Investasi

Bitcoin Anjlok di Bawah USD 90.000: Dampak Perang Dagang Eropa-AS dan Strategi Investor 2026

Rista Wulandari
×

Bitcoin Anjlok di Bawah USD 90.000: Dampak Perang Dagang Eropa-AS dan Strategi Investor 2026

Sebarkan artikel ini
Bitcoin Anjlok di Bawah USD 90.000: Dampak Perang Dagang Eropa-AS dan Strategi Investor 2026
Bitcoin Anjlok di Bawah USD 90.000: Dampak Perang Dagang Eropa-AS dan Strategi Investor 2026

Pernah membayangkan bangun tidur dan mendapati portofolio kripto anjlok puluhan juta dalam semalam?

Itulah yang dialami jutaan investor Bitcoin (BTC) pada minggu ketiga Januari 2026. Harga BTC terjun bebas menembus level psikologis USD 90.000, bahkan sempat menyentuh USD 87.000 level terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Dilansir dari Antaranews.com, penurunan drastis ini dipicu oleh eskalasi perang tarif antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang memanas sejak Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru.

Nah, bagi yang bertanya-tanya mengapa Bitcoin bisa anjlok sedalam ini padahal fundamental teknologinya tidak berubah, artikel ini akan mengupas tuntas kronologi kejadian, faktor pemicu, dampak ke pasar kripto global, hingga strategi investasi yang bisa diterapkan di tengah volatilitas tinggi.

Semua data dan analisis bersumber dari media kredibel serta platform trading terpercaya.

Kronologi Penurunan Harga Bitcoin Januari 2026

Bitcoin Anjlok di Bawah USD 90.000: Dampak Perang Dagang Eropa-AS dan Strategi Investor 2026

Sebelum membahas penyebab dan strategi, penting untuk memahami bagaimana perjalanan harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir. Berikut kronologi lengkapnya berdasarkan data dari berbagai sumber terpercaya.

Harga BTC Tembus di Bawah Level Psikologis USD 90.000

Tanggal 19 Januari 2026 menjadi titik balik yang mengejutkan. Harga Bitcoin yang sebelumnya stabil di kisaran USD 94.000-95.000 tiba-tiba terkoreksi tajam.

Menurut data dari Indodax, harga BTC menembus support psikologis USD 90.000 dan terus meluncur hingga menyentuh area USD 87.000. Penurunan ini terjadi hanya dalam hitungan jam, memicu kepanikan di kalangan trader ritel maupun institusi.

VP Marketing Indodax, Antony Kusuma, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa penurunan ini lebih banyak didorong faktor eksternal—bukan kelemahan fundamental ekosistem kripto itu sendiri.

Timeline Kejatuhan: Dari USD 95.000 ke USD 87.000

Berikut timeline pergerakan harga Bitcoin pada minggu ketiga Januari 2026:

Tanggal Harga BTC (USD) Keterangan
17 Januari 2026 $94. 500 – $95.000 Stabil Konsolidasi di area resistance
18 Januari 2026 $93.000 – $94.000 -1.5% Mulai tertekan, pengumuman tarif AS
19 Januari 2026 $89.000 – $92.000 -4.2% Breakdown support USD 90.000
20 Januari 2026 $87.000 – $89.500 -2.8% Menyentuh level terendah
21 Januari 2026 $88.500 – $90.000 +1.2% Mulai ada tanda rebound

Data di atas bersifat indikatif berdasarkan Indodax, Coinvestasi, dan Bittime. Harga aktual dapat bervariasi antar platform exchange.

Faktor Utama di Balik Terjun Bebasnya Bitcoin

Mengapa Bitcoin bisa anjlok sedalam ini dalam waktu singkat? Jawabannya tidak sesederhana satu faktor tunggal. Ada kombinasi tekanan geopolitik, ekonomi makro, dan dinamika pasar derivatif yang saling memperkuat.

Eskalasi Perang Tarif AS-Eropa Picu Sentimen Risk-Off

Pemicu utama adalah pengumuman kebijakan tarif baru dari Presiden Donald Trump. Berdasarkan laporan Liputan6.com, AS memberlakukan tarif 10% terhadap produk impor dari delapan negara Eropa, dengan ancaman kenaikan hingga 25% per Juni 2026 jika tidak ada kesepakatan dagang.

Kebijakan ini langsung memicu respons balasan dari Uni Eropa. Sentimen pasar global berubah menjadi “risk-off”—investor menarik dana dari aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto, lalu mengalihkannya ke aset safe haven seperti emas dan obligasi pemerintah.

