Indonesia punya peluang untuk menjaga laju inflasi tetap rendah di tahun 2026. Proyeksi ini datang dari HSBC Global Investment Research yang menilai kondisi ekonomi Tanah Air masih stabil di kuartal pertama. Meski begitu, tantangan ke depan tak bisa diabaikan begitu saja. Salah satunya adalah potensi gangguan akibat krisis energi global yang bisa memicu tekanan pada harga-harga.
Salah satu faktor utama yang bakal memengaruhi jalannya inflasi adalah harga minyak dunia. Kalau harga minyak mentah bisa stabil di kisaran USD80 per barel dan mulai turun, maka tekanan inflasi bisa tertahan di bawah 3,5 persen. Itu kata Pranjul Bhandari, Ekonom HSBC, saat menyampaikan outlook ekonomi dan investasi Indonesia beberapa waktu lalu.
Inflasi Rendah, Bukan Tanpa Syarat
Menjaga inflasi tetap rendah bukan perkara otomatis. Ada beberapa syarat penting yang harus terpenuhi agar target tersebut bisa dicapai. Termasuk di dalamnya ketersediaan pasokan energi, kebijakan fiskal yang disiplin, dan dukungan dari subsidi energi pemerintah.
Pasokan energi sendiri jadi elemen krusial karena bisa memengaruhi banyak hal. Mulai dari pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, sampai kondisi neraca perdagangan dan APBN. Jadi kalau pasokan energi aman dan harga relatif stabil, dampaknya akan terasa di berbagai sektor.
1. Stabilitas Harga Minyak Dunia
Harga minyak mentah global yang berada di level USD80 per barel atau bahkan lebih rendah bisa jadi kabar baik bagi Indonesia. Pasalnya, tekanan pada biaya produksi dan distribusi barang bisa berkurang. Ini membantu menjaga harga kebutuhan pokok tetap terkendali.
Kalau tren penurunan harga minyak berlanjut, maka inflasi bisa tetap berada di bawah ambang batas BI, yaitu 3,5 persen. Namun tentu saja, ini bukan jaminan mutlak. Banyak faktor eksternal yang bisa mengganggu, termasuk gejolak geopolitik atau gangguan pasokan regional.
2. Subsidi Energi yang Terjaga
Salah satu alat yang dimiliki pemerintah untuk meredam lonjakan harga adalah subsidi energi. Dengan adanya subsidi ini, kenaikan harga BBM dan listrik bisa dikontrol. Ini sangat penting mengingat energi adalah komponen dasar dari hampir semua aktivitas ekonomi.
Subsidi energi juga membantu menjaga daya beli masyarakat tetap kuat. Saat harga energi naik, beban rumah tangga meningkat. Tapi kalau subsidi masih ada, dampaknya bisa diminimalkan. Begitu juga dengan tekanan pada inflasi secara keseluruhan.
3. Disiplin Anggaran Pemerintah
Anggaran negara juga punya andil besar dalam menjaga stabilitas makro ekonomi. Pemerintah diketahui masih memiliki cadangan dana, termasuk dari Saldo Anggaran Lebih (SAL). Dana ini bisa digunakan untuk menjaga keseimbangan fiskal agar tidak melesat.
HSBC memperkirakan bahwa batas defisit anggaran sebesar 3 persen akan tetap dipertahankan dalam jangka pendek. Artinya, pemerintah tidak akan gegabah dalam melakukan stimulus atau pengeluaran besar-besaran yang bisa memicu inflasi.
4. Penguatan Sistem Pajak Inti (Core Tax)
Sistem pajak yang efektif juga jadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan fiskal. HSBC mencatat bahwa sistem Core Tax di Indonesia semakin membaik. Ini membuka peluang penerimaan negara yang lebih besar tanpa harus mengandalkan pinjaman atau cetak uang.
Dengan basis pajak yang kuat, pemerintah bisa punya ruang gerak untuk menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi. Termasuk saat tekanan inflasi mulai muncul akibat gejolak global.
5. Ketersediaan Pasokan Energi Domestik
Tantangan energi bukan cuma soal harga. Kuantitas juga penting. Kalau pasokan energi dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan, maka risiko kelangkaan dan kenaikan harga bisa terjadi. Ini akan langsung berdampak pada biaya produksi dan distribusi barang.
Oleh karena itu, pemerintah harus memastikan bahwa pasokan energi, baik minyak, gas, maupun energi terbarukan, bisa mencukupi kebutuhan industri dan masyarakat. Termasuk juga kebutuhan pakan ternak dan bahan baku industri lainnya.
Tantangan Global yang Tak Bisa Diabaikan
Meski kondisi domestik terlihat cukup stabil, ancaman dari luar tetap mengintai. Krisis energi global, khususnya yang dipicu oleh ketegangan geopolitik seperti konflik Timur Tengah, bisa memicu volatilitas harga minyak.
Kalau harga minyak naik mendadak, maka tekanan inflasi bisa muncul dalam waktu singkat. Apalagi kalau durasinya lama, maka efek domino bisa terjadi di berbagai sektor. Ini yang membuat proyeksi HSBC tetap hati-hati.
Data Perbandingan Proyeksi Inflasi 2026
Berikut perkiraan laju inflasi berdasarkan skenario harga minyak:
| Skenario Harga Minyak | Laju Inflasi Diproyeksikan |
|---|---|
| USD70 per barel | < 3% |
| USD80 per barel | ± 3,2% |
| USD90 per barel | > 3,5% |
Catatan: Proyeksi ini belum mempertimbangkan faktor eksternal lain seperti cuaca ekstrem atau gangguan rantai pasok global.
Disclaimer
Proyeksi ini bersifat prediktif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan harga energi global, kebijakan pemerintah, dan situasi geopolitik internasional. Data yang digunakan bersumber dari analisis internal HSBC dan lembaga terkait per April 2026.
Menjaga inflasi tetap rendah bukan perkara gampang. Butuh kombinasi kebijakan yang tepat, dukungan dari subsidi energi, hingga pengelolaan fiskal yang disiplin. Tapi kalau semua elemen ini bisa dijaga, maka Indonesia punya peluang besar untuk tetap stabil meski badai global datang menghampiri.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













