Situasi geopolitik global yang semakin memanas berimbas pada tekanan terhadap saham perbankan Tanah Air. Investor asing tampak mulai menarik dana dari pasar emerging market, termasuk Indonesia, yang berujung pada koreksi harga saham bank-bank besar dalam beberapa pekan terakhir. Meski pada perdagangan Kamis (5/3/2026) sejumlah saham bank mengalami penguatan harian, secara mingguan tetap tercatat melemah.
Penguatan harian sempat terlihat pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang naik 3,27% ke level Rp 7.100. Diikuti oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 3,13% menjadi Rp 4.280, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 2,91% ke Rp 5.125, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang naik 1,63% ke Rp 3.750. Namun, secara mingguan, semua saham tersebut masih dalam tekanan.
Dinamika Saham Bank di Tengah Geopolitik Global
1. Arus Dana Asing yang Mengalir Keluar
Dalam satu minggu terakhir, net sell dari investor asing masih terus tercatat. BBCA mencatatkan net sell sebesar Rp 1,2 triliun, BBNI sebesar Rp 563,37 miliar, BBRI sebesar Rp 384,02 miliar, dan BMRI sebesar Rp 48,14 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa meski ada penguatan harian, tekanan jual dari asing masih dominan.
2. Faktor Global Lebih Berpengaruh daripada Fundamental Domestik
Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menyatakan bahwa tekanan terhadap saham bank lebih dipengaruhi oleh faktor global ketimbang kinerja internal bank-bank tersebut. Ketegangan geopolitik yang meningkat dan ketidakpastian suku bunga AS membuat investor cenderung menghindari pasar emerging market.
3. Saham Bank Jadi Target Profit Taking
Saham bank kerap menjadi pilihan utama investor saat ingin menarik dana karena likuiditasnya yang tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar. Dalam kondisi risk appetite global yang sedang turun, saham bank menjadi target profit taking.
Penyebab Tekanan pada Sektor Perbankan
1. Kinerja Sektor Perbankan yang Melambat Sejak 2025
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus, menyatakan bahwa sektor perbankan tidak lagi menjadi favorit pasar sejak 2025. Kinerja operasional yang melambat dan situasi ekonomi yang kurang kondusif menjadi penyebab utama.
2. Buyback Saham Belum Efektif Dorong Harga
Upaya buyback yang dilakukan sejumlah bank belum serta merta mampu mengangkat harga saham. Efektivitas buyback tergantung pada fundamental dan valuasi jangka panjang bank tersebut.
3. Dominasi Investor Asing dalam Likuiditas Pasar
Meski investor domestik aktif melakukan akumulasi saat asing keluar, porsi kepemilikan asing tetap besar dan berpengaruh kuat terhadap likuiditas pasar. Fluktuasi arus dana asing bakal terus memengaruhi harga saham bank dalam jangka pendek hingga menengah.
Strategi Investasi di Tengah Tekanan Global
1. Fokus pada Saham dengan Fundamental Kuat
Di tengah ketidakpastian ini, para analis menyarankan investor untuk tetap fokus pada saham bank dengan fundamental kuat dan valuasi menarik. Saham seperti BBCA, BMRI, dan BBRI tetap menjadi pilihan utama meski dalam tekanan.
2. Target Harga Saham Bank Pilihan
- BBCA: Rp 8.600 (pilihan Nico) hingga Rp 11.400 (target Abida)
- BMRI: Rp 5.920 (pilihan Andrey) hingga Rp 5.500 (target Abida)
- BBNI: Target harga Rp 4.700 (Abida)
- BBRI: Target harga Rp 4.300 (Andrey)
3. Pentingnya Manajemen Risiko
Investor juga disarankan untuk mengelola risiko dengan baik, termasuk menetapkan stop loss dan tidak terlalu agresif dalam mengambil posisi. Kondisi pasar yang tidak pasti membutuhkan strategi yang lebih konservatif.
Penutup
Saham perbankan saat ini berada di bawah tekanan geopolitik global yang membuat investor asing menarik dana. Meski kinerja operasional bank-bank besar masih solid, tekanan jual dari investor asing membatasi potensi penguatan harga saham. Investor disarankan untuk tetap waspada dan memilih saham dengan fundamental kuat serta valuasi menarik.
Disclaimer: Data dan target harga dalam artikel ini bersifat prediktif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar dan faktor eksternal lainnya.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













