Nasional

Harga Emas Global Masih Fluktuatif Meskipun Cenderung Naik di 2026

Retno Ayuningrum
×

Harga Emas Global Masih Fluktuatif Meskipun Cenderung Naik di 2026

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Global Masih Fluktuatif Meskipun Cenderung Naik di 2026

Harga sempat terkoreksi pada pertengahan April 2026, namun tetap menunjukkan tren positif dalam hitungan mingguan. Penurunan ini tidak menyurutkan minat investor yang terus memantau perkembangan geopolitik, khususnya terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Meski sempat turun, tetap menjadi sorotan karena dinilai sebagai aset aman di tengah ketidakpastian global.

Pergerakan harga emas kali ini tidak lepas dari ekspektasi adanya gencatan senjata permanen antara AS dan Iran. Investor tampaknya mulai optimistis bahwa konflik yang berlangsung sejak akhir Februari lalu bisa segera mereda. Sentimen ini turut mendorong pemulihan nilai emas setelah sempat terpukul pada lalu akibat lonjakan harga minyak dan tekanan inflasi.

Dinamika Harga Emas Dunia

Harga emas berjangka dan spot sempat mengalami tekanan pada Rabu, 15 April 2026. Namun, dalam hitungan mingguan, logam mulia ini masih berada di jalur . Pergerakan ini mencerminkan adanya perubahan selera risiko di keuangan global.

1. Harga Emas Spot dan Berjangka

Berdasarkan data dari Investing.com, harga emas spot (XAU/USD) pada Kamis, 16 April 2026, turun sekitar 1% menjadi USD 4.794,67 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka juga mengalami koreksi sebesar 0,7% ke level USD 4.817,26 per ons.

Jenis Emas Harga (USD/ons) Perubahan (%)
Emas Spot 4.794,67 -1%
Emas Berjangka 4.817,26 -0,7%

Penurunan ini terjadi setelah emas sempat menyentuh level tertinggi dalam sebulan. Meski demikian, dalam hitungan mingguan, harga emas masih lebih tinggi sekitar 1% dibanding awal pekan.

2. Pemulihan Pasca-Tekanan Inflasi

Sebelumnya, pada , harga emas sempat tertekan akibat lonjakan harga minyak mentah. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.

Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi global. Investor pun mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga. Kondisi ini umumnya tidak menguntungkan aset non-yield seperti emas.

Namun, seiring berjalannya , investor kembali melirik emas sebagai safe haven. Apalagi, dolar AS yang sempat menguat mulai mengalami koreksi seiring optimisme perdamaian.

Faktor Geopolitik yang Mendorong Pergerakan Emas

Konflik antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi harga emas. Ketegangan di kawasan Timur Tengah sering kali mendorong investor untuk mencari aset aman, salah satunya adalah emas batangan.

1. Peran Dolar AS dalam Dinamika Emas

Dolar AS sering kali menjadi pilihan utama investor saat ketegangan meningkat. Pandangan bahwa AS, sebagai pengekspor energi bersih, relatif terlindung dari gangguan pasokan minyak membuat mata uangnya tetap kuat.

Namun, seiring dengan munculnya optimisme perdamaian, dolar mulai mengalami tekanan. Hal ini membuka ruang bagi emas untuk kembali menguat.

2. Sentimen Pasar terhadap Perdamaian

Sejumlah analis memperkirakan bahwa jika harga emas mampu bertahan di atas level USD 4.800 per ons, maka tren bullish bisa kembali terbentuk. Sebaliknya, jika harga terus terkoreksi di bawah level tersebut, bisa terjadi profit taking.

David Morrison, analis senior di Trade Nation, menyatakan bahwa pergerakan emas di kisaran USD 4.800 akan menjadi indikator penting bagi arah selanjutnya.

Perkembangan Konflik AS-Iran dan Dampaknya

Presiden Donald Trump beberapa waktu lalu menyatakan bahwa konflik dengan Iran hampir berakhir. Pernyataan ini memberikan harapan bahwa gencatan senjata permanen bisa segera dicapai.

1. Negosiasi Damai di Pakistan

Putaran pertama pembicaraan antara AS dan Iran di Pakistan tidak membuahkan hasil. Namun, pihak AS menyatakan optimis bahwa pembicaraan lanjutan akan berlangsung dalam dua hari ke depan.

Kabar ini turut memengaruhi sentimen pasar. Investor mulai melihat kemungkinan de-escalation yang bisa membuka ruang bagi pemulihan ekonomi global.

2. Peran Mediator dan Tiga Titik Utama Perselisihan

Mediator internasional tengah berupaya menyelesaikan tiga poin utama yang menjadi penghambat kesepakatan damai. Ketiga poin tersebut meliputi:

  • Program nuklir Iran
  • Penutupan Selat Hormuz
  • Kompensasi atas kerugian akibat perang

Kemajuan dalam ketiga poin ini dianggap sebagai kunci tercapainya perdamaian jangka panjang.

3. Ketegangan dengan Israel dan Lebanon

Israel terus melakukan serangan terhadap target Hizbullah di Lebanon. Aksi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik bisa meluas ke negara-negara lain. Namun, pihak Israel membantah klaim bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata.

Meski begitu, upaya mediator untuk memperpanjang gencatan senjata menunjukkan adanya kemajuan. Kedua belah pihak diperkirakan akan kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat.

Blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran

Komando AS mengumumkan telah menerapkan blokade angkatan laut penuh terhadap Iran. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menekan Teheran agar segera mencapai kesepakatan damai.

Blokade ini membatasi lalu lintas kapal pengangkut minyak dan barang masuk serta keluar Iran. Langkah ini berpotensi memperburuk kondisi ekonomi Iran, namun juga bisa memicu respons yang tidak terduga dari Teheran.

Kesimpulan

meski sempat turun, tetap menunjukkan tren positif dalam hitungan mingguan. Dinamika ini dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, khususnya terkait konflik AS-Iran. Investor terus memantau setiap perkembangan, terutama terkait kemungkinan gencatan senjata permanen.

Sentimen positif dari pihak AS dan optimisme pasar terhadap perdamaian memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat. Namun, ketegangan yang masih tinggi dan potensi eskalasi konflik tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Disclaimer: Data dan informasi dalam ini bersifat estimasi berdasarkan perkembangan terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung situasi global.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.