Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan akhir pekan lalu. Pada penutupan Senin (6/4/2026), rupiah ditutup melemah 55 poin ke level Rp17.035 per USD. Posisi ini turun dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp16.980 per USD.
Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya ketegangan geopolitik di Teluk Persia. Ancaman Presiden AS Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang memicu pelemahan rupiah.
Pengaruh Sentimen Global terhadap Rupiah
Sentimen investor global kembali memanas jelang tenggat waktu yang diberikan Presiden AS kepada Iran. Donald Trump memperingatkan agar jalur strategis Selat Hormuz dibuka kembali paling lambat Selasa (7/4/2026). Langkah ini dimaksudkan agar lalu lintas kapal tanker bisa kembali beroperasi secara normal.
Namun, Iran melalui juru bicaranya menyatakan bahwa pembukaan jalur tersebut hanya akan dilanjutkan jika ada kompensasi atas kerusakan akibat perang. Pernyataan ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang berkepanjangan di kawasan.
- Ketegangan geopolitik di Teluk Persia meningkat kembali
- Sentimen investor global menjadi waspada
- Harga minyak mentah naik tajam
- Rupiah ikut tertekan akibat permintaan dolar meningkat
Kenaikan harga minyak mentah berpotensi memicu inflasi global. Biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, hingga konsumen akhir. Jika Selat Hormuz tetap diblokir, dampaknya bisa semakin luas.
Data Kurs Rupiah pada Penutupan Perdagangan
Berikut adalah rincian posisi rupiah terhadap dolar AS berdasarkan berbagai sumber data:
| Sumber Data | Kurs Penutupan | Perubahan (Poin) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Bloomberg | Rp17.035 | -55 | -0,32% |
| Yahoo Finance | Rp17.035 | -25 | -0,15% |
| Jisdor | Rp17.037 | -22 | -0,13% |
Perbedaan angka pada masing-masing sumber menunjukkan bahwa fluktuasi nilai tukar bisa terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat. Namun, secara umum, rupiah tetap berada di zona negatif.
Defisit APBN Capai 0,93% di Kuartal I 2026
Di tengah pelemahan nilai tukar, kondisi fiskal dalam negeri juga menjadi perhatian. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit ini lebih besar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya mencatat Rp99,8 triliun atau 0,41% terhadap PDB. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 tidak melebihi 2,68% terhadap PDB.
1. Belanja Negara Naik Tajam
Belanja total negara hingga Maret 2026 mencapai Rp815 triliun, naik 31,4% dibanding periode yang sama tahun lalu (Rp620,3 triliun). Lonjakan ini didorong oleh peningkatan pengeluaran di berbagai sektor strategis.
2. Penerimaan Negara Masih Terbatas
Penerimaan negara baru mencapai Rp574,9 triliun, dengan kontribusi terbesar dari sektor pajak sebesar Rp462,7 triliun. Angka ini naik 14,3% dari Maret 2025 yang mencatat Rp404,7 triliun.
3. Keseimbangan Primer Masih Negatif
Keseimbangan primer mencatat defisit sebesar Rp95,8 triliun. Artinya, pendapatan negara masih lebih kecil dibanding belanja di luar pembayaran bunga utang. Kondisi ini menunjukkan bahwa utang baru masih diperlukan untuk menutup kebutuhan fiskal.
Prediksi Pergerakan Rupiah Hari Selasa
Melihat berbagai tekanan yang ada, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan kembali bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Namun, secara umum, rupiah diperkirakan akan ditutup melemah di kisaran Rp17.030 hingga Rp17.080 per USD.
Pergerakan ini akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan moneter global. Investor akan terus memantau apakah ancaman blokade Selat Hormuz akan berlanjut atau sebaliknya terjadi de-escalation.
Disclaimer
Data yang disajikan dalam artikel ini bersifat terbuka dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika pasar. Nilai tukar dan data ekonomi makro dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang tidak selalu dapat diprediksi secara akurat.
Tags: donald trump, rupiah, konflik timur tengah, dolar as, rupiah melemah, defisit apbn
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













