Pertumbuhan sektor pembiayaan di Tanah Air pada Februari 2026 tercatat masih berjalan positif meski tipis. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan utang pembiayaan sebesar 1,01% secara tahunan, naik dari Rp507,04 triliun menjadi Rp512,14 triliun. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya 0,78% YoY.
Meski begitu, sektor yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ini adalah pembiayaan modal kerja yang naik hingga 8,31% YoY. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan masih butuh likuiditas untuk menjalankan operasional usaha mereka. Di sisi lain, OJK juga mencatat bahwa risiko kredit tetap terkendali dengan rasio NPF gross sebesar 2,78% dan NPF net 0,81%.
Pindar dan Pegadaian Catatkan Pertumbuhan Tinggi
Industri pembiayaan digital alias pinjaman daring (pindar) dan pegadaian justru mencatatkan pertumbuhan yang jauh lebih menonjol dibandingkan sektor pembiayaan konvensional. Pindar sendiri mencatat outstanding pembiayaan sebesar Rp100,69 triliun, naik 25,75% YoY. Angka ini bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 25,52%.
1. Pertumbuhan Pembiayaan Pindar
Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ini adalah semakin tingginya adopsi layanan digital di kalangan masyarakat. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) mulai memanfaatkan pindar sebagai sumber pendanaan utama karena prosesnya yang cepat dan syaratnya yang lebih ringan.
2. Risiko Kredit Pindar Masih Terjaga
Meski pertumbuhannya tinggi, risiko kredit pindar tetap terkendali. OJK mencatat TWP90 atau tunggakan pembiayaan selama 90 hari sebesar 4,54%. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pinjaman tetap dikembalikan sesuai jadwal.
Pegadaian Melesat, Salurkan Pembiayaan hingga Rp152,42 Triliun
Pegadaian juga mencatatkan performa luar biasa pada Februari 2026. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp152,42 triliun, naik 61,78% YoY. Mayoritas dari jumlah tersebut berasal dari produk gadai yang menyumbang sekitar Rp126 triliun atau 83,01% dari total.
3. Produk Gadai Dominasi Penyaluran
Produk gadai menjadi primadona karena menawarkan jaminan berupa barang berharga, terutama emas. Hal ini memberikan rasa aman lebih besar bagi lembaga pembiayaan dalam menyalurkan dana. Selain itu, masyarakat juga semakin percaya dengan sistem transparan dan layanan profesional yang ditawarkan.
4. Risiko Kredit di Pegadaian Tetap Aman
Meski penyaluran meningkat tajam, risiko kredit tetap berada di level yang wajar. Ini membuktikan bahwa sistem manajemen risiko yang diterapkan oleh Pegadaian sudah cukup baik dan mampu menekan potensi kredit macet.
Modal Ventura dan Lembaga Mikro Tunjukkan Stabilitas
Sektor modal ventura dan lembaga keuangan mikro juga menunjukkan performa yang stabil. Modal ventura mencatat pertumbuhan 0,78% YoY dengan total pembiayaan mencapai Rp16,46 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa sektor ini masih menjadi pilihan penting bagi pengembangan startup dan UMKM berpotensi tinggi.
5. Peran Modal Ventura dalam Pengembangan Startup
Modal ventura berperan besar dalam menyuntikkan dana ke perusahaan-perusahaan rintisan yang memiliki prospek bagus. Dengan begitu, ekosistem startup di Indonesia tetap bisa berkembang meski dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
6. Lembaga Keuangan Mikro Fokus ke Basis Bawah
Lembaga keuangan mikro terus berfokus pada pemberdayaan ekonomi rakyat di lapisan bawah. Dengan skema yang lebih fleksibel dan sesuai dengan karakteristik masyarakat kecil, lembaga ini menjadi jembatan penting antara masyarakat dan akses permodalan.
Permodalan Jadi Tantangan, Beberapa Perusahaan Belum Sesuai Aturan
Meski sektor pembiayaan secara umum menunjukkan performa positif, masih ada tantangan di sisi permodalan. OJK mencatat masih ada sejumlah perusahaan yang belum memenuhi ketentuan modal minimum.
7. Perusahaan Pembiayaan yang Belum Cukup Modal
Dari total 144 perusahaan pembiayaan, ada 9 yang belum memenuhi modal inti minimum Rp100 miliar. Ini menjadi perhatian serius karena modal yang minim bisa memicu risiko likuiditas dan solvabilitas.
8. Penyelenggara Pindar yang Belum Patuh Aturan
Di sisi lain, dari 65 penyelenggara pindar, ada 10 yang belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum Rp12,5 miliar. Meski demikian, semua pihak telah menyampaikan rencana aksi untuk memenuhi kewajiban tersebut.
Sanksi Mulai Digulirkan, OJK Tegakkan Kepatuhan
Sebagai langkah tegas, OJK telah menjatuhkan sanksi administratif kepada sejumlah pelaku industri yang melanggar aturan. Selama Maret 2026, ada 22 perusahaan pembiayaan, 2 perusahaan modal ventura, dan 31 penyelenggara pindar yang terkena sanksi.
9. Jenis Pelanggaran yang Dikenai Sanksi
Pelanggaran yang dikenai sanksi antara lain ketidakpatuhan terhadap ketentuan permodalan, pelaporan yang tidak tepat waktu, serta praktik bisnis yang tidak sesuai regulasi. Ini menunjukkan bahwa OJK serius dalam menjaga ketertiban pasar.
10. Upaya Edukasi dan Pembinaan Terus Dilakukan
Selain sanksi, OJK juga terus melakukan pembinaan dan edukasi kepada pelaku industri agar lebih memahami kewajiban dan tanggung jawab mereka. Tujuannya agar industri bisa tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Roadmap Bullion 2026–2031, Langkah Strategis untuk Hilirisasi Emas
OJK bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian meluncurkan roadmap pengembangan ekosistem bullion nasional periode 2026–2031. Langkah ini penting untuk memperkuat industri emas dalam negeri dan mendukung hilirisasi serta pendalaman pasar keuangan.
11. Tujuan dari Roadmap Bullion
Tujuan utama dari roadmap ini adalah meningkatkan kapasitas produksi emas domestik, memperkuat rantai pasok, serta memperluas akses masyarakat terhadap produk keuangan berbasis emas.
12. Peran Pegadaian dalam Ekosistem Bullion
Pegadaian menjadi salah satu pilar penting dalam ekosistem ini, terutama dalam distribusi dan pemasaran produk emas. Dengan jaringan yang tersebar luas, Pegadaian mampu menjangkau masyarakat di berbagai wilayah.
Data dan Disclaimer
| Jenis Pembiayaan | Pertumbuhan YoY | Total Outstanding |
|---|---|---|
| Pembiayaan Perusahaan | 1,01% | Rp512,14 triliun |
| Pindar | 25,75% | Rp100,69 triliun |
| Pegadaian | 61,78% | Rp152,42 triliun |
| Modal Ventura | 0,78% | Rp16,46 triliun |
Catatan: Data bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai laporan resmi OJK. Informasi ini hanya untuk tujuan referensi dan tidak dijadikan sebagai dasar keputusan investasi atau keuangan.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.












