Nasional

Dolar Amerika Serikat Menguat di Tengah Ketidakpastian Konflik dengan Iran

Retno Ayuningrum
×

Dolar Amerika Serikat Menguat di Tengah Ketidakpastian Konflik dengan Iran

Sebarkan artikel ini
Dolar Amerika Serikat Menguat di Tengah Ketidakpastian Konflik dengan Iran

pada akhir pekan menjelang akhir , mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Juli tahun lalu. Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,3 persen menjadi 100,18 pada Jumat, 27 Maret 2026. Sejauh ini dalam sebulan, indeks tersebut sudah melonjak 2,6 persen, menandai performa terbaiknya sejak Juli 2025. Lonjakan ini tidak hanya dipicu oleh faktor geopolitik, tetapi juga oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin menunda pemotongan suku bunga atau bahkan kembali menaikkannya.

Dolar Jadi Pelabuhan Aman di Tengah Ketegangan Geopolitik

Permintaan terhadap dolar sebagai mata uang safe-haven terus meningkat seiring ketidakpastian global. Investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman saat situasi dunia memanas. Dalam beberapa pekan terakhir, lonjakan harga energi akibat gangguan pasokan global juga memicu tekanan inflasi, yang semakin memperkuat daya tarik dolar.

Selain itu, ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama turut mendorong penguatan dolar. Spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin menaikkan suku bunga di kuartal mendatang semakin menguat setelah data inflasi terbaru menunjukkan tren yang lebih tinggi dari perkiraan.

1. Imbal Hasil Obligasi Naik Tajam

Salah satu indikator penting yang memperkuat penguatan dolar adalah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Pada Jumat, imbal hasil obligasi 10 tahun mencatat level tertinggi sejak Juli 2025. Lonjakan ini terjadi karena investor menjual obligasi, yang berarti permintaan terhadap dolar meningkat sebagai alternatif investasi yang lebih menarik.

2. Spekulasi Kebijakan Moneter AS

Sebelumnya, banyak analis memprediksi bahwa Federal Reserve akan mulai memotong suku bunga pada 2026. Namun, dengan kondisi ekonomi dan geopolitik saat ini, ekspektasi tersebut mulai pudar. Banyak pelaku pasar kini berspekulasi bahwa bank sentral AS justru bisa menaikkan suku bunga lagi jika tekanan inflasi terus berlanjut.

Analisis Ahli: Penguatan Dolar Lebih dari Sekadar Safe Haven

Thierry Wizman, ahli strategi FX dan suku bunga global di Macquarie, menyatakan bahwa penguatan dolar tidak hanya disebabkan oleh faktor safe-haven. Menurutnya, ada elemen fundamental yang lebih dalam.

3. Berkurangnya Ketergantungan Impor Minyak AS

“USD telah diuntungkan terhadap sebagian besar mata uang utama, meskipun di sini pun, efeknya relatif kecil. Meskipun mudah untuk menyalahkan minat ‘pencarian tempat berlindung’ dari para pedagang dan investor atas reli sementara USD, kami percaya bahwa kekuatan USD sejak 28 Februari lebih bersifat ‘fundamental’. Hal ini mencerminkan berkurangnya ketergantungan AS pada impor minyak,” ujar Wizman.

Ia menambahkan bahwa berbeda dengan krisis sebelumnya seperti tarif April 2025, kali ini dampak terhadap ekonomi AS tidak sebesar dampak pada negara-negara lain. AS memiliki ketahanan eksternal yang lebih baik, terutama dalam menghadapi lonjakan harga energi global.

Ketegangan AS-Iran Semakin Meningkat

Presiden Donald Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, langkah ini tidak banyak membawa ketenangan. Malah, ketegangan terus meningkat seiring dengan serangan yang dilancarkan oleh Israel ke beberapa infrastruktur Iran.

Menteri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa serangan Israel ke pabrik baja, pembangkit listrik, dan situs nuklir sipil merupakan pelanggaran terhadap tenggat waktu yang diberikan Trump. Iran membantah adanya negosiasi dengan Washington, menunjukkan bahwa situasi masih jauh dari titik temu.

4. Harga Minyak Naik di Atas USD110 per Barel

Akibat ketegangan ini, harga melonjak ke level di atas USD110 per barel. Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap inflasi global dan pertumbuhan ekonomi. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi, seperti Jepang dan Korea Selatan, menjadi lebih rentan terhadap tekanan nilai tukar.

Mata Uang Dunia Melemah Lawan Dolar

Tidak hanya dolar yang menguat, mata uang lainnya justru melemah secara signifikan. Euro (EUR/USD) turun 0,2 persen menjadi 1,1510. Poundsterling (GBP/USD) juga terpuruk, turun 0,5 persen ke level 1,3259. masih menghadapi tantangan akibat gangguan dari kawasan Timur Tengah.

5. Yen Jepang Sentuh Level Resistensi

Yen Jepang melemah tajam terhadap dolar, dengan USD/JPY naik 0,4 persen ke 160,25. Level ini mendekati batas intervensi pemerintah Jepang. Media lokal melaporkan bahwa jika dolar terus menguat, Bank of Japan mungkin akan melakukan langkah-langkah untuk menstabilkan nilai tukar.

6. Dolar Australia Stabil di Tengah Volatilitas

Dolar Australia (AUD/USD) terlihat relatif stabil meski sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan sebelumnya. AUD sering dijadikan indikator karena keterkaitannya dengan dan investasi global.

Perkiraan ke Depan: Apakah Dolar Akan Terus Menguat?

Banyak analis percaya bahwa konflik AS-Iran akan bersifat jangka pendek. Namun, ada juga yang mengantisipasi bahwa ketegangan bisa berlarut-lama, terutama jika harga energi tetap tinggi.

7. Risiko Geopolitik Bisa Memicu Volatilitas Jangka Panjang

Analis dari MUFG menyatakan bahwa skenario dasar mereka tetap mengarah pada konflik yang relatif singkat. Namun, jika ketegangan berkepanjangan, maka risiko terhadap mata uang-mata uang yang sensitif terhadap energi seperti yen dan won Korea Selatan akan terus tinggi.

8. Dolar Tetap Jadi Pilihan Utama Investor

Dengan kondisi global yang penuh ketidakpastian, dolar AS tetap menjadi pilihan utama investor. Kombinasi antara kekuatan fundamental ekonomi AS, ekspektasi suku bunga yang tinggi, dan peran mata uang ini sebagai safe haven membuatnya tetap dominan di pasar valuta asing.

Tabel Pergerakan Mata Uang Terhadap Dolar AS (27 Maret 2026)

Mata Uang Pair Perubahan (%) Harga Akhir
Euro EUR/USD -0,2% 1,1510
Pound GBP/USD -0,5% 1,3259
Yen USD/JPY +0,4% 160,25
Won USD/KRW +0,3% 1.350,20
Dolar Australia AUD/USD 0% 0,6720

Catatan: Data di atas bersifat simulasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi global.

Dolar AS terus menunjukkan kekuatannya di tengah gejolak geopolitik dan ekonomi global. Investor tampaknya masih memilih greenback sebagai pelabuhan aman, sementara mata uang lain berjuang untuk tetap stabil. Dengan ketegangan di Timur Tengah yang belum mereda, tren ini bisa berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.

Disclaimer: Data dan dalam artikel ini bersifat simulasi berdasarkan skenario hipotesis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi global serta kebijakan makro ekonomi.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.