Nasional

Perang AS-Iran yang Berlarut Hingga 14 Hari Lagi Bisa Picu Krisis Energi Global pada 2026

Rista Wulandari
×

Perang AS-Iran yang Berlarut Hingga 14 Hari Lagi Bisa Picu Krisis Energi Global pada 2026

Sebarkan artikel ini
Perang AS-Iran yang Berlarut Hingga 14 Hari Lagi Bisa Picu Krisis Energi Global pada 2026

Ilustrasi Selat Hormuz saat ini menjadi sorotan tajam di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat- melawan Iran. Jalur maritim sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini menjadi salah satu arteri utama pasokan minyak global. Namun, karena intensitas pertempuran di tersebut, aliran minyak yang biasanya mencapai 20 juta barel per hari kini turun drastis menjadi kurang dari 2 juta barel per hari.

Penurunan volume lalu lintas minyak ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas energi global. Bank of America (BofA) Global Research dalam laporan terbaru mereka memperingatkan bahwa jika gangguan ini berlangsung lebih dari dua minggu, dunia bisa menghadapi krisis energi berskala besar, sebanding dengan apa yang terjadi di era 1970-an.

Dampak Jangka Pendek dari Gangguan di Selat Hormuz

1. Lonjakan Harga Minyak Mentah Brent

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, mencatat kenaikan signifikan menjadi rata-rata USD92,50 per barel. Lonjakan ini terjadi meski belum sepenuhnya mencerminkan keparahan situasi karena masih adanya cadangan darurat serta minyak yang tertahan di laut. Namun, data satelit menunjukkan bahwa pasar sedang mengalami pengetatan yang cepat.

2. Defisit Pasokan Minyak Global

BofA merevisi proyeksi dasar mereka dan memperkirakan defisit pasokan minyak sebesar empat juta barel per hari pada kuartal kedua 2026. Angka ini jauh melampaui ekspektasi sebelumnya dan menunjukkan bahwa dunia sedang menghadapi pasokan yang sangat serius.

Ketegangan Antara Produsen dan Konsumen

Ketidakseimbangan antara produsen dan konsumen minyak semakin terlihat. Negara-negara penghasil minyak di Teluk Arab, seperti Arab Saudi dan Kuwait, mengalami penumpukan stok karena tidak bisa mengekspor secara maksimal. Di sisi lain, negara-negara konsumen seperti Jepang, China, dan India terpaksa menguras cadangan mereka dengan cepat.

Pasokan cadangan melalui jalur pipa dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga terbatas. Ini memperburuk situasi karena jalur alternatif tidak mampu menggantikan volume yang hilang dari jalur maritim utama. Akibatnya, BofA memperkirakan permintaan energi global bisa turun sebesar 4 hingga 5 persen dalam waktu singkat.

Risiko Makroekonomi dan Stagflasi

3. Risiko Penurunan Permintaan Global

Kurangnya alternatif langsung untuk minyak, terutama di sektor transportasi dan industri petrokimia, menimbulkan risiko penurunan permintaan secara signifikan. Pasar yang masih optimis akan penyelesaian cepat konflik bisa saja terkejut dengan volatilitas harga yang ekstrem jika situasi memburuk.

4. Ancaman Stagflasi Global

Jika aliran energi tidak pulih dalam waktu dekat, dunia bisa menghadapi stagflasi—kondisi di mana pertumbuhan ekonomi melambat namun inflasi tetap tinggi. Kenaikan biaya energi yang tidak bisa dihindarkan akan memperparah tekanan pada rantai pasokan dan memicu kenaikan harga barang secara luas.

Titik Kritis Pasokan Minyak

5. Pengurangan Konsumsi Energi Wajib

Jika gangguan berlangsung lebih dari dua hingga empat minggu, rantai pasokan minyak global bisa mencapai titik kritis. Pada titik ini, negara-negara konsumen mungkin terpaksa melakukan pengurangan konsumsi energi secara terpaksa untuk menjaga keseimbangan pasar.

6. Kekhawatiran Investor terhadap Ketersediaan Fisik

Investor institusional saat ini lebih khawatir soal ketersediaan fisik minyak daripada fluktuasi harga. Aliran energi yang terganggu menciptakan ketidakpastian besar, terutama bagi industri yang bergantung pada pasokan stabil ke pusat-penyulingan utama.

Perbandingan Dampak Krisis Energi Saat Ini dengan Krisis 1970-an

Aspek Krisis 1970-an Krisis 2026
Penyebab Utama Embargo minyak oleh OPEC Gangguan jalur Selat Hormuz
Volume Gangguan Sekitar 5 juta barel/hari Lebih dari 15 juta barel/hari
Durasi Krisis Beberapa bulan hingga tahun Potensi berlangsung 2-4 minggu
Dampak Ekonomi Resesi global, lonjakan harga energi Stagflasi, kenaikan harga
Respons Global Pembentukan cadangan Intervensi darurat dan diplomasi

Strategi Jangka Pendek untuk Menghadapi Krisis

7. Pemanfaatan Cadangan Minyak Strategis

Negara-negara konsumen besar seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok mulai menggunakan cadangan minyak nasional mereka untuk menstabilkan pasokan. Namun, cadangan ini tidak akan bertahan lama jika gangguan berlangsung lebih dari satu bulan.

8. Diversifikasi Jalur Pasokan

Beberapa negara mulai mengeksplorasi jalur alternatif, seperti jalur pipa lintas negara dan jalur laut melalui atau sekitar Afrika. Namun, kapasitas jalur-jalur ini masih terbatas dan tidak cukup untuk menggantikan volume yang hilang dari Selat Hormuz.

9. Peningkatan Efisiensi Energi

Di tengah keterbatasan pasokan, pemerintah dan sektor swasta mulai mendorong efisiensi energi. Program penghematan energi dan transisi ke sumber dipercepat meski dampaknya terasa dalam jangka panjang.

Tantangan Jangka Panjang dan Adaptasi Global

10. Reformulasi Kebijakan Energi Nasional

Krisis ini memaksa negara-negara untuk merevisi kebijakan energi nasional mereka. Diversifikasi sumber energi dan pengurangan ketergantungan pada impor minyak menjadi prioritas utama.

11. Percepatan Transisi Energi Hijau

Krisis energi saat ini menjadi pengingat keras bahwa dunia masih terlalu bergantung pada fosil. Banyak negara mulai mempercepat transisi ke energi terbarukan, meski proses ini membutuhkan waktu dan investasi besar.

Kesimpulan

Krisis energi yang berpotensi terjadi akibat konflik di Selat Hormuz bukan hanya soal fluktuasi harga. Ini adalah tantangan struktural yang menguji ketahanan rantai pasokan global dan memaksa dunia untuk beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan geopolitik dan kebutuhan energi masa depan.

Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan situasi geopolitik serta kebijakan internasional terkait.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.