Investasi

LPEI Siapkan Dana Rp2 Triliun untuk Dorong Ekspor Furnitur yang Diprediksi Melonjak

Rista Wulandari
×

LPEI Siapkan Dana Rp2 Triliun untuk Dorong Ekspor Furnitur yang Diprediksi Melonjak

Sebarkan artikel ini
LPEI Siapkan Dana Rp2 Triliun untuk Dorong Ekspor Furnitur yang Diprediksi Melonjak

Industri furnitur Indonesia kembali mendapat suntikan semangat dari Lembaga Ekspor Indonesia (LPEI) yang menyalurkan dana sebesar Rp2 triliun. Angka ini bukan sekadar nominal besar, tapi menjadi salah satu pendorong agar padat karya ini bisa terus bertumbuh meski di tengah tantangan global yang tidak ringan.

Dukungan ini disambut baik oleh Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki). Ketua Umum Himki, Abdul Sobur, menyebut bahwa bantuan ini adalah bentuk komitmen nyata dari pemerintah untuk menjaga daya tahan industri dalam negeri. Apalagi, pembiayaan ini tidak hanya soal uang, tapi juga hadir dengan skema yang sangat membantu eksportir kecil hingga menengah.

Skema Pembiayaan yang Disiapkan LPEI

LPEI hadir dengan dua skema utama yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan modal kerja eksportir. Skema ini dirancang fleksibel agar bisa disesuaikan dengan alur bisnis ekspor yang biasanya memiliki tenggat waktu sebelum dan sesudah pengiriman barang.

1. Kredit Modal Kerja (KMA) Berbasis Order

Skema KMA ini memberikan kemudahan karena bisa diajukan saat pelaku usaha sudah mendapatkan kontrak dari pembeli luar negeri. Artinya, dana bisa cair saat dibutuhkan, bukan jauh-jauh hari sebelum produksi. Bunga yang ditawarkan hanya 6%, jauh lebih rendah dibandingkan bunga pasar yang berkisar antara 10% hingga 12%.

Selain itu, skema ini juga sudah mencakup asuransi gagal bayar. Ini memberikan lapisan keamanan ekstra bagi eksportir agar tidak terlalu merisikokan hanya karena ketidakpastian pembayaran dari buyer.

2. Trade Finance dengan Fasilitas Pre-shipment dan Post-shipment

Fasilitas ini sangat cocok untuk eksportir yang menghadapi buyer dengan tempo pembayaran 30 hingga 90 hari. Dengan adanya pre-shipment, pelaku usaha bisa mendanai produksi sebelum barang dikirim. Sementara post-shipment membantu menjaga arus kas setelah pengiriman dilakukan.

Dua skema ini dirancang untuk menjembatani kebutuhan likuiditas eksportir. Terutama di tengah keterbatasan akses permodalan yang selama ini kerap dialami pelaku usaha kecil dan menengah.

Dukungan Tambahan dari Kemenperin

Selain dari LPEI, Kementerian Perindustrian juga turut memberikan dukungan melalui program Kredit Padat Karya (KIPK). Program ini menawarkan subsidi bunga sekitar % untuk investasi teknologi dan mesin produksi.

1. Subsidi Bunga untuk Investasi Teknologi

Dengan plafon maksimal Rp10 miliar per perusahaan, program ini memberikan insentif bagi produsen furnitur untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk. Tujuannya jelas: agar produk lokal bisa bersaing di pasar global yang semakin ketat.

2. Modernisasi Produksi untuk Daya Saing Global

Investasi dalam teknologi produksi bukan sekadar soal efisiensi. Ini juga tentang memastikan produk Indonesia bisa memenuhi standar internasional, baik dari segi kualitas maupun desain. Dengan begitu, peluang ekspor ke pasar premium pun semakin terbuka.

Target Ekspor Furnitur Tembus US$6 Miliar

Himki punya target besar di lima tahun ke depan. Ekspor furnitur nasional ditargetkan mencapai US$6 miliar atau setara Rp90 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi ekspor tahun yang mencapai US$1,85 miliar.

1. Stabilitas Ekonomi Jadi Daya Tarik

Salah satu modal kuat yang dimiliki Indonesia adalah stabilitas ekonomi. Di tengah ketidakpastian global, kondisi ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi dan buyer asing yang ingin menjalin kerja sama jangka panjang.

2. Diversifikasi Pasar Ekspor

Meski Amerika Serikat masih menjadi pasar utama dengan kontribusi sekitar 54% hingga 58%, Himki terus berupaya membuka pasar baru. Termasuk ke negara-negara emerging market di Timur Tengah, meski situasi geopolitik di kawasan ini tetap perlu diwaspadai.

3. Potensi Penghapusan Tarif Bea Masuk ke AS

Tarif bea masuk ke AS saat ini masih berada di level 19%. Namun, ada harapan bahwa angka ini bisa turun bahkan menjadi nol. Jika terjadi, ini akan menjadi peluang besar bagi produsen furnitur Indonesia untuk meningkatkan volume ekspor.

Data Ekspor Furnitur 2024–2025

Untuk melihat tren perkembangan ekspor furnitur nasional, berikut adalah data dari Kementerian Perindustrian:

Tahun Nilai Ekspor (US$) Keterangan
2024 1,91 miliar Peningkatan dibanding 2023
2025 1,85 miliar Turun sekitar 3% dari 2024

Penurunan di tahun 2025 mencerminkan tantangan global yang sedang terjadi, termasuk perlambatan ekonomi dunia dan ketidakpastian perdagangan internasional. Namun, dengan dukungan pembiayaan dan program pemerintah, ekspektasi ke depan tetap positif.

Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski ada berbagai dukungan, industri furnitur nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah keterbatasan akses pasar, standar produk yang ketat di negara tujuan ekspor, serta ketergantungan pada impor.

Namun, dengan antara pemerintah, lembaga pembiayaan, dan pelaku industri, potensi untuk tumbuh masih sangat besar. Apalagi, permintaan furnitur berkualitas dengan sentuhan budaya lokal semakin tinggi di pasar global.

Kesimpulan

Dengan dukungan LPEI sebesar Rp2 triliun dan program KIPK dari Kemenperin, industri furnitur Indonesia punya modal kuat untuk kembali tumbuh. Target ekspor US$6 miliar dalam lima tahun ke depan bukan hal yang mustahil, asal semua elemen bisa bergerak seiring.

Namun, penting untuk diingat bahwa data dan angka yang disebutkan dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi ekonomi global dan kebijakan pemerintah.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.