Nasional

Nilai Dolar Amerika Serikat Turun 2,5% pada 2026 karena Gejolak Ekonomi Global dan Kebijakan Moneter yang Tak Pasti

Fadhly Ramadan
×

Nilai Dolar Amerika Serikat Turun 2,5% pada 2026 karena Gejolak Ekonomi Global dan Kebijakan Moneter yang Tak Pasti

Sebarkan artikel ini
Nilai Dolar Amerika Serikat Turun 2,5% pada 2026 karena Gejolak Ekonomi Global dan Kebijakan Moneter yang Tak Pasti

Ilustrasi dolar AS. MI/Ramdani

Reporter: Eko Nordiansyah

New York: Dolar AS sedikit melemah pada Senin, 20 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat penyitaan kapal kargo Iran oleh Amerika Serikat. Langkah militer AS tersebut memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata sementara antara kedua negara mungkin tidak akan diperpanjang.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang hijau terhadap enam mata uang utama turun menjadi 98,10. Penurunan ini terjadi menjelang beberapa peristiwa penting, termasuk pengumuman kebijakan moneter dari berbagai sentral global dan sidang di Senat terkait calon ketua Federal Reserve.

Ketegangan Timur Tengah Memicu Volatilitas Pasar

Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas setelah pasukan Amerika menahan kapal kargo Iran, M/V Touska. Kapal tersebut gagal mematuhi peringatan selama enam jam sebelum akhirnya ditembaki dan dilumpuhkan oleh militer AS. Iran mengutuk tindakan tersebut dan mengancam akan membalas.

Peristiwa ini menimbulkan spekulasi di pasar keuangan mengenai kelanjutan perundingan perdamaian. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Wakil Presiden JD Vance akan segera berangkat ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan. Namun, dari media-media seperti New York Post dan CNN menunjukkan ketidakkonsistenan mengenai waktu keberangkatan delegasi AS.

Gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran telah berakhir pada hari Rabu. Dengan tidak adanya kejelasan mengenai perpanjangan perdamaian, para investor memilih menahan diri dari mengambil posisi besar, yang turut menekan nilai dolar.

1. Sidang Nominasi Kevin Warsh di Senat AS

Salah satu faktor penting yang memengaruhi nilai dolar adalah rencana sidang di Komite Perbankan Senat AS terkait calon ketua Federal Reserve, Kevin Warsh. Sidang ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu pukul 10:00 ET.

Warsh, yang dinominasikan oleh Presiden Trump pada akhir Januari, dikenal sebagai ekonom yang cenderung hawkish. Pasar bereaksi positif terhadap kemungkinan kehadirannya di kursi ketua Fed, karena ia dianggap akan mengejar kebijakan moneter yang lebih ketat.

2. Ekspektasi Kebijakan Moneter Global

Dalam dua pekan ke depan, banyak bank sentral besar dunia akan mengumumkan keputusan suku bunga mereka. Salah satunya adalah Bank Rakyat China yang pada Senin mempertahankan tetap. Keputusan ini diambil setelah ekonomi China mencatatkan pertumbuhan yang berada di batas atas target pemerintah.

Yuan China (USD/CNY) berada di level 6,8172 terhadap dolar AS. Stabilitas ini menunjukkan bahwa bank sentral Tiongkok masih berusaha menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kendali .

Pergerakan Pasar Mata Uang Utama

Selain dolar AS, beberapa mata uang utama lainnya juga mengalami pergerakan yang cukup signifikan. Dolar Kanada (USD/CAD) menguat seiring inflasi konsumen utama pada Maret. Meski begitu, kenaikan inflasi tidak separah yang diperkirakan sebelumnya.

Data menunjukkan bahwa pasangan USD/CAD turun 0,3 persen menjadi 1,3638. Kenaikan minyak global menjadi penyebab utama lonjakan inflasi tersebut.

