Likuiditas di pasar keuangan Indonesia masih terbilang melimpah. Pada Februari 2026, uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.089 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan dari sisi penawaran uang. Namun, di tengah kondisi tersebut, laju pertumbuhan kredit justru melambat ke level 8,9% year on year.
Fenomena ini menarik karena biasanya likuiditas yang tinggi sejalan dengan ekspansi kredit. Tapi kenyataannya, bank tampak lebih hati-hati dalam menyalurkan pinjaman. Ada semacam kesenjangan antara uang yang tersedia dan minat atau keberanian untuk meminjamkan.
Penyebab Perlambatan Kredit di Tengah Likuiditas Tinggi
1. Lonjakan Tagihan kepada Pemerintah Pusat
Salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan uang beredar adalah tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Angka ini tumbuh 25,6% year on year, naik dari 22,6% di bulan sebelumnya. Artinya, BI mencetak lebih banyak uang untuk menutupi kebutuhan fiskal pemerintah.
2. Melambatnya Permintaan Kredit Korporasi dan Perorangan
Di sisi lain, pertumbuhan kredit hanya mencapai 8,9% year on year atau turun dari 10,2% di Januari 2026. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan dari sektor korporasi dan perorangan. Bank mungkin punya dana, tapi calon peminjam belum sepenuhnya percaya diri untuk mengajukan pinjaman.
Rincian Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan
| Jenis Kredit | Pertumbuhan (YoY) Februari 2026 | Pertumbuhan (YoY) Januari 2026 |
|---|---|---|
| Kredit Modal Kerja (KMK) | 3,7% | 4,7% |
| Kredit Investasi (KI) | 20,0% | 22,0% |
| Kredit Konsumsi | 6,3% | 7,2% |
Kredit investasi masih menjadi pendorong utama, meski mengalami sedikit perlambatan. Ini menunjukkan bahwa sektor yang berani berinvestasi tetap melakukannya. Sementara itu, kredit modal kerja dan konsumsi justru melambat, terutama di sektor pertanian dan pertambangan.
Dinamika Penghimpunan Dana Perbankan
Dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp9.449,1 triliun, tumbuh 9,2% year on year. Meski lebih rendah dari pertumbuhan Januari yang mencapai 10,8%, angka ini masih menunjukkan bahwa masyarakat tetap aktif menabung.
| Jenis Simpanan | Pertumbuhan (YoY) Februari 2026 |
|---|---|
| Giro | 17,6% |
| Tabungan | 7,7% |
| Simpanan Berjangka | 3,7% |
Giro menjadi jenis simpanan yang paling cepat tumbuh. Ini bisa jadi karena aktivitas bisnis yang mulai pulih, meski belum sepenuhnya stabil.
Kondisi Kredit Berdasarkan Sektor
Perlambatan juga terlihat dari sisi sektoral. Kredit properti, misalnya, tumbuh 13,7% year on year, turun dari 14,1% di bulan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa sektor properti mulai melambat, mungkin karena kebijakan makroprudensial atau kurangnya permintaan rumah.
Sementara itu, kredit UMKM masih mengalami kontraksi sebesar 0,6% year on year. Ini mencerminkan belum pulihnya sektor usaha kecil dan menengah, yang biasanya menjadi tulang punggung ekonomi.
Pergerakan Suku Bunga
Di tengah situasi ini, suku bunga mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Rata-rata suku bunga kredit turun tipis dari 8,79% menjadi 8,78%. Penurunan juga terjadi pada suku bunga simpanan berjangka di berbagai tenor.
Penurunan ini bisa menjadi sinyal bahwa bank mulai mengurangi tekanan terhadap calon peminjam. Namun, dampaknya belum terasa secara signifikan pada pertumbuhan kredit secara keseluruhan.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Likuiditas yang tinggi seharusnya bisa mendorong pertumbuhan kredit. Tapi kenyataannya, bank masih berhati-hati. Ini bisa disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi global, risiko geopolitik, atau kurangnya kepercayaan dari pelaku usaha.
Namun, di sisi lain, ada peluang. Kredit investasi masih tumbuh tinggi. Artinya, sektor yang optimis masih ada. Jika kondisi ekonomi semakin stabil, bisa jadi kredit konsumsi dan modal kerja akan ikut bangkit.
Disclaimer
Data yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari laporan Bank Indonesia dan data resmi per Februari 2026. Angka-angka bisa berubah seiring waktu karena dinamika ekonomi yang terus berkembang. Informasi ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum kondisi perbankan dan bukan sebagai saran keuangan.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













