Nasional

Kenaikan Harga Minyak Dunia Dipicu Kekhawatiran Terhadap Stabilitas Pasokan Global

Herdi Alif Al Hikam
×

Kenaikan Harga Minyak Dunia Dipicu Kekhawatiran Terhadap Stabilitas Pasokan Global

Sebarkan artikel ini
Kenaikan Harga Minyak Dunia Dipicu Kekhawatiran Terhadap Stabilitas Pasokan Global

kembali mengalami kenaikan tajam. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait eskalasi antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Brent, salah satu benchmark minyak , bahkan berhasil menembus level psikologis USD100 per barel. Tak hanya itu, West Texas Intermediate (WTI) juga ikut naik, mencerminkan gejolak yang terus berlangsung di kawasan strategis penghasil minyak terbesar dunia.

Lonjakan harga ini dipicu oleh situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang menjadi koridor penting bagi distribusi minyak global. Meski sebagian kapal sempat melintas, mayoritas operator pelayaran memilih menahan diri karena risiko keamanan yang tinggi serta ketidakpastian politik. Iran sendiri terus memperingatkan bahwa siapa pun yang membawa untuk AS atau sekutunya akan menjadi target jika nekad melewati selat tersebut.

1. Dinamika Pasar Minyak Dunia

1. Harga Minyak Naik Lebih dari 3 Persen

Pada perdagangan Selasa, 18 Maret 2026, harga minyak Brent naik hingga 3,2 persen, mencapai USD103,38 per barel. Sedangkan WTI naik 3,1 persen menjadi USD95,31 per barel. Kenaikan ini merupakan bagian dari tren bullish yang terus berlanjut sejak awal Maret, seiring eskalasi ketegangan di Iran.

2. Volume Perdagangan Terpengaruh

Ketidakstabilan di Selat Hormuz membuat banyak perusahaan pelayaran membatalkan rute pengiriman. Sejumlah produsen minyak di Teluk Persia terpaksa mengurangi produksi atau mencari jalur alternatif yang lebih aman namun lebih mahal.

2. Faktor Geopolitik yang Memacu Lonjakan Harga

1. Blokade Selat Hormuz oleh Iran

Iran secara aktif menjaga jalur Selat Hormuz tetap tertutup bagi kapal-kapal yang dianggap membahayakan kepentingannya. Ancaman serangan terhadap kapal yang melintas membuat asuransi pelayaran menjadi sangat mahal, bahkan tidak tersedia di beberapa kasus.

2. Serangan Drone dan Rudal ke Infrastruktur Minyak

Serangan terhadap infrastruktur minyak di Uni Emirat Arab (UEA) semakin memperburuk suasana. Salah satunya adalah kebakaran di pusat industri minyak akibat drone, serta insiden di pelabuhan Fujairah yang menyasar kapal tanker. Ini semua menunjukkan bahwa ancaman terhadap rantai pasokan energi global bukan sekadar retorika.

3. Respons Internasional yang Terbatas

Presiden Donald Trump meminta bantuan NATO untuk mengamankan jalur tersebut, namun respons dari sekutu terbilang minim. Banyak negara enggan terlibat langsung, terutama mengingat risiko eskalasi yang tinggi. Trump bahkan sempat mengancam akan menunda pertemuan penting dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, sebagai bentuk tekanHarga minyak dunia kembali melonjak tajam. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Brent, salah satu patokan harga minyak global, bahkan berhasil menembus level psikologis USD100 per barel.

Kenaikan ini bukan datang dari ketidakhadiran alasan. Selat Hormuz, yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak global, masih sebagian besar terganggu. Meski sejumlah kapal sempat melintas, ancaman serius dari Iran membuat banyak perusahaan pelayaran memilih menghindari area tersebut. Ini memicu kekhawatiran soal pasokan minyak yang bisa berdampak luas ke seluruh dunia.

Lonjakan Harga Minyak di Tengah Ketegangan Geopolitik

Ketika situasi politik dan militer memanas, pasar minyak langsung merasakan dampaknya. Begitu juga kali ini. Kontrak minyak Brent naik hingga 3,2 persen, mencatatkan harga USD103,38 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI), benchmark minyak AS, naik 3,1 persen ke posisi USD95,31 per barel.

Lonjakan ini terjadi meski sehari sebelumnya sempat terlihat sedikit koreksi. Pasalnya, laporan menyebutkan bahwa beberapa kapal berhasil melintasi Selat Hormuz. Namun, optimisme itu tidak bertahan lama. Ancaman nyata dari Iran kembali mengganjal, terutama setelah Presiden Donald Trump mengeluh soal minimnya dukungan dari sekutu NATO untuk menjaga jalur tersebut.

Iran sendiri tidak main-main. Negara itu telah secara terbuka mengancam akan menyerang kapal apa pun yang membawa barang-barang yang menguntungkan AS atau sekutunya. Hal ini membuat para pemilik kapal dan perusahaan asuransi enggan mengambil risiko.

1. Penutupan Parsial Selat Hormuz

Salah satu faktor utama lonjakan harga minyak adalah kondisi Selat Hormuz yang belum sepenuhnya aman untuk dilintasi. Jalur ini merupakan arteri penting bagi perdagangan minyak global.

Banyak kapal kontainer dan tanker memilih menunda pelayaran karena risiko keamanan dan biaya asuransi yang tinggi. Produsen minyak di Teluk Persia pun terpaksa mengalihkan rute pengiriman atau bahkan mengurangi produksi.

2. Serangan Terhadap Kapal dan Fasