Nasional

PLN EPI Tingkatkan Kapasitas Suplai Energi Terbarukan Hingga 2026

Rista Wulandari
×

PLN EPI Tingkatkan Kapasitas Suplai Energi Terbarukan Hingga 2026

Sebarkan artikel ini
PLN EPI Tingkatkan Kapasitas Suplai Energi Terbarukan Hingga 2026

PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus menggelar langkah strategis untuk memperkuat rantai pasok bioenergi di Tanah . Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung sekaligus mempercepat transisi menuju target net zero emission (NZE) 2060. Terbaru, PLN EPI menjalin kerja sama dengan PT Kalimantan Powerindo melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan dan pengelolaan bioenergi secara .

Kemitraan ini menunjukkan komitmen serius dari kedua belah pihak dalam membangun ekosistem biomassa yang berkelanjutan. Dengan fokus pada pengembangan hub dan sub-hub biomassa, diharapkan rantai pasok bisa lebih efisien, andal, dan ramah lingkungan. Biomassa sendiri menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang potensinya masih sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia.

Penguatan Ekosistem Biomassa Menuju Ketahanan Energi

Pengembangan bioenergi bukan lagi hal baru, tapi tantangan utamanya terletak pada bagaimana membangun sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. PLN EPI menyadari bahwa pengelolaan biomassa yang efektif tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi antara berbagai pihak, mulai dari pengadaan bahan baku hingga distribusi ke pembangkit listrik.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menyebut bahwa pendekatan terpadu ini penting untuk menjaga keandalan pasokan energi. Selain itu, ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung target NZE. Biomassa, kata dia, memiliki peran strategis karena sifatnya yang bisa diperbaharui dan potensinya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

1. Pengembangan Hub dan Sub-Hub Biomassa

Model hub dan sub-hub menjadi salah satu untuk mengatasi fragmentasi rantai pasok biomassa. Dengan sistem ini, bahan baku biomassa bisa dikonsolidasikan di satu titik sebelum didistribusikan ke pembangkit. Ini tidak hanya meningkatkan efisiensi logistik, tapi juga memastikan kualitas bahan baku yang seragam.

2. Standarisasi Kualitas Bahan Baku

Salah satu tantangan dalam pengelolaan biomassa adalah kualitas bahan baku yang tidak seragam. Dengan pengembangan hub terintegrasi, standarisasi bisa dilakukan secara konsisten. Ini penting agar biomassa yang digunakan dalam pembangkit listrik memiliki spesifikasi yang memenuhi syarat teknis.

3. Efisiensi Distribusi ke Pembangkit Listrik

Dengan konsolidasi di hub, distribusi ke pembangkit bisa dilakukan secara lebih efisien. Ini mengurangi biaya logistik dan waktu pengiriman, terutama untuk pembangkit yang berada di daerah terpencil atau terpapar pasokan yang tidak stabil.

Peran Kalimantan Sebagai Pusat Energi Biomassa

PT Kalimantan Powerindo turut menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem biomassa nasional. Perusahaan ini memiliki lokasi strategis di Kalimantan Timur yang dikenal kaya akan sumber daya biomassa, terutama dari limbah dan aktivitas pertambangan.

Direktur Utama PT Kalimantan Powerindo, Rudy Gunawan, menyebut bahwa Kalimantan memiliki potensi besar menjadi hub energi dan logistik biomassa. Di sekitar area operasional perusahaan, terdapat banyak sumber energi terbarukan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

1. Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit

Limbah kelapa sawit seperti cangkang sawit (palm kernel shell/PKS) dan empty fruit bunch (EFB) menyimpan potensi besar sebagai bahan baku biomassa. Namun, saat ini pemanfaatannya masih terfragmentasi dan belum terkelola secara efisien.

2. Pengembangan Transportasi Efisien

Dengan pendekatan hub terintegrasi, sistem transportasi untuk pengumpulan, pengolahan, dan distribusi biomassa bisa dioptimalkan. Ini akan meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional secara keseluruhan.

3. Peningkatan Nilai Tambah Ekonomi

Model pengembangan biomassa ini tidak hanya memberi manfaat dari sisi energi, tapi juga . Dengan pengelolaan yang baik, nilai tambah bisa ditingkatkan, lapangan kerja tercipta, dan sekitar meningkat.

Jenis Bahan Baku Biomassa yang Dikembangkan

Dalam kerja sama ini, PLN EPI dan Kalimantan Powerindo akan memanfaatkan berbagai jenis bahan baku biomassa. Bahan baku ini dipilih berdasarkan ketersediaan dan potensi energi yang dimiliki.

Berikut jenis bahan baku yang akan dikembangkan:

Jenis Bahan Baku Potensi Keterangan
Cangkang Sawit (PKS) Tinggi Limbah pengolahan kelapa sawit, padat energi
Empty Fruit Bunch (EFB) Tinggi Limbah padat dari pabrik kelapa sawit
Biomassa Kayu Sedang Diperoleh dari limbah kehutanan dan industri kayu
BioCNG Menengah Gas terbarukan hasil pengolahan limbah organik

Dukungan untuk Program Cofiring di PLTU

Salah satu tujuan utama dari pengembangan rantai pasok biomassa ini adalah mendukung program cofiring di PLTU. Program ini memungkinkan penggunaan biomassa sebagai campuran bersama batu bara untuk mengurangi emisi karbon.

Dengan sistem hub dan sub-hub, pasokan biomassa untuk program cofiring bisa lebih stabil dan terjamin. Ini menjadi langkah konkret dalam mendorong penggunaan energi terbarukan di sektor kelistrikan.

Potensi Replikasi Model Biomassa Hub

Kerja sama ini diharapkan menjadi model pengembangan bioenergi terintegrasi yang bisa direplikasi di daerah lain. Dengan pendekatan yang sistematis dan terpadu, pengembangan biomassa bisa dilakukan secara lebih cepat dan efisien.

PLN EPI menegaskan perannya sebagai penggerak utama ekosistem bioenergi nasional. Dengan kolaborasi yang tepat, pengembangan energi terbarukan bisa menjadi pendorong utama dalam mencapai target NZE 2060.

Disclaimer

dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas hingga April 2026. Perkembangan kebijakan, teknologi, dan kemitraan di sektor energi bisa berubah sewaktu-waktu. Informasi yang disajikan dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum dan tidak mengikat secara hukum atau kebijakan.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.