Prediksi soal kebijakan suku bunga The Fed selalu jadi sorotan, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Tahun ini, Bank of America (BofA) masih konsisten memperkirakan akan terjadi dua kali pemotongan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat. Meski ada revisi kecil dalam proyeksi pertumbuhan dan inflasi, pandangan BofA soal langkah The Fed tetap tak berubah.
Pandangan ini didasari oleh beberapa faktor penting. Inflasi yang sebagian besar dipicu oleh sisi penawaran, minimnya tekanan upah, dan dinamika politik menjelang pergantian kepemimpinan The Fed, dinilai lebih dominan dibandingkan kekhawatiran terhadap inflasi jangka pendek. Artinya, meski inflasi belum sepenuhnya turun ke target, The Fed cenderung lebih fokus pada kondisi struktural yang mendukung pelonggaran kebijakan.
Alasan The Fed Diprediksi Pangkas Suku Bunga Dua Kali Tahun Ini
Langkah The Fed untuk menurunkan suku bunga bukan keputusan yang diambil sembarangan. Ada beberapa pertimbangan ekonomi dan politik yang mendorong prediksi ini. Berikut penjabaran lengkapnya.
1. Inflasi yang Didorong Penawaran Dinilai Tidak Perlu Ditanggapi dengan Kenaikan Suku Bunga
Inflasi yang terjadi saat ini sebagian besar dipicu oleh gangguan di sisi penawaran, bukan permintaan berlebih. Artinya, kenaikan harga barang dan jasa lebih disebabkan oleh masalah rantai pasok, bukan karena konsumsi masyarakat yang berlebihan.
Karena itu, menaikkan suku bunga—yang biasanya dilakukan untuk mendinginkan permintaan—dinilai tidak efektif. The Fed lebih cenderung menunggu hingga tekanan dari sisi penawaran ini mereda secara alami.
2. Tekanan Upah yang Terbatas Menjadi Faktor Penenang
Salah satu indikator yang diawasi ketat oleh The Fed adalah pertumbuhan upah. Kenaikan upah yang terlalu cepat bisa memicu inflasi melalui peningkatan daya beli masyarakat.
Namun, data terkini menunjukkan bahwa pertumbuhan upah masih terkendali. Ini memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi dari sisi tenaga kerja belum terlalu besar, sehingga memberi ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga.
3. Dinamika Politik Menjelang Kepemimpinan Baru The Fed
Ketua The Fed saat ini akan digantikan pada bulan September 2026. Kevin Warsh, yang diprediksi akan menggantikannya, diyakini membawa pendekatan yang lebih dovish atau pro-pelonggaran.
BofA mencatat bahwa Warsh kemungkinan akan segera mengumpulkan bukti tentang pendinginan inflasi untuk membangun konsensus internal The Fed terkait pelonggaran kebijakan moneter.
Rilis FOMC Jadi Penghitung Waktu
Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret jadi momen penting untuk mengukur arah kebijakan ke depannya. Hasil rilis risalahnya menunjukkan bahwa sejumlah pejabat The Fed mulai menunda rencana pemotongan suku bunga.
Beberapa bahkan mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga sebagai antisipasi jika inflasi tidak kunjung turun. Namun, sebagian besar anggota FOMC masih percaya bahwa pemotongan suku bunga masih relevan dilakukan, asal ekonomi menunjukkan sinyal yang tepat.
4. Data Pengeluaran Konsumen Mulai Melambat
Konsumsi masyarakat adalah salah satu motor penggerak ekonomi AS. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa pengeluaran riil hanya naik 0,1 persen secara bulanan pada Februari 2026.
Laju tahunan pengeluaran konsumen juga melambat menjadi 0,8 persen dalam tiga bulan terakhir. Ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat mulai melemah, yang bisa jadi alasan bagi The Fed untuk tidak terlalu agresif menahan pertumbuhan melalui suku bunga.
5. Harga Energi Masih Jadi Variabel yang Bisa Ganggu Stabilitas
Harga energi global yang fluktuatif tetap jadi ancaman bagi stabilitas pengeluaran konsumen. BofA mencatat bahwa Personal Consumption Expenditures (PCE) secara keseluruhan masih naik 4,1 persen secara tahunan.
Jika harga energi terus naik, maka pengeluaran riil bisa terus tertekan. Ini akan memperkuat argumen bahwa kebijakan moneter perlu dilonggarkan untuk menjaga daya beli masyarakat.
Perbandingan Proyeksi BofA Sebelum dan Sesudah Revisi
Berikut tabel yang menunjukkan perubahan proyeksi BofA terkait pertumbuhan dan inflasi:
| Indikator | Proyeksi Sebelum Revisi | Proyeksi Setelah Revisi |
|---|---|---|
| Pertumbuhan Ekonomi | 2,1% | 2,0% |
| Inflasi (PCE) | 2,6% | 2,8% |
| Jumlah Pemotongan Suku Bunga | 2 kali | 2 kali |
Meski ada penyesuaian kecil, BofA tetap mempertahankan prediksi dua kali pemotongan suku bunga. Ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mendukung pelonggaran masih kuat.
Risiko yang Bisa Mengubah Prediksi
Meski BofA optimistis, ada sejumlah risiko yang bisa membuat prediksi ini berubah arah. Misalnya:
- Inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi
- Kenaikan upah yang tidak terkendali
- Gangguan geopolitik yang memicu lonjakan harga komoditas
- Perubahan sikap internal FOMC yang lebih hawkish
Namun, BofA menilai risiko-risiko tersebut masih bisa dikelola, dan skenario dasar untuk dua kali pemotongan suku bunga tetap valid.
Penutup
Prediksi dua kali pemotongan suku bunga oleh The Fed tahun ini bukan sekadar spekulasi pasar. Ada dasar kuat dari data ekonomi dan dinamika internal bank sentral yang mendukung langkah ini. Meski begitu, situasi bisa berubah tergantung perkembangan inflasi, pengeluaran konsumen, dan kebijakan politik menjelang pergantian kepemimpinan The Fed.
Investor dan pelaku pasar tetap perlu waspada terhadap rilis FOMC ke depannya sebagai indikator utama arah kebijakan moneter AS.
Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter global.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













