Nasional

BPDLH Kolaborasi dengan Pihak Swasta Tingkatkan Dana Berkelanjutan untuk Petani di Wilayah Hutan Tahun 2026

Herdi Alif Al Hikam
×

BPDLH Kolaborasi dengan Pihak Swasta Tingkatkan Dana Berkelanjutan untuk Petani di Wilayah Hutan Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
BPDLH Kolaborasi dengan Pihak Swasta Tingkatkan Dana Berkelanjutan untuk Petani di Wilayah Hutan Tahun 2026

Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) kini memperluas kolaborasi dengan sektor untuk mendorong hijau di sektor kehutanan. Inisiatif ini difokuskan pada pengembangan agroforestri yang melibatkan petani hutan, khususnya di bidang kakao dan kopi. Melalui kerja sama ini, BPDLH berharap mampu menciptakan rantai pasok yang transparan, akuntabel, dan memiliki telusur tinggi.

ini melibatkan beberapa perusahaan global seperti PT Mars Symbioscience Indonesia, PT Olam Food Ingredients (OFI) Indonesia, dan PT Papandayan Cocoa Industries (Barry Callebaut). Mereka berperan sebagai offtaker sekaligus mitra strategis dalam memberikan pendampingan teknis dan akses pasar yang lebih stabil bagi petani.

Penguatan Pembiayaan Hijau untuk Petani Hutan

Kolaborasi ini tidak hanya sebatas penyaluran dana. Tujuannya lebih luas, yaitu membangun ekosistem pembiayaan hijau yang berkelanjutan dan inklusif. Salah satu instrumen utama yang digunakan adalah Fasilitas Dana Bergulir (FDB), yang ditujukan bagi kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR) dan Perhutanan Sosial.

FDB dirancang untuk mendukung usaha-usaha produktif di sektor kehutanan dan agroforestri. Targetnya adalah membantu petani agar bisa berkembang menjadi entitas usaha yang bankable dan memiliki rekam jejak finansial yang baik. Ini penting agar bisa menarik perhatian lembaga keuangan formal di masa depan.

1. Penyaluran Dana Bergulir ke Kelompok Tani Hutan

Penyaluran FDB telah dilakukan di beberapa wilayah strategis di Indonesia. Di antaranya:

  • 500 petani kakao di Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur, Sulawesi Selatan
  • 200 petani kakao di Kabupaten Lampung Timur dan Pesawaran, Lampung
  • 150 petani kopi di Kelompok Perhutanan Sosial Rengganis, Jember dan Tanggamus, Jawa Timur dan Lampung

2. Skema Pembiayaan yang Fleksibel

Skema dana bergulir ini menawarkan fleksibilitas. Persyaratan yang inklusif dan siklus pengembalian yang disesuaikan membuatnya lebih ramah bagi petani yang memiliki usaha kehutanan atau agroforestri. Ini memungkinkan mereka untuk fokus pada pengembangan usaha tanpa terbebani ketentuan yang terlalu ketat.

3. Penerapan Blended Finance Model (BFM)

BFM menjadi salah satu pilar utama dalam skema ini. Model ini menggabungkan akses permodalan dengan pendampingan teknis yang intensif. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas, kualitas hasil panen, serta daya saing produk di pasar global.

4. Integrasi dengan Offtaker Global

Melalui kemitraan dengan perusahaan global, petani mendapatkan kepastian pasar. Ini mengurangi risiko usaha dan memastikan keberlanjutan ekonomi di tingkat tapak. Offtaker seperti PT Mars Symbioscience dan Barry Callebaut berperan penting dalam menyerap hasil panen secara langsung.

Membangun Rekam Jejak Finansial Petani

Selain penyaluran dana, BPDLH juga fokus pada literasi keuangan dan penguatan data petani. Dengan sistem monitoring berbasis data yang lebih akurat, BPDLH berharap bisa meningkatkan kualitas pengambilan kebijakan serta membangun kepercayaan lembaga keuangan lainnya.

1. Literasi Keuangan Petani

“Melalui skema dana bergulir, kita tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga membangun rekam jejak finansial petani,” kata Direktur Utama BPDLH, Joko Tri Haryanto. Ini menjadi langkah awal agar petani bisa diakui sebagai mitra yang layak oleh bank dan investor.

2. Pengelolaan Data Berbasis Sistem

Integrasi data juga menjadi fokus utama. Dengan sistem yang terintegrasi, BPDLH bisa memantau penggunaan dana, produktivitas usaha, hingga ekonomi yang dihasilkan. Ini membantu dalam evaluasi dan pengembangan program ke depannya.

3. Kemitraan Jangka Panjang

Kemitraan ini dirancang sebagai jangka panjang. Dengan melibatkan sektor swasta, diharapkan bisa tercipta model bisnis yang berkelanjutan. Dana yang disalurkan bisa terus bergulir dan memberi dampak ekonomi yang luas.

Dukungan terhadap Pembangunan Rendah Karbon

Inisiatif ini sejalan dengan agenda nasional pembangunan rendah karbon. Melalui model agroforestri dan pembiayaan tunda tebang, kolaborasi ini membuktikan bahwa perlindungan fungsi ekologis hutan bisa berjalan selaras dengan peningkatan .

1. Agroforestri sebagai Solusi Berkelanjutan

Agroforestri tidak hanya memberi hasil ekonomi, tapi juga menjaga keseimbangan ekosistem. Petani bisa tetap bercocok tanam tanpa merusak hutan. Ini adalah bentuk nyata dari yang ramah lingkungan.

2. Tunda Tebang untuk Keberlanjutan

Program tunda tebang juga menjadi bagian penting dari skema ini. Petani tidak langsung menebang pohon, melainkan memanfaatkannya secara bijak untuk mendukung usaha lain seperti pertanian atau peternakan. Ini menciptakan nilai tambah tanpa mengorbankan fungsi hutan.

Potensi untuk Dikembangkan Lebih Luas

Kolaborasi ini diharapkan bisa menjadi pilot project atau praktik baik bagi pengembangan skema pembiayaan hijau lainnya di Indonesia. Dengan model yang tepat, setiap dana yang disalurkan bisa terus berputar dan memberi manfaat jangka panjang.

1. Replikasi Model di Wilayah Lain

Jika berhasil, model ini bisa direplikasi ke wilayah lain yang memiliki potensi agroforestri tinggi. Ini akan memperluas akses pembiayaan hijau bagi lebih banyak petani hutan.

2. Keterlibatan Lebih Banyak Pihak

Ke depannya, BPDLH berharap bisa melibatkan lebih banyak pihak, termasuk lembaga keuangan, asosiasi petani, dan pemerintah daerah. Kolaborasi lintas sektor ini akan mempercepat pencapaian pembangunan berkelanjutan.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbuka dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan dan kondisi lapangan. Angka dan target yang disebutkan merupakan hasil dari data terkini yang tersedia hingga .

Tags: kopi, petani, hutan, kehutanan, ekonomi hijau, perhutani

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.