Jadi, meskipun Bitcoin sering dijuluki “emas digital,” kenyataannya BTC masih bergerak mengikuti pola aset berisiko saat terjadi gejolak geopolitik besar.

Gejolak Pasar Obligasi Jepang dan Likuidasi Derivatif

Faktor kedua datang dari Asia. Pasar obligasi Jepang mengalami volatilitas tinggi akibat perubahan kebijakan moneter Bank of Japan.

Dilansir dari Warta Ekonomi, hal ini memicu arus keluar likuiditas dari aset berisiko secara global. Efek domino terasa hingga ke pasar kripto, di mana trader yang menggunakan leverage tinggi mengalami likuidasi paksa.

Data menunjukkan total likuidasi derivatif kripto mencapai USD 864 juta dalam 24 jam—mayoritas dari posisi long. Artinya, trader yang bertaruh harga naik justru terpaksa menjual rugi.

Arus Keluar Dana Institusi dari ETF Bitcoin

Institusi besar turut menarik dananya. Menurut laporan Coinvestasi, ETF Bitcoin di AS mencatat arus keluar signifikan pada minggu tersebut.

Penarikan ini memperbesar tekanan jual. Ketika institusi bergerak, volume transaksi yang besar bisa menggerakkan harga secara dramatis terutama di pasar yang sudah dalam kondisi sensitif.

Singkatnya, kombinasi ketiga faktor ini menciptakan “badai sempurna” yang menekan harga Bitcoin dalam waktu sangat singkat.

Dampak ke Seluruh Pasar Kripto Global

Penurunan Bitcoin tidak berdiri sendiri. Sebagai aset kripto terbesar dengan dominasi pasar lebih dari 50%, pergerakan BTC selalu mempengaruhi seluruh ekosistem.

Kapitalisasi Pasar Kripto Menyusut Triliunan Dolar

Total kapitalisasi pasar kripto global menyusut dari kisaran USD 3,3 triliun menjadi sekitar USD 3,13-3,22 triliun. Penurunan sekitar 2-3% ini mungkin terlihat kecil secara persentase, tapi dalam nominal mencapai puluhan miliar dolar.

Lebih dari 240. 000 trader terlikuidasi dalam satu hari, berdasarkan data dari platform analitik on-chain. Ini menunjukkan betapa brutalnya volatilitas yang terjadi.

Ethereum, Solana, dan Altcoin Ikut Terseret

Altcoin mengalami nasib lebih buruk. Berikut perbandingan penurunan harga beberapa aset kripto utama:

Aset Kripto Penurunan 24 Jam Level Terendah
Bitcoin (BTC) -5% s/d -8% USD 87.000
Ethereum (ETH) -3% s/d -5% Varies
Solana (SOL) -6% s/d -8% Varies
XRP -4% s/d -6% Varies

Data bersifat indikatif dan dapat berbeda antar exchange. Sumber: Indodax Academy, Coinvestasi.

Pola ini konsisten dengan korelasi historis ketika BTC turun, altcoin biasanya turun lebih dalam karena kapitalisasi pasar yang lebih kecil dan likuiditas yang lebih rendah.

Emas Melonjak, Bitcoin Terpuruk: Pergeseran ke Safe Haven

Fenomena menarik terjadi bersamaan dengan kejatuhan Bitcoin. Sementara BTC anjlok, harga emas justru meroket mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Mengapa Bitcoin Gagal Jadi “Emas Digital” Saat Krisis?

Narasi “Bitcoin sebagai emas digital” dan lindung nilai inflasi memang populer. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda setidaknya untuk saat ini.

Menurut analisis dari Pintu Academy, Bitcoin masih berperilaku seperti aset berisiko (risk asset) ketimbang safe haven saat terjadi krisis geopolitik. Korelasi BTC dengan teknologi Nasdaq masih tinggi.

Beberapa alasan mengapa hal ini terjadi:

  • Partisipasi institusi tinggi — Bitcoin kini banyak dimiliki hedge fund dan institusi yang mengelola portofolio multi-aset. Saat mode risk-off aktif, mereka menjual semua aset berisiko termasuk BTC.
  • Likuiditas 24/7 — Berbeda dengan pasar saham yang tutup akhir pekan, pasar kripto buka terus. Ini membuat BTC sering jadi “ATM darurat” untuk menutup call di aset lain.
  • Belum mature sebagai store of value — Usia Bitcoin baru 17 tahun, jauh lebih muda dibanding emas yang sudah ribuan tahun digunakan sebagai penyimpan nilai.

