Wall Street mencatatkan kenaikan tipis pada Selasa, 7 April 2026, menyusul ketegangan geopolitik yang kembali mereda. Pasca-permintaan Pakistan kepada Presiden Donald Trump untuk memperpanjang tenggat waktu pembukaan kembali Selat Hormuz, pasar saham AS mulai menunjukkan tanda-tanda optimisme meski tetap waspada.
Indeks S&P 500 naik tipis 0,1 persen, menutup di level 6.617,74 poin. Nasdaq Composite juga naik 0,1 persen, berakhir di 22.017,85 poin. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average justru terkoreksi 0,2 persen ke level 46.584,33 poin. Pergerakan ini terjadi setelah sebelumnya sempat menghapus kerugian hingga 1,8 persen pada sesi sebelumnya.
Ketegangan Iran-AS dan Dampaknya ke Pasar Saham
Ketegangan antara AS dan Iran terus memanas jelang tenggat waktu kritis. Trump kembali menegaskan bahwa Iran hanya punya waktu hingga pukul 20:00 ET untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan militer dari AS. Ancaman ini memicu volatilitas di pasar saham, meski tidak cukup untuk menyebabkan koreksi besar.
Trump juga menyampaikan pernyataan keras melalui Truth Social, menyebut bahwa dunia mungkin akan menghadapi momen sejarah yang menentukan. Retorika keras ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati, meski harapan akan gencatan senjata sempat mengerek optimisme.
1. Permintaan Pakistan untuk Gencatan Senjata
Pakistan, sebagai negara non-blok, meminta agar semua pihak mematuhi gencatan senjata selama dua minggu. Langkah ini dianggap sebagai upaya diplomasi yang bisa meredam ketegangan dan memberikan ruang bagi negosiasi.
2. Penolakan Iran terhadap Perdamaian
Iran dikabarkan telah menghentikan pembicaraan langsung dengan AS setelah ancaman Trump. Meski begitu, negosiasi melalui mediator masih berlangsung. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang tinggi di pasar global.
3. Ancaman Serangan Militer AS
Trump mengancam akan menyerang infrastruktur kritis Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Ancaman ini memicu spekulasi bahwa eskalasi konflik bisa berdampak pada harga minyak dan rantai pasok energi global.
Dampak Ekonomi dari Ketegangan Timur Tengah
Ketegangan di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga pada ekonomi global. Data dari AS menunjukkan bahwa sektor jasa tumbuh lebih lambat dari perkiraan pada Maret, meski tetap diwarnai oleh kontraksi lapangan kerja dan lonjakan harga.
Indikator inflasi, seperti harga yang dibayarkan oleh konsumen, melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2022. Ini menunjukkan bahwa guncangan harga energi akibat ketegangan geopolitik mulai terasa di lapisan konsumen.
1. Laporan CPI Maret 2026
Pasar tengah menantikan rilis data CPI (Consumer Price Index) Maret yang akan dirilis pada Jumat mendatang. Data ini akan menjadi indikator seberapa besar dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi konsumen.
2. Prediksi Inflasi dari Deutsche Bank
Jim Reid dari Deutsche Bank memperkirakan bahwa lonjakan harga bensin sekitar 25 persen akan mendorong CPI inti naik 0,95 persen secara bulanan. Ini akan meningkatkan laju inflasi tahunan dari 2,4 persen menjadi 3,4 persen.
3. Data PCE Inti Februari
Sebelum CPI dirilis, data PCE inti Februari akan menjadi indikator awal. Deutsche Bank memperkirakan kenaikan 0,39 persen secara bulanan, yang akan menaikkan inflasi tahunan menjadi 4,5 persen untuk 3 bulan terakhir dan 3,5 persen untuk 6 bulan terakhir.
Pergerakan Saham dan Sektor Unggulan
Di tengah ketidakpastian, beberapa saham teknologi dan kesehatan justru mencatatkan kenaikan. Salah satunya adalah Broadcom yang melonjak lebih dari 6 persen setelah mengumumkan kolaborasi strategis dengan Google.
1. Broadcom dan Google Sepakati Pengembangan AI
Broadcom menandatangani perjanjian jangka panjang dengan Google untuk mengembangkan prosesor generasi berikutnya yang dioptimalkan untuk kecerdasan buatan. Perjanjian ini mencakup pasokan jaringan dan komponen untuk rak AI Google hingga 2031.
2. Akses untuk Startup AI Anthropic
Broadcom juga memberikan akses kepada startup AI Anthropic untuk menggunakan sekitar 3,5 gigawatt kapasitas komputasi AI dari prosesor Google. Langkah ini diharapkan akan mempercepat inovasi di bidang kecerdasan buatan.
3. Sektor Kesehatan Menguat
Sektor kesehatan juga mencatatkan kenaikan signifikan, didorong oleh optimisme terhadap pengembangan teknologi medis berbasis AI dan kolaborasi lintas industri.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan situasi geopolitik dan ekonomi global. Keputusan investasi sebaiknya diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor dan konsultasi dengan ahli keuangan.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













