inflasi Energi Global
Lonjakan harga minyak berdampak langsung pada biaya produksi barang dan jasa. Ini bisa memicu inflasi di berbagai negara, terutama yang tidak memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar.
2. Gangguan Rantai Pasok
Banyak industri yang bergantung pada energi murah dari kawasan Teluk Persia. Gangguan pasokan bisa menghambat produksi dan distribusi barang secara global.
3. Perubahan Kebijakan Energi
Negara-negara mungkin terpaksa mempercepat transisi ke energi terbarukan atau mencari sumber energi alternatif. Ini bisa memicu investasi besar-besaran di sektor energi bersih.
Langkah-Langkah yang Bisa Diambil Sekutu AS
Agar ketegangan di Selat Hormuz tidak semakin memburuk, beberapa langkah konkret bisa diambil oleh negara-negara sekutu AS. Langkah ini tidak hanya untuk menjaga stabilitas energi global, tetapi juga untuk memperkuat aliansi NATO.
1. Meningkatkan Kerja Sama Keamanan Laut
Negara-negara sekutu bisa mengirim kapal patroli atau gabungan kekuatan maritim untuk menjaga keamanan jalur pelayaran. Ini bisa menekan ancaman dari Iran dan menjaga jalur tetap terbuka.
2. Diversifikasi Pasokan Energi
Negara-negara yang terlalu bergantung pada impor minyak dari Teluk Persia perlu mempercepat diversifikasi energi. Ini termasuk mengembangkan energi terbarukan dan mencari sumber energi dari kawasan lain.
3. Tekanan Diplomatis pada Iran
Negara-negara besar bisa menggunakan jalur diplomatik untuk menekan Iran agar tidak mengganggu jalur pelayaran. Ini bisa dilakukan melalui sanksi atau dialog multilateral.
Kesimpulan
Ketegangan di Selat Hormuz bukan hanya masalah keamanan kawasan, tetapi juga ancaman terhadap stabilitas ekonomi global. Pernyataan Trump menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak akan bertindak sendirian. Sekutu yang diuntungkan dari jalur ini harus turut bertanggung jawab.
Jika tidak, konsekuensinya bisa sangat serius, termasuk melemahnya aliansi NATO. Langkah konkret dari Eropa, China, dan negara lain diperlukan untuk menjaga jalur tetap aman dan terbuka.
Disclaimer: Data dan perkembangan situasi geopolitik bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika internasional dan kebijakan negara-negara terkait.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