Perbandingan Pergerakan Emas vs Bitcoin Januari 2026

Indikator Emas (XAU) Bitcoin (BTC)
Pergerakan Harga Naik ke USD 4.690/ons (ATH) Turun ke USD 87.000
Respons terhadap Krisis Safe haven klasik Bergerak seperti risk asset
Arus Dana Inflow besar Outflow signifikan
Volatilitas Relatif rendah Sangat tinggi

Sumber: Pintu Academy, Nanovest Blog, Indodax Academy.

Data ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, emas masih lebih dipercaya sebagai pelindung nilai saat ketidakpastian global meningkat.

Analisis Teknikal: Level Support dan Resistance BTC 2026

Bagi trader dan investor yang ingin mengambil keputusan berbasis data, memahami level-level teknikal kunci sangat penting. Berikut analisis berdasarkan berbagai sumber termasuk Gate.io, Bittime, dan Bitget.

Support Kritis di USD 80.000-90.000

Level support adalah area harga di mana tekanan diharapkan cukup untuk menahan penurunan lebih lanjut. Untuk Bitcoin di 2026, beberapa level support kritis meliputi:

  • USD 87.000-90.000 — Support terdekat yang baru saja diuji
  • USD 83.000-85.000 — Support menengah jika level di atas ditembus
  • USD 80.000 — Support psikologis kuat
  • USD 65.000 — Support ekstrem jika terjadi crash lebih dalam (skenario terburuk)

Jika harga bertahan di atas USD 87.000-90.000, ada peluang rebound. Namun jika ditembus dengan volume besar, potensi penurunan ke USD 80.000 terbuka lebar.

Resistance Psikologis di USD 94.000-107.000

Level resistance adalah area di mana tekanan jual diperkirakan muncul dan menghambat kenaikan harga. Resistance kunci Bitcoin 2026:

  • USD 94.000-95.000 — Resistance terdekat
  • USD 100.000 — Level psikologis kuat (angka bulat)
  • USD 106.000-107.000 — Resistance teknikal signifikan
  • USD 116.000-126.000 — Area distribusi dan potensi all-time high baru
Level Harga (USD) Signifikansi
Support 1 $87.000 – $90.000 Area beli potensial terdekat
Support 2 $80.000 – $83.000 Support psikologis kuat
Support Ekstrem $60.000 – $65.000 Skenario crash terburuk
Resistance 1 $94.000 – $95.000 Resistance terdekat
Resistance 2 $100.000 – $107.000 Resistance psikologis + teknikal
Target Bullish $116.000 – $126.000 Potensi ATH baru

Level teknikal bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai kondisi pasar. Sumber: Gate. io, Bittime, Investor. id.

Strategi Investasi Bitcoin di Tengah Volatilitas Tinggi

Kondisi pasar yang volatil bisa menjadi ancaman sekaligus peluang. Kuncinya ada pada strategi dan manajemen risiko yang tepat.

Dollar-Cost Averaging (DCA) untuk Investor Jangka Panjang

Strategi DCA adalah metode investasi dengan membeli aset secara rutin dalam nominal tetap, tanpa mempedulikan naik-turun harga. Ini cocok untuk investor dengan horizon jangka panjang dan tidak ingin pusing timing the market.

Cara menerapkan DCA untuk Bitcoin:

  • Tentukan budget bulanan atau mingguan untuk investasi BTC
  • Beli secara konsisten di tanggal yang sama setiap periode
  • Abaikan fluktuasi harga jangka pendek
  • Fokus pada akumulasi jangka panjang

Keunggulan DCA adalah mengurangi risiko “beli di puncak” karena harga pembelian dirata-ratakan. Menurut data historis dari berbagai studi, DCA terbukti efektif untuk aset dengan volatilitas tinggi seperti Bitcoin.

Buy the Dip atau Cut Loss? Pertimbangan Penting

Pertanyaan klasik saat harga turun: apakah sebaiknya menambah posisi (buy the dip) atau memotong kerugian (cut loss)?

Buy the dip cocok jika:

  • Fundamental aset masih kuat
  • Penurunan harga disebabkan faktor eksternal temporer
  • Masih memiliki dana cadangan (bukan uang kebutuhan pokok)
  • Horizon (3-5 tahun ke atas)

Cut loss lebih tepat jika:

  • Sudah melebihi batas toleransi risiko
  • Membutuhkan dana untuk kebutuhan mendesak
  • Tidak yakin dengan prospek jangka panjang aset
  • Menggunakan leverage tinggi dan terancam likuidasi

Tidak ada jawaban universal—semuanya tergantung dan kondisi keuangan masing-masing investor.

