Nasional

Rupiah Stabil di Tahun 2026, Ini Faktor Penyebabnya Menurut BI dan APBN Terbaru

Danang Ismail
×

Rupiah Stabil di Tahun 2026, Ini Faktor Penyebabnya Menurut BI dan APBN Terbaru

Sebarkan artikel ini
Rupiah Stabil di Tahun 2026, Ini Faktor Penyebabnya Menurut BI dan APBN Terbaru

Rupiah kembali menunjukkan performa positif di tengah dinamika pasar keuangan global. Pada penutupan perdagangan hari ini, mata uang Garuda melemah tetapi tetap dalam tren penguatan sebesar 57 poin atau 0,33 persen, mencatat level Rp17.229 per USD dari sebelumnya di posisi Rp17.286. Kurs JISDOR juga mengikuti tren serupa, naik ke Rp17.278 per USD dibandingkan Rp17.308 sebelumnya.

Penguatan ini tidak datang begitu saja. Ada beberapa faktor penting yang turut berperan, termasuk stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta intervensi Bank Indonesia () di pasar valuta asing. Dalam kondisi ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan lonjakan harga energi, kinerja APBN yang masih kokoh menjadi salah satu penopang utama rupiah.

Peran APBN dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Pemerintah saat ini memiliki posisi fiskal yang relatif kuat. Salah satu indikatornya adalah masih tersedianya Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp423 triliun. Dana ini belum digunakan, meskipun tekanan belanja subsidi akibat kenaikan harga komoditas energi mulai terasa.

  1. SAL menjadi cadangan penting bagi pemerintah untuk menahan defisit APBN tetap di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
  2. Dengan efisiensi dan realokasi anggaran, pemerintah masih mampu menjaga defisit tetap dalam koridor aman tanpa harus menggunakan seluruh dana SAL secara besar-besaran.

Langkah ini penting karena penggunaan SAL secara agresif bisa memicu tekanan pada mata uang domestik. Dengan menjaga pengeluaran tetap terkendali, pemerintah memberikan sinyal kuat pada investor bahwa stabilitas ekonomi masih terjaga.

Intervensi Bank Indonesia untuk Menjaga Kurs

Selain APBN, Bank Indonesia juga turut berperan aktif dalam menjaga stabilitas . BI tidak hanya mengandalkan kebijakan suku bunga, tetapi juga melakukan intervensi langsung di berbagai pasar valuta asing.

  1. Intervensi dilakukan secara simultan di pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF), pasar spot, dan pasar domestik Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
  2. BI juga memperluas operasi moneter valas melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan offshore, sebagai upaya memperkuat stabilitas rupiah sekaligus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa BI tidak hanya bersikap reaktif, tetapi proaktif dalam menghadapi fluktuasi pasar global. Dengan demikian, rupiah bisa tetap bertahan meski tekanan masih tinggi.

Penyebab Penguatan Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global

Meskipun harga minyak mentah dunia berada di atas USD100 per barel, jauh dari asumsi makro 2026, pemerintah masih mampu menahan kenaikan dalam negeri. Ini menjadi salah satu faktor penting yang menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah.

Kebijakan ini tidak serta merta menguras cadangan APBN. Dengan begitu, investor tidak langsung panik dan mata uang domestik tetap terjaga nilainya. Selain itu, BI yang konsisten dalam kebijakan moneter memberikan efek tenang bagi pasar.

Berikut adalah rincian data penting terkait kondisi rupiah dan APBN saat ini:

Indikator Sebelumnya Saat Ini Perubahan (%)
Kurs Rupiah (USD) Rp17.286 Rp17.229 +0,33%
JISDOR Rp17.308 Rp17.278 +0,17%
Defisit APBN Target 2026 <3% dari PDB Tetap terjaga
Saldo Anggaran Lebih (SAL) Rp423 triliun Belum digunakan

Strategi Jangka Panjang untuk Stabilitas Rupiah

Penguatan rupiah bukan hanya soal intervensi jangka pendek. Ada strategi makro yang lebih luas, termasuk pengelolaan fiskal yang lebih efisien dan diversifikasi sumber pendapatan negara.

  1. Pemerintah terus mendorong Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), khususnya dari sektor migas dan non-migas.
  2. Pengendalian belanja, khususnya subsidi, dilakukan dengan lebih selektif tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.

Langkah-langkah ini memastikan bahwa APBN tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa menjadi alat stabilisasi ekonomi. Dengan begitu, rupiah memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi goncangan global.

Peran Investor dan Pasar Internasional

global juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Saat ini, investor masih menunggu kebijakan moneter dari The Fed dan Eropa. Namun, kinerja APBN dan BI yang konsisten memberikan sinyal bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menarik.

Kebijakan BI yang proaktif, ditambah dengan APBN yang sehat, menciptakan kombinasi yang mendukung stabilitas jangka panjang. Ini penting karena investor cenderung menghindari mata uang yang tidak stabil, terutama dalam kondisi ketidakpastian global.

Disclaimer

Data dan kondisi ekonomi bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu- tergantung pada perkembangan global maupun kebijakan pemerintah dan BI. Informasi di atas disusun berdasarkan data terkini hingga dan mungkin berbeda dengan kondisi aktual saat dibaca.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.