Penambangan tanpa izin atau PETI kerap jadi sorotan karena dampaknya yang luas, mulai dari kerusakan lingkungan hingga risiko keselamatan. Di kawasan Pongkor, Kabupaten Bogor, isu ini tak pernah sepi. Tapi di tengah tantangan itu, muncul kisah yang lebih menggugah. Bukan soal konflik atau kerusakan, melainkan perubahan nyata yang dibawa oleh mereka yang dulunya terlibat dalam aktivitas ilegal.
Perubahan dimulai dari kesadaran diri. Banyak mantan PETI yang mulai merenung, melihat risiko besar yang selama ini diabaikan. Dari situ, lahir niat untuk mencari jalan baru, jalan yang lebih aman dan berkelanjutan. Kampung Cisangku, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, jadi salah satu contoh nyata bagaimana komunitas bisa bertransformasi dari eksploitasi alam ke pelestarian lingkungan.
Masa Lalu yang Penuh Risiko
1. Kondisi Awal: Keterpurukan dan Ketergantungan
Sebelum perubahan terjadi, kawasan Cisangku sangat rentan terhadap aktivitas ilegal. Lokasinya yang berada di kaki Taman Nasional Gunung Halimun Salak membuatnya rawan eksploitasi. Banyak warga yang terpaksa menggantungkan hidup pada penambangan liar dan penebangan hutan.
Ekonomi yang terbatas membuat pilihan itu terasa seperti satu-satunya jalan. Padahal, risikonya sangat tinggi. Tidak hanya terancam hukum, mereka juga rentan mengalami kecelakaan kerja, bahkan hingga kematian. Lingkungan pun semakin terpuruk seiring dengan semakin banyaknya area yang rusak akibat aktivitas ilegal.
2. Titik Balik: Kesadaran yang Tumbuh
Hendrik, salah satu mantan PETI, mulai menyadari bahwa aktivitas yang selama ini dilakukan tidak bisa terus-menerus berlangsung. Ia merasa khawatir dengan risiko yang semakin besar, baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Kesadaran itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya dan warga sekitar.
Langkah Menuju Perubahan
1. Membentuk Kelompok Konservasi
Hendrik bersama warga lainnya mulai membentuk Kelompok Model Kampung Konservasi Cisangku. Tujuannya jelas: mengalihkan aktivitas dari eksploitasi ke pelestarian. Langkah ini menjadi fondasi awal dalam perubahan paradigma masyarakat.
Kelompok ini tidak hanya menjadi wadah diskusi, tapi juga tempat aksi nyata. Mereka mulai belajar cara merawat lingkungan, menanam kembali pohon yang rusak, dan mengembangkan sistem pertanian yang ramah lingkungan.
2. Kolaborasi dengan PT Antam
Perubahan besar datang ketika PT Antam (Persero) Tbk UBPE Pongkor ikut serta dalam program pemberdayaan masyarakat. Melalui Program Pepeling Cisangku, masyarakat diperkenalkan pada berbagai alternatif mata pencaharian yang lebih aman dan berkelanjutan.
Program ini tidak hanya memberikan pelatihan, tapi juga sarana produksi seperti polybag, bibit tanaman, dan alat pendukung pertanian. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pupuk bokashi dan pupuk hayati mikoriza yang ramah lingkungan dan efektif meningkatkan hasil panen.
3. Mengubah Lanskap Desa
Dulu, lahan di sekitar Cisangku penuh dengan bekas tambang dan pohon tumbang. Kini, pemandangan itu berubah. Bibit-bibit tanaman tumbuh rapi dalam polybag, menunggu saat untuk dipindahkan ke lahan permanen. Aktivitas masyarakat pun berubah dari menggali menjadi menanam.
Perubahan ini tidak hanya membawa dampak lingkungan, tapi juga ekonomi. Masyarakat kini memiliki penghasilan yang lebih stabil dan aman. Tidak lagi tergantung pada aktivitas ilegal yang penuh ketidakpastian.
Dampak Perubahan di Masyarakat
1. Peningkatan Kesejahteraan
Dengan adanya program konservasi dan pengembangan pertanian, banyak warga yang merasakan peningkatan kesejahteraan. Mereka tidak hanya mendapat penghasilan dari hasil panen, tapi juga dari kegiatan edukasi yang dikembangkan di desa.
2. Eduekowisata sebagai Alternatif Ekonomi
Kawasan Cisangku kini mulai dikenal sebagai destinasi eduekowisata. Banyak pengunjung yang datang untuk belajar langsung cara konservasi dan pertanian berkelanjutan. Ini membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha pariwisata lokal.
3. Penguatan Peran Perempuan dan Pemuda
Perubahan ini juga melibatkan berbagai elemen masyarakat. Kelompok ibu-ibu aktif mengelola pupuk organik, sementara pemuda desa membantu dalam pengelolaan lahan dan kegiatan edukasi. Semua elemen saling mendukung, menciptakan sinergi yang kuat.
Kisah Lain di Wilayah Pongkor
Cisangku bukan satu-satunya desa yang berubah. Di berbagai wilayah sekitar Pongkor, kisah serupa terus bermunculan. Setiap desa memiliki warna dan pendekatan berbeda, tapi tujuan akhirnya sama: membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Beberapa desa fokus pada pengembangan pertanian organik, ada juga yang mengembangkan budidaya jamur atau tanaman obat. Semua ini menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih terbuka terhadap alternatif yang lebih aman dan produktif.
Tantangan yang Masih Ada
Meski banyak kemajuan, perjalanan menuju perubahan tidak selalu mulus. Masih ada tantangan seperti keterbatasan modal, kurangnya pengetahuan teknis, dan ketergantungan pada cuaca. Namun, dengan dukungan yang tepat, masyarakat terus belajar dan beradaptasi.
Masa Depan yang Lebih Hijau
Transformasi dari mantan PETI menjadi pionir pembangunan adalah bukti bahwa perubahan memang mungkin. Apalagi jika dilandasi niat baik dan didukung oleh kolaborasi yang solid. Di Pongkor, kisah ini terus berkembang, memberi harapan baru bagi generasi mendatang.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan di lapangan. Data dan kondisi di lapangan bisa berbeda dari yang disajikan.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













