Dolar AS kembali menguat pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, seiring ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran. Lonjakan nilai tukar mata uang greenback ini dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menegaskan akan memperkuat operasi militer AS terhadap Iran dalam beberapa minggu ke depan. Investor pun kembali mencari ‘pelabuhan aman’, menjadikan dolar sebagai pilihan utama di tengah ketidakpastian geopolitik.
Indeks Dolar AS naik 0,4 persen ke level 100,03, menunjukkan penguatan yang cukup signifikan dalam satu hari. Gerakan ini tidak hanya mencerminkan kepercayaan pasar terhadap dolar sebagai safe haven, tetapi juga reaksi terhadap retorika keras dari Gedung Putih yang menekankan dominasi AS di kawasan Timur Tengah.
Retorika Trump Picu Sentimen Anti-Risiko
Pernyataan Presiden Trump yang menyebut AS akan "menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan" menjadi sorotan utama di pasar keuangan. Ia juga menegaskan bahwa Iran kini hampir tidak memiliki kartu tawar, baik dari segi kemampuan nuklir maupun infrastruktur militer. Klaim ini memperkuat ekspektasi bahwa ketegangan antara AS dan Iran masih jauh dari selesai.
Langkah Washington yang belum menunjukkan tanda-tanda membuka kembali Selat Hormuz turut memicu kekhawatiran. Selat tersebut merupakan jalur kritis bagi perdagangan minyak global, dan ketidakjelasan statusnya berdampak langsung pada sentimen pasar. Meski Iran berencana mengenakan tarif untuk kapal yang melintas, langkah ini justru dianggap sebagai eskalasi oleh pihak AS.
Sejumlah analis dari ING menyebut bahwa pasar baru saja melalui fase pertama dari de-eskalasi. Namun, untuk bisa melanjutkan tren penguatan dolar, dibutuhkan kejelasan lebih lanjut terkait akses ke Selat Hormuz dan rencana jangka panjang AS di kawasan.
Fokus Bergeser ke Data Tenaga Kerja AS
Di tengah gejolak geopolitik, fokus investor juga mulai beralih ke data fundamental dari dalam negeri AS. Laporan penggajian non-pertanian untuk bulan Maret 2026 akan dirilis pada Jumat, dan menjadi indikator penting untuk melihat kesehatan pasar tenaga kerja Amerika.
Jerome Powell, Ketua Federal Reserve, sebelumnya menyatakan bahwa bank sentral akan tetap waspada terhadap guncangan eksternal seperti kenaikan harga energi. Namun, ekspektasi inflasi jangka panjang masih terkendali. Data tenaga kerja akan menjadi faktor penentu apakah Fed akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga di kuartal kedua.
Sejumlah indikator awal memberikan gambaran yang beragam. Klaim pengangguran awal turun lebih rendah dari estimasi pasar. Namun, laporan JOLTS menunjukkan penurunan jumlah lowongan kerja dan tingkat perekrutan yang melemah ke level terendah sejak April 2020.
Berikut rangkuman data tenaga kerja terkini:
| Indikator | Februari 2026 | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Klaim Pengangguran Awal | 215.000 | –3,2% |
| Lowongan Kerja (JOLTS) | 8,2 juta | -1,8% |
| Tingkat Perekrutan | 3,1 juta | -2,5% |
| Pemutusan Hubungan Kerja (Challenger Report) | 60.620 | +25% (M/M) |
Mata Uang Lainnya Melemah di Depan Dolar yang Perkasa
Penguatan dolar berdampak langsung pada mata uang utama lainnya. Euro (EUR/USD) tercatat turun 0,4 persen, meski sempat mengalami koreksi kecil ke level 1,1539. Sementara itu, poundsterling (GBP/USD) mengalami tekanan lebih besar dengan penurunan 0,6 persen, sebelum akhirnya stabil di kisaran 1,3222.
Kelemahan pound sebagian besar disebabkan oleh ketergantungan Inggris terhadap impor energi. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah turut memicu ekspektasi inflasi di kalangan pelaku bisnis Inggris. Survei Bank of England menunjukkan bahwa perusahaan memperkirakan kenaikan harga sebesar 3,7 persen pada tahun depan, naik dari 3,4 persen bulan sebelumnya.
Di sisi lain, yen Jepang (USD/JPY) tetap stabil di kisaran 159,57. Sementara dolar Australia (AUD/USD) mengalami koreksi kecil sekitar 0,2 persen. Data dari Biro Statistik Australia menunjukkan surplus perdagangan melebar menjadi 5,69 miliar dolar Australia pada Februari, didorong oleh lonjakan ekspor dan penurunan impor.
Dolar sebagai Safe Haven di Tengah Ketidakpastian
Dolar AS kembali menjadi pilihan utama investor ketika situasi geopolitik memanas. Statusnya sebagai safe haven terbukti konsisten, terutama ketika ada ancaman terhadap stabilitas perdagangan global. Dengan Selat Hormuz sebagai salah satu jalur energi terpenting di dunia, setiap ketidakpastian di kawasan ini langsung berdampak pada arus investasi global.
Namun, kekuatan dolar juga tidak bisa lepas dari kondisi domestik AS. Data tenaga kerja yang akan dirilis akhir pekan ini menjadi momen penting untuk melihat apakah penguatan dolar akan berlanjut atau hanya bersifat jangka pendek.
Disclaimer
Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak menjadi rekomendasi investasi.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