Berikut adalah rincian pergerakan beberapa pasangan mata uang utama:

Pasangan Mata Uang Pergerakan (%) Nilai Terkini
EUR/USD +0,2% 1,1786
GBP/USD +0,1% 1,3533
USD/JPY +0,1% 158,81
USD/CAD -0,3% 1,3638
USD/CNY 0% 6,8172

3. Fokus Pasar pada Kebijakan The Fed

Para pelaku pasar saat ini juga tengah memperhatikan sinyal kebijakan dari Federal Reserve. Dengan adanya ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah dan ketegangan geopolitik, ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS menjadi semakin tinggi.

Kehadiran Kevin Warsh di kursi ketua Fed diperkirakan akan memicu perubahan besar dalam kebijakan bank sentral tersebut. Warsh dikenal sebagai pendukung pengurangan neraca bank sentral dan kenaikan suku bunga yang lebih agresif jika dibandingkan dengan pendahulunya, Jerome Powell.

4. Dampak Inflasi terhadap Mata Uang

Inflasi tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi nilai tukar mata uang. Lonjakan global turut berkontribusi pada di beberapa negara, termasuk Kanada.

Namun, tidak semua kenaikan inflasi berdampak negatif. Di beberapa negara, kenaikan inflasi yang moderat justru dianggap sebagai indikator pertumbuhan ekonomi yang sehat. Yang menjadi perhatian adalah apakah bank sentral akan merespons lonjakan tersebut dengan menaikkan suku bunga.

5. Peran Yuan dalam Stabilitas Global

Yuan China tetap stabil meski berada di tengah tekanan global. Bank Rakyat China memilih untuk tidak mengubah suku bunga acuan, menunjukkan bahwa mereka masih optimis terhadap prospek ekonomi domestik.

Stabilitas yuan penting karena mata uang ini merupakan salah satu indikator kesehatan ekonomi global. Jika yuan melemah secara signifikan, hal ini bisa memicu volatilitas di pasar keuangan internasional.

6. Pergerakan Dolar Jelang Pengumuman Penting

Dolar AS sempat menguat pada awal sesi perdagangan Senin, namun kekuatannya tidak bertahan lama. Ketidakpastian mengenai perundingan perdamaian antara AS dan Iran membuat investor enggan mengambil risiko berlebihan.

Sementara itu, fokus pasar beralih ke pengumuman kebijakan dari berbagai bank sentral dan sidang penting di Senat AS. Semua ini akan menjadi penentu arah pergerakan dolar dalam beberapa hari mendatang.

7. Peran Media dalam Mempengaruhi Pasar

Berita yang saling bertentangan dari berbagai media juga turut memengaruhi sentimen pasar. Misalnya, pernyataan Presiden Trump mengenai keberangkatan Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan berbeda dengan laporan dari New York Post dan CNN.

Perbedaan informasi seperti ini menciptakan ketidakpastian di kalangan investor. Pasar cenderung bereaksi terhadap berita terbaru, terlepas dari kebenarannya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya validasi informasi sebelum membuat keputusan investasi.

8. Pengaruh Geopolitik terhadap Nilai Tukar

Konflik di Timur Tengah bukan hanya memengaruhi stabilitas regional, tetapi juga memiliki dampak global. Ketegangan antara AS dan Iran dapat memicu lonjakan harga minyak, yang pada gilirannya memengaruhi inflasi dan nilai tukar mata uang.

Investor cenderung mencari aset aman saat ketegangan geopolitik meningkat. Dolar AS, meskipun melemah, tetap dianggap sebagai salah satu aset aman utama di tengah ketidakpastian global.

Penutup

Dolar AS mengalami tekanan di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Penyitaan kapal Iran oleh AS, ketegangan geopolitik, serta ekspektasi terhadap kebijakan moneter global menjadi faktor utama yang memengaruhi nilai tukar mata uang hijau.

Investor kini menantikan pengumuman dari berbagai bank sentral dan sidang penting di Senat AS. Semua perkembangan ini akan menjadi penentu arah pasar dalam beberapa pekan mendatang.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi global serta kebijakan pemerintah dan bank sentral masing-masing negara.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.