Manajemen Risiko dengan Stop Loss dan Diversifikasi

Beberapa prinsip manajemen risiko yang wajib diterapkan:

  • Gunakan stop loss — Tentukan batas kerugian maksimal (misalnya 10-15% dari ) dan disiplin eksekusi
  • Hindari leverage berlebihan — Leverage memperbesar potensi profit, tapi juga risiko likuidasi
  • Diversifikasi portofolio — Jangan taruh semua dana di satu aset, seimbangkan dengan ETH, stablecoin, atau aset non-kripto
  • Sisihkan dana darurat — Pastikan kebutuhan hidup 3-6 bulan ke depan sudah aman sebelum investasi
  • Pantau berita makroekonomi — Keputusan The Fed, data inflasi, dan perkembangan geopolitik bisa mempengaruhi pasar secara signifikan

Prediksi Harga Bitcoin 2026: Bull atau Bear?

Melihat ke depan, bagaimana prospek harga Bitcoin sepanjang 2026? Para analis dan institusi memiliki pandangan yang beragam.

Proyeksi Optimis dari Analis dan Institusi

Beberapa institusi keuangan besar masih optimis dengan prospek jangka panjang Bitcoin:

  • Standard Chartered — Target harga USD 150.000-180.000 di akhir 2026
  • Bernstein — Prediksi BTC bisa mencapai USD 200.000 jika adopsi institusi terus meningkat
  • JPMorgan — Memperkirakan Bitcoin akan outperform emas dalam skenario bullish

Faktor pendukung skenario bullish:

  • Efek halving 2024 yang mengurangi suplai Bitcoin baru
  • Adopsi ETF Bitcoin spot yang terus meningkat
  • Potensi pelonggaran regulasi kripto di AS
  • Meningkatnya minat institusi dan korporasi

Skenario Bearish Jika Tensi Geopolitik Berlanjut

Di sisi lain, skenario bearish juga perlu dipertimbangkan:

  • Jika perang dagang AS-Eropa berlanjut dan meluas, sentimen risk-off bisa bertahan lama
  • Pengetatan regulasi kripto di negara-negara besar
  • Potensi resesi ekonomi global
  • Kenaikan suku bunga yang berkelanjutan

Dalam skenario terburuk, beberapa analis memperkirakan Bitcoin bisa turun ke level USD 60.000-65.000 sebelum rebound.

Skenario Target Harga 2026 Probabilitas Kondisi Pemicu
Super Bullish $150.000 – $200.000 20-25% Resolusi dagang + adopsi masif
Moderate Bullish $100.000 – $130.000 35-40% Stabilisasi geopolitik bertahap
Sideways/Netral $80.000 – $100.000 25-30% Ketidakpastian berlanjut
Bearish $60.000 – $80.000 10-15% Eskalasi krisis + resesi global

Prediksi bersifat spekulatif dan bukan merupakan saran investasi. Probabilitas berdasarkan konsensus analis dari berbagai sumber.

Kontak dan Informasi Platform Terpercaya

Bagi yang ingin memantau harga Bitcoin secara real-time atau membutuhkan informasi lebih lanjut, berikut beberapa platform dan sumber terpercaya di Indonesia:

Exchange Kripto Teregulasi Bappebti

Platform Website Customer Support
Indodax indodax.com [email protected]
Tokocrypto tokocrypto. com Live chat di aplikasi
Pintu pintu.co. id [email protected]
Rekeningku rekeningku. com [email protected]

Regulator dan Informasi Resmi

  • Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) — bappebti.go.id — Regulator resmi perdagangan aset kripto di Indonesia
  • OJK (Otoritas Jasa Keuangan) — ojk.go.id — Informasi terkait regulasi keuangan

Pastikan hanya bertransaksi di platform yang sudah terdaftar dan diawasi oleh Bappebti untuk keamanan dana dan perlindungan hukum.

Penutup

Kejatuhan harga Bitcoin di bawah USD 90.000 pada Januari 2026 memang mengejutkan banyak pihak. Namun, jika ditelaah lebih dalam, penurunan ini lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal—terutama eskalasi perang dagang AS-Eropa dan sentimen risk-off global—bukan kelemahan fundamental ekosistem kripto itu sendiri.

Bagi investor, volatilitas seperti ini adalah bagian tak terpisahkan dari dunia kripto. Yang membedakan investor sukses dan gagal adalah kemampuan mengelola risiko, tetap tenang saat pasar panik, dan memiliki strategi jelas baik untuk skenario bullish maupun bearish.

