Nasional

Indeks Harga Saham Gabungan Terdampak Ketegangan Konflik Amerika Serikat dan Iran

Retno Ayuningrum
×

Indeks Harga Saham Gabungan Terdampak Ketegangan Konflik Amerika Serikat dan Iran

Sebarkan artikel ini
Indeks Harga Saham Gabungan Terdampak Ketegangan Konflik Amerika Serikat dan Iran

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok di tengah ketidakpastian geopolitik global. Sentimen investor langsung tergerak setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas. Pasar saham pun ikut merasakan dampaknya, dengan IHSG yang terjun bebas ke level terendah di bawah 9.000.

Pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, IHSG ditutup melemah 218,652 poin atau sekitar 2,65 persen. Indeks yang sempat dibuka di level 8.092 ini bahkan menyentuh titik terendah di angka 8.016. Meski sempat mencoba rebound ke level 8.133, tekanan jual akhirnya memaksa IHSG menutup di zona merah. Volume perdagangan mencapai 56,605 miliar saham senilai Rp29,836 triliun, dengan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp14,370 triliun.

Sentimen Negatif dari Geopolitik Global

Investor lokal dan global langsung mengambil langkah hati-hati. Ketidakpastian terkait kemungkinan perang terbuka antara AS-Israel melawan Iran menjadi pemicu utama pelemahan pasar. mentah dunia juga ikut menyulam suasana khawatir, karena berpotensi mendorong inflasi global dan memicu kenaikan suku bunga.

Namun, di tengah tekanan negatif tersebut, saham-saham sektor energi dan pertambangan emas justru mencatatkan penguatan. Kondisi ini membantu menahan laju penurunan IHSG agar tidak semakin dalam.

1. Serangan Militer AS-Israel ke Iran

Serangan udara dan darat yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke beberapa fasilitas strategis di Iran memicu reaksi keras dari pihak Tehran. Iran mengancam akan membalas dengan serangan yang lebih besar, sehingga memicu spekulasi akan terjadinya perang terbuka di Timur Tengah.

2. Dampak pada Harga Minyak Dunia

Harga minyak mentah Brent dan WTI langsung melonjak tajam. Lonjakan ini terjadi karena pasar khawatir akan dari kawasan yang menjadi salah satu penghasil minyak terbesar di dunia. Investor pun mulai mencari aset safe haven, termasuk emas dan mata uang kuat seperti dolar AS.

3. Reaksi Pasar Saham Global

Bursa saham Asia dan Eropa juga ikut terkoreksi. Investor asing langsung melakukan aksi jual terhadap saham-saham berisiko tinggi, termasuk pasar saham Asia Tenggara. Di Indonesia, IHSG menjadi salah satu korban dari sentimen negatif tersebut.

Data Domestik Ikut Memperburuk Sentimen

Selain , data ekonomi dalam negeri juga memberikan tekanan tambahan bagi IHSG. Inflasi Indonesia pada Februari 2026 mencatatkan kenaikan 0,68 persen secara bulanan (month-to-month), setelah sebelumnya mengalami deflasi 0,15 persen di bulan Januari. Lonjakan ini terutama dipicu oleh kenaikan harga komoditas pokok menjelang Ramadan.

pun ikut naik menjadi 4,76 persen (year-on-year), tertinggi sejak Maret 2023. Lonjakan ini dipengaruhi oleh adanya diskon tarif listrik pada awal 2025 yang membuat harga tahun lalu tercatat lebih rendah.

4. Neraca Perdagangan Surplus, Tapi Menyusut

Data perdagangan luar negeri menunjukkan surplus neraca perdagangan sebesar USD0,95 miliar pada Januari 2026. Angka ini turun cukup signifikan dibandingkan surplus USD3,49 miliar yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh lonjakan impor sebesar 18,21 persen (yoy), sementara ekspor hanya tumbuh 3,39 persen.

5. Manufacturing PMI Tetap Positif

Di sisi lain, data Manufacturing PMI Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan di level 53,8 pada Februari 2026, naik dari 52,6 pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya permintaan domestik, terutama dari sektor manufaktur dan industri pengolahan.

Saham-Saham yang Terdampak

Dari total 789 saham yang diperdagangkan, hanya 108 saham yang mencatatkan penguatan. Mayoritas besar saham lainnya justru terkoreksi, dengan 671 saham melemah dan 41 saham lainnya stagnan. Saham-saham sektor energi dan pertambangan menjadi salah satu dari sedikit sektor yang mampu bertahan di atas rata-rata.

Berikut adalah rincian performa sektor berdasarkan data perdagangan:

Sektor Jumlah Saham Rata-rata Perubahan (%)
Energi 45 +1,2%
Pertambangan 38 +0,8%
Perbankan 32 -2,5%
Properti 51 -1,9%
Konsumsi 89 -1,7%
Infrastruktur 42 -2,1%

Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian

Investor jangka pendek mungkin perlu lebih waspada terhadap volatilitas yang tinggi. Sementara investor jangka panjang bisa melihat peluang di saham-saham defensive atau sektor yang relatif tahan terhadap gejolak eksternal.

6. Fokus pada Saham Defensive

Saham defensive seperti perusahaan konsumsi primer, farmasi, dan utilitas cenderung lebih stabil di tengah gejolak pasar. Saham-saham ini biasanya memiliki permintaan yang konsisten meski sedang tidak menentu.

7. Pantau Pergerakan Harga Minyak dan Emas

Karena harga minyak dan emas berpotensi menjadi safe haven, investor bisa mempertimbangkan saham-saham yang berkorelasi dengan komoditas tersebut. Namun, tetap perlu memperhatikan risiko jangka pendek akibat fluktuasi harga.

8. Jangan Panik Jual di Tengah Koreksi

pasar adalah hal yang wajar. Investor yang terlalu cepat menjual bisa kehilangan peluang pemulihan nilai investasi di masa depan. Disiplin terhadap rencana investasi menjadi kunci utama.

Kesimpulan

Konflik geopolitik antara AS-Israel dan Iran memberikan dampak langsung pada performa IHSG. Sentimen negatif ini diperparah oleh data ekonomi domestik yang mulai menunjukkan tekanan inflasi. Meski demikian, sektor tertentu seperti energi dan pertambangan masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik.

Investor perlu tetap waspada dan fleksibel dalam menyesuaikan strategi investasi. Menjaga portofolio tetap seimbang dan tidak terlalu terpapar pada sektor yang rentan gejolak eksternal menjadi langkah bijak di tengah ketidakpastian seperti ini.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. ini dibuat berdasarkan informasi hingga tanggal 2 Maret 2026 dan tidak dimaksudkan sebagai investasi.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.