Dinamika geopolitik global yang tengah terjadi membuat pasokan dan harga energi dunia semakin tidak menentu. Di tengah ketidakpastian ini, PT Pertamina (Persero) terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga ketahanan energi nasional. Langkah ini tidak hanya menjadi respons terhadap volatilitas energi global, tetapi juga sebagai upaya nyata mendukung transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Melalui pengembangan berbagai sumber energi rendah karbon, Pertamina berkomitmen untuk memperkuat bauran energi nasional. Langkah ini sejalan dengan target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menekankan pentingnya diversifikasi energi demi masa depan yang ramah lingkungan.
Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan oleh Pertamina
Pengembangan energi baru terbarukan oleh Pertamina bukan sekadar isu kebijakan, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi operasional perusahaan. Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), menjelaskan bahwa dinamika geopolitik global memaksa Indonesia untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada energi fosil.
Langkah ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Dengan memperkuat bauran energi, Pertamina tidak hanya meningkatkan independensi energi nasional, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon.
1. Target Produksi Energi Bersih hingga 2025
Hingga akhir tahun 2025, Pertamina menargetkan produksi energi bersih mencapai 8.743 Giga watt per jam (GWh). Target ini mencakup berbagai sumber energi rendah karbon, termasuk panas bumi, surya, dan biogas.
2. Kapasitas Terpasang Pembangkit Listrik
Energi bersih yang dihasilkan berasal dari berbagai pembangkit dengan kapasitas terpasang mencapai 3.271 Mega Watt (MW). Rinciannya meliputi:
- Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg): 2,4 MW
- Gas to Power dari Jawa Satu Power: 1.760 MW
- Gas to Power dari Pertamina Power Indonesia: 12,9 MW
- Solar dari Pertamina Power Indonesia: 55,3 MW
- Energi panas bumi: 772,5 MW
3. Investasi di Filipina Melalui Subholding
Pertamina juga mengembangkan energi terbarukan melalui kepemilikan saham subholding Pertamina New & Renewable Energy pada Citicore Renewable Energy Corporation (CREC) di Filipina. Investasi ini menghasilkan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 669,3 MW.
Pemanfaatan Energi Bersih di Tingkat Masyarakat
Selain fokus pada sektor komersial, Pertamina juga mendorong pemanfaatan energi bersih di tingkat masyarakat melalui program Desa Energi Berdikari (DEB). Program ini bertujuan untuk mengembangkan energi transisi seperti panel surya, mikrohidro, dan biogas.
1. Pembangunan 252 Desa Energi Berdikari
Hingga saat ini, Pertamina telah membangun 252 DEB di seluruh Indonesia. Setiap desa dilengkapi dengan infrastruktur energi terbarukan yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
2. Dampak pada Ketahanan Pangan
Dari 252 lokasi DEB yang telah dibangun, sebanyak 156 di antaranya berhasil memproduksi:
- 15,8 ribu ton bahan pangan beras
- 890,4 ton bahan pangan non beras
Program ini tidak hanya meningkatkan ketahanan energi, tetapi juga berkontribusi langsung pada ketahanan pangan nasional.
Komitmen Jangka Panjang Menuju Ketahanan Energi Nasional
Ke depan, Pertamina berkomitmen untuk memperluas inisiatif berbasis energi bersih dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya, Indonesia tidak hanya mampu menghadapi gejolak ekonomi dan perubahan iklim, tetapi juga tumbuh menjadi pusat kemandirian energi dan ekonomi baru.
Langkah ini juga sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan. Perusahaan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi.
1. Dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)
Seluruh upaya Pertamina dalam pengembangan energi baru terbarukan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya dalam aspek pengurangan emisi karbon dan peningkatan akses energi bersih.
2. Peran dalam Mencapai Target Net Zero Emission 2060
Sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, Pertamina terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian NZE 2060. Langkah ini tidak hanya menjadi tanggung jawab korporat, tetapi juga bagian dari kontribusi nyata terhadap mitigasi perubahan iklim.
Tantangan dan Peluang dalam Transisi Energi
Transisi menuju energi baru terbarukan bukan tanpa tantangan. Infrastruktur, pendanaan, dan regulasi masih menjadi poin penting yang perlu terus disempurnakan. Namun, dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi lintas sektor, potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar.
Indonesia memiliki potensi energi surya, angin, mikrohidro, dan panas bumi yang melimpah. Jika dikelola dengan baik, sumber energi ini bisa menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional di masa depan.
Kesimpulan
Di tengah gejolak energi global, Pertamina terus menunjukkan komitmen kuat dalam mengembangkan energi baru terbarukan. Langkah ini tidak hanya sebagai respons terhadap krisis energi, tetapi juga sebagai bagian dari visi jangka panjang untuk menciptakan Indonesia yang mandiri dan berkelanjutan.
Melalui berbagai program strategis, mulai dari pembangunan pembangkit listrik hingga pemberdayaan masyarakat, Pertamina membuktikan bahwa transisi energi bisa dilakukan secara inklusif dan bermanfaat bagi semua pihak.
Disclaimer: Data dan target yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan kebijakan, regulasi, serta kondisi eksternal yang memengaruhi sektor energi nasional dan global.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













