Permintaan pembiayaan kendaraan listrik di Indonesia melonjak tajam pada awal 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan penyaluran mencapai 39,13% year-on-year (YoY), dengan total nilai mencapai Rp21,05 triliun pada Januari 2026. Angka ini mencerminkan semakin tingginya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik, seiring dengan kebijakan pemerintah dan peningkatan ketersediaan produk dari berbagai merek.
Peningkatan ini juga sejalan dengan tren pemulihan pasar otomotif secara umum. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, menyatakan bahwa kondisi ini menunjukkan adanya momentum positif yang bisa berlanjut sepanjang tahun. Ia memperkirakan pertumbuhan piutang pembiayaan kendaraan secara keseluruhan akan berada di kisaran 6% hingga 8% pada 2026.
Faktor-Faktor yang Mendorong Peningkatan Pembiayaan Kendaraan Listrik
1. Kebijakan Pemerintah yang Mendukung
Salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan pembiayaan kendaraan listrik adalah kebijakan pemerintah yang sangat mendukung. Mulai dari keringanan bea masuk, bebas pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), hingga penghapusan biaya balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) membuat harga mobil listrik menjadi lebih terjangkau.
2. Semakin Banyaknya Merek dan Model Kendaraan Listrik
Saat ini, lebih dari 20 merek kendaraan listrik sudah dipasarkan di Indonesia. Sebagian besar merupakan merek baru dari Tiongkok yang menawarkan berbagai model dengan harga kompetitif. Meski pangsa pasar kendaraan listrik masih sekitar 11%, kehadiran merek-merek ini memberikan pilihan lebih luas bagi konsumen.
Tantangan dalam Pembiayaan Kendaraan Listrik
Meski pertumbuhannya positif, industri pembiayaan kendaraan listrik masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketidakpastian nilai jual kembali (resale value) kendaraan listrik. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi lembaga pembiayaan dalam menetapkan suku bunga dan skema pinjaman.
3. Dominasi Merek Baru dari Tiongkok
Sebagian besar kendaraan listrik yang beredar di pasar Indonesia berasal dari produsen baru, terutama dari Tiongkok. Meskipun menawarkan harga murah berkat subsidi pemerintah, belum semua merek ini terbukti tahan lama dalam persaingan pasar. Ini menimbulkan risiko bagi konsumen dan lembaga pembiayaan terkait keberlanjutan merek tersebut.
4. Perlu Edukasi dan Literasi Keuangan Lebih Lanjut
Banyak konsumen masih belum memahami sepenuhnya bagaimana cara kerja pembiayaan kendaraan listrik, termasuk perbedaan antara leasing, cicilan, dan skema pembiayaan lainnya. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga keuangan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Data Pembiayaan Kendaraan secara Umum di Januari 2026
Selain pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik, OJK juga mencatat kondisi umum industri pembiayaan kendaraan pada Januari 2026. Berikut adalah rincian data penting yang perlu diketahui:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Total piutang pembiayaan | Rp508,27 triliun |
| Pertumbuhan YoY | 0,78% |
| Piutang bulan sebelumnya | Rp506,50 triliun |
| NPF Gross | 2,72% |
| NPF Net | 0,82% |
| Gearing Ratio | 2,11 kali |
Data di atas menunjukkan bahwa industri pembiayaan kendaraan secara umum masih dalam kondisi stabil. Meski pertumbuhan tahunan tidak terlalu tinggi, namun tetap menunjukkan tren positif yang sejalan dengan pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
Strategi untuk Meningkatkan Efisiensi Pembiayaan
5. Optimasi Potensi Wilayah dan Sektor
Agusman menyarankan agar perusahaan pembiayaan mengoptimalkan potensi di wilayah-wilayah yang memiliki prospek tinggi. Misalnya, daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan permintaan kendaraan tinggi.
6. Peningkatan Manajemen Risiko
Dengan semakin banyaknya merek baru dan model kendaraan, penting bagi lembaga pembiayaan untuk terus memperkuat manajemen risiko. Ini termasuk evaluasi terhadap kualitas aset, potensi resale value, dan reputasi merek kendaraan.
7. Kolaborasi dengan Produsen dan Dealer
Kemitraan yang kuat dengan produsen dan dealer kendaraan listrik bisa membantu lembaga pembiayaan dalam memahami karakteristik produk dan risiko yang melekat. Ini juga bisa mempercepat proses pengajuan dan pencairan pembiayaan.
Prospek Jangka Panjang
Melihat tren saat ini, pembiayaan kendaraan listrik diprediksi akan terus tumbuh seiring dengan semakin tingginya adopsi teknologi kendaraan ramah lingkungan. Namun, pertumbuhan ini harus diimbangi dengan pengelolaan risiko yang matang dan kebijakan yang konsisten dari pemerintah.
Perkembangan infrastruktur pengisian listrik juga menjadi faktor pendukung penting. Semakin banyaknya stasiun pengisian yang tersebar di berbagai wilayah akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik.
Disclaimer
Data yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi OJK dan informasi terkini hingga Maret 2026. Angka dan kondisi pasar bisa berubah seiring perkembangan kebijakan dan dinamika ekonomi nasional. Pembaca disarankan untuk selalu merujuk pada sumber resmi untuk informasi terbaru.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













