PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Kamis, 12 Maret 2026. Salah satu poin penting dalam agenda rapat adalah penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025, termasuk pembagian dividen tunai. Acara ini menjadi sorotan karena BCA dikenal sebagai emiten blue-chip yang konsisten membagikan dividen kepada pemegang sahamnya.
Rencana RUPST akan berlangsung secara hybrid, yaitu secara fisik di Menara BCA, Jakarta, dan daring melalui aplikasi eASY.KSEI. Dalam tahun ini, BCA mencatat laba konsolidasi sebesar Rp57,56 triliun, naik 4,94% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp54,85 triliun. Angka ini menjadi dasar pertimbangan dalam penetapan dividen yang akan disetujui dalam RUPST mendatang.
Historis Dividen BCA: Jejak Konsistensi
Bank yang berdiri sejak 1957 ini memiliki reputasi kuat dalam memberikan return kepada investor. Dari tahun ke tahun, BCA menunjukkan konsistensi dalam membagikan sebagian laba sebagai dividen tunai, meskipun jumlahnya bisa berbeda tergantung kondisi bisnis dan ekonomi makro.
Berikut adalah rangkuman historis pembagian dividen BCA dalam beberapa tahun terakhir.
1. Dividen Tahun Buku 2020
Pada tahun 2020, BCA membagikan dividen tunai sebesar Rp530 per saham. Jumlah ini merupakan 48% dari laba bersih tahun buku 2020. Dividen ini sudah termasuk pembayaran dividen interim sebesar Rp98 per saham yang disalurkan pada Desember 2020.
2. Dividen Tahun Buku 2021
Tahun berikutnya, dividen yang dibagikan naik menjadi Rp145 per saham. Proporsinya mencapai 56,9% dari laba bersih tahun itu sebesar Rp31,42 triliun. Meski jumlah per saham lebih rendah dibanding 2020, porsi persentase laba yang dialokasikan untuk dividen justru meningkat.
3. Dividen Tahun Buku 2022
Pada tahun buku 2022, BCA kembali menaikkan alokasi dividen tunainya menjadi Rp25,3 triliun atau setara 62,1% dari laba bersih sebesar Rp40,7 triliun. Ini menunjukkan komitmen bank dalam memberikan return yang stabil kepada para pemegang saham.
4. Dividen Tahun Buku 2023
Di tahun 2023, total dividen yang dibagikan mencapai Rp33,28 triliun atau setara Rp270 per saham. Nilai ini merupakan 68,4% dari laba bersih tahun itu. Pembayaran ini sudah mencakup dividen interim sebesar Rp42,5 per saham yang telah cair sebelumnya.
5. Dividen Tahun Buku 2024
Tahun lalu, BCA menetapkan dividen total sebesar Rp300 per saham. Dengan asumsi jumlah saham beredar sekitar 123,27 miliar lembar, total pembayaran dividen mencapai Rp36,98 triliun atau 67,4% dari laba bersih tahun 2024. Dividen interim senilai Rp50 per saham telah dibayarkan sebelumnya.
6. Dividen Interim Tahun Buku 2025
Untuk tahun buku 2025, BCA telah menyalurkan dividen interim sebesar Rp55 per saham, atau total Rp6,77 triliun, yang cair pada 22 Desember 2025. Sementara itu, dividen final akan ditetapkan dalam RUPST 12 Maret 2026 mendatang.
Tren Dividen BCA: Konsisten dan Adaptif
Dari data historis, BCA menunjukkan pola dividen yang cenderung naik dari waktu ke waktu. Meskipun terdapat fluktuasi nominal per saham, bank ini tetap menjaga komitmen untuk memberikan return yang menarik bagi investor jangka panjang.
Tren ini juga mencerminkan kinerja keuangan yang stabil, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan ekonomi global dan domestik. Konsistensi dalam pembagian dividen membuat BBCA menjadi saham favorit di kalangan investor yield-seeker.
Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Dividen BCA
Sebelum menetapkan jumlah dividen, dewan komisaris dan direksi BCA biasanya mempertimbangkan beberapa faktor penting.
1. Kinerja Keuangan Tahunan
Laba bersih merupakan dasar utama dalam penetapan dividen. Semakin tinggi laba, semakin besar potensi dividen yang bisa dibagikan.
2. Kebutuhan Modal untuk Ekspansi
BCA juga perlu menjaga keseimbangan antara pembagian dividen dan kebutuhan modal untuk pertumbuhan bisnis, seperti investasi teknologi dan ekspansi jaringan.
3. Kondisi Makroekonomi
Faktor eksternal seperti suku bunga, inflasi, dan stabilitas rupiah juga turut memengaruhi keputusan dividen. Di masa ketidakpastian, bank cenderung bersikap lebih konservatif.
4. Kebijakan Regulasi OJK
Regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menjadi pertimbangan, terutama terkait rasio kecukupan modal (CAR) dan batas maksimum pembagian dividen.
Perbandingan Dividen BCA dengan Bank Lain
Untuk memberikan gambaran lebih luas, berikut adalah perbandingan pembagian dividen BCA dengan beberapa bank besar lainnya di tahun buku 2024.
| Emiten | Dividen per Saham (Rp) | % dari Laba Bersih | Tanggal Pembayaran |
|---|---|---|---|
| BBCA | 300 | 67,4% | Mei 2025 |
| BBRI | 225 | 58,3% | Juni 2025 |
| BMRI | 175 | 52,1% | Juli 2025 |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa BCA masih menjadi salah satu bank dengan dividen per saham tertinggi di antara bank pelat merah.
Proyeksi Dividen BCA 2026
Dengan laba bersih tahun 2025 mencapai Rp57,56 triliun, investor memperkirakan dividen BCA tahun ini akan kembali menguat. Jika mengacu pada rata-rata alokasi dividen sekitar 65% dari laba, maka potensi dividen final bisa mencapai Rp240-Rp260 per saham, tergantung pertimbangan manajemen.
Namun, angka ini belum pasti dan akan ditetapkan secara resmi dalam RUPST mendatang.
Disclaimer
Data dividen dan keuangan yang disajikan bersifat historis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan perusahaan dan kondisi pasar. Pembaca disarankan untuk merujuk pada pengumuman resmi dari BCA atau laporan keuangan terkini untuk informasi yang akurat dan terbaru.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