Semua informasi dalam artikel ini bersumber dari media dan platform terpercaya, namun keputusan investasi tetap sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca.

Terima kasih sudah membaca hingga akhir. Semoga artikel ini bermanfaat untuk memahami dinamika pasar dan mengambil keputusan investasi yang lebih bijak. Tetap semangat, jaga kesehatan finansial, dan semoga selalu diberikan kemudahan dalam setiap langkah.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

➕ Mengapa harga Bitcoin turun di bawah USD 90.000 pada Januari 2026?

Penurunan harga Bitcoin dipicu oleh kombinasi beberapa faktor: eskalasi perang tarif antara AS dan Uni Eropa, gejolak pasar obligasi Jepang, serta aksi jual masif dari investor institusi yang menarik dana dari ETF Bitcoin. Sentimen “risk-off” global membuat investor mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas, sehingga menekan harga BTC secara signifikan.

➕ Apakah penurunan Bitcoin ini disebabkan oleh masalah fundamental teknologinya?

Tidak. Menurut VP Indodax Antony Kusuma, penurunan harga ini lebih banyak didorong oleh faktor eksternal—terutama ketegangan geopolitik dan sentimen pasar global—bukan kelemahan fundamental ekosistem Bitcoin atau teknologi blockchain yang mendasarinya.

➕ Berapa level support dan resistance Bitcoin yang perlu dipantau di 2026?

Level support kritis berada di kisaran USD 80.000-90.000, dengan support ekstrem di USD 60.000-65.000 jika terjadi crash lebih dalam. Untuk resistance, level kunci ada di USD 94.000-95.000 (terdekat), USD 100.000 (psikologis), dan USD 106.000-107.000 (teknikal). Target bullish jangka panjang berada di area USD 116.000-126.000.

➕ Strategi apa yang cocok untuk investasi Bitcoin saat volatilitas tinggi?

Beberapa strategi yang direkomendasikan: (1) Dollar-Cost Averaging (DCA) untuk investor jangka panjang—beli rutin dalam nominal tetap tanpa mempedulikan fluktuasi harga; (2) Gunakan stop loss untuk membatasi kerugian; (3) Diversifikasi portofolio ke berbagai aset; (4) Hindari leverage berlebihan; (5) Pantau berita makroekonomi dan geopolitik yang bisa mempengaruhi pasar.

➕ Mengapa emas naik sementara Bitcoin turun saat krisis geopolitik?

Meskipun sering dijuluki “emas digital,” Bitcoin masih berperilaku seperti aset berisiko (risk asset) saat terjadi krisis geopolitik. Korelasi BTC dengan saham teknologi masih tinggi, dan banyak institusi memperlakukan Bitcoin sebagai bagian dari portofolio aset berisiko. Sementara emas sudah ribuan tahun terbukti sebagai safe haven klasik, sehingga mendapat aliran dana besar saat ketidakpastian meningkat.

➕ Apakah sekarang waktu yang tepat untuk buy the dip Bitcoin?

Keputusan ini sangat bergantung pada profil risiko dan kondisi keuangan masing-masing. Buy the dip cocok jika fundamental aset masih diyakini kuat, penurunan disebabkan faktor eksternal temporer, masih memiliki dana cadangan, dan horizon investasi jangka panjang. Sebaliknya, cut loss lebih tepat jika sudah melebihi batas toleransi risiko atau membutuhkan dana untuk kebutuhan mendesak.

➕ Bagaimana prediksi harga Bitcoin untuk sisa tahun 2026?

Prediksi bervariasi tergantung kondisi makroekonomi. Skenario bullish dari institusi seperti Standard Chartered dan Bernstein memproyeksikan target USD 150.000-200.000 jika adopsi meningkat dan tensi geopolitik mereda. Skenario moderate memperkirakan kisaran USD 100.000-130.000, sementara skenario bearish melihat potensi turun ke USD 60.000-80.000 jika krisis berlanjut. Semua prediksi bersifat spekulatif dan bukan saran investasi.

➕ Platform exchange kripto apa yang aman digunakan di Indonesia?

Pastikan menggunakan platform yang sudah terdaftar dan diawasi oleh Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi). Beberapa exchange teregulasi di Indonesia antara lain Indodax, Tokocrypto, Pintu, dan Rekeningku. Transaksi di platform teregulasi memberikan perlindungan hukum dan keamanan dana yang lebih baik.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.