Finansial

Likuiditas Perbankan Tetap Luas, Peluang Peningkatan Kredit Semakin Terbuka Lebar

Rista Wulandari
×

Likuiditas Perbankan Tetap Luas, Peluang Peningkatan Kredit Semakin Terbuka Lebar

Sebarkan artikel ini
Likuiditas Perbankan Tetap Luas, Peluang Peningkatan Kredit Semakin Terbuka Lebar

Likuiditas perbankan di Indonesia masih berada dalam kondisi longgar sepanjang awal tahun 2026. Situasi ini memberi ruang bagi bank untuk terus mengembangkan penyaluran kredit, baik untuk kebutuhan konsumtif maupun investasi. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) secara keseluruhan berada di kisaran 84,93% per Januari 2026, turun dari 87,64% pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan LDR ini mencerminkan masih cukupnya dana yang tersedia di bank untuk mendukung ekspansi kredit. Meski begitu, dinamika likuiditas tidak sama di semua bank. Ada yang mengalami penurunan, namun sebagian lain justru mencatatkan . Perubahan ini menunjukkan bagaimana masing-masing bank menyesuaikan strategi operasionalnya menghadapi kondisi yang terus bergerak.

Dinamika LDR di Sejumlah Bank Besar

Likuiditas yang longgar memberi peluang, tapi tidak semua bank langsung memanfaatkannya secara agresif. Perubahan LDR di beberapa bank besar menunjukkan pendekatan yang berbeda dalam mengelola dana dan penyaluran kredit.

1. BNI Catatkan Penurunan LDR Tertinggi

Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan penurunan LDR paling signifikan, dari 102,65% menjadi 85,05%. Penurunan ini menunjukkan bahwa bank berhasil menghimpun lebih banyak dana atau memperlambat penyaluran kreditnya. Dengan likuiditas yang lebih sehat, BNI memiliki ruang untuk menyalurkan kredit secara lebih selektif dan terukur.

2. BCA dan Mandiri Turunkan LDR Secara Bertahap

Bank Central Asia (BCA) juga mencatatkan penurunan LDR dari 79,7% menjadi 77,44%. Bank Mandiri turun dari 93,75% menjadi 92,41%. Keduanya menunjukkan konservatisme dalam menyalurkan kredit, meski tetap menjaga kapasitas untuk ekspansi di .

3. BTN dan BRI Naikkan LDR

Berbeda dengan bank lain, Bank Tabungan Negara (BTN) justru mencatatkan kenaikan LDR dari 83,65% menjadi 94,13%. Bank Rakyat Indonesia () juga naik dari 88,92% menjadi 90,53%. Kenaikan ini menunjukkan bahwa kedua bank tersebut lebih agresif dalam menyalurkan kredit, terutama untuk segmen prioritas seperti rumah dan UMKM.

4. BSI Stabil dengan LDR Hampir Tidak Berubah

Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatatkan kenaikan tipis dari 87,3% menjadi 87,1%. Stabilitas ini menunjukkan bahwa bank tetap konsisten dalam menjaga keseimbangan antara dana yang dikumpulkan dan penyaluran kreditnya. BSI juga terus mengembangkan pembiayaan berbasis emas sebagai salah satu pilar pertumbuhan.

Strategi Bank Syariah Indonesia dalam Mengoptimalkan Likuiditas

BSI tidak hanya fokus pada stabilitas likuiditas, tapi juga terus mengembangkan inovasi dalam penyaluran pembiayaan. Salah satu fokus utama adalah pembiayaan emas yang dinilai lebih responsif terhadap dinamika ekonomi.

1. Pembiayaan Emas Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Pembiayaan emas terbukti mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan pembiayaan BSI. Produk ini dinilai lebih fleksibel dan sesuai dengan karakteristik nasabah yang membutuhkan solusi keuangan syariah berbasis komoditas.

2. Tabungan Haji Dorong Pertumbuhan Dana

Dari sisi penghimpunan dana, BSI terus mengandalkan yang mencatatkan pertumbuhan 10,03% hingga akhir tahun lalu. Jumlah nasabahnya mencapai 6,93 juta, menunjukkan bahwa produk ini menjadi magnet kuat bagi masyarakat muslim yang ingin menabung untuk ibadah.

3. Fokus pada Haji dan Umrah sebagai Keunggulan Kompetitif

Sebagai bank syariah, BSI terus memperkuat segmen haji dan umrah. Ini bukan hanya sebagai bentuk kepatuhan terhadap prinsip syariah, tapi juga sebagai yang menarik minat nasabah yang memiliki kebutuhan spesifik di bidang keuangan religius.

Likuiditas Allo Bank dan Tantangan di Tengah Ketidakpastian Global

Allo Bank mencatatkan penurunan LDR dari 134,46% menjadi 102,91%. Meski masih tinggi, penurunan ini menunjukkan bahwa bank sedang menyesuaikan diri dengan kondisi eksternal yang tidak menentu.

1. Kelebihan Likuiditas Jadi Tantangan Strategis

LDR yang tinggi bisa menjadi indikator bahwa bank memiliki lebih banyak dana daripada kredit yang disalurkan. Namun, Allo Bank mengambil langkah strategis dengan menurunkan rasio ini untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas dan efisiensi operasional.

2. Permintaan Kredit Masih Tertahan oleh Ketidakpastian

Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, menyebut bahwa permintaan kredit masih terbatas akibat ketidakpastian global. Pelaku usaha dan konsumen cenderung lebih hati-hati dalam mengambil keputusan pembiayaan.

3. Segmen Ritel dan Digital Konsumer Jadi Fokus

Meski demikian, Allo Bank tetap optimistis akan adanya pemulihan permintaan kredit secara bertahap. Fokus saat ini tertuju pada segmen dan digital konsumer yang sejalan dengan model bisnisnya.

Tabel Perbandingan LDR Beberapa Bank Awal Tahun 2026

Bank LDR Desember 2025 LDR Januari 2026 Perubahan
BNI 102,65% 85,05% -17,60%
BCA 79,70% 77,44% -2,26%
Mandiri 93,75% 92,41% -1,34%
BTN 83,65% 94,13% +10,48%
BRI 88,92% 90,53% +1,61%
BSI 87,30% 87,10% -0,20%
Allo Bank 134,46% 102,91% -31,55%

Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan publik dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Kesimpulan

Likuiditas perbankan yang masih longgar memberi peluang besar bagi ekspansi kredit di tahun 2026. Namun, pemanfaatan peluang ini tidak seragam di semua bank. Ada yang memilih konservatif, ada juga yang agresif menyalurkan kredit. Bank seperti BSI dan BTN memanfaatkan likuiditas untuk mengembangkan segmen unggulan mereka, sementara bank lain seperti Allo Bank lebih fokus pada stabilitas dan mitigasi risiko.

Dengan berbagai stimulus dan kebijakan pro kerakyatan, ekspektasi terhadap pertumbuhan kredit di tahun ini masih positif. Namun, bank perlu tetap waspada terhadap dinamika eksternal yang bisa memengaruhi permintaan kredit dan perilaku nasabah.

Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat referensial dan dapat berubah sesuai perkembangan kondisi makro ekonomi serta laporan resmi dari masing-masing bank dan otoritas terkait.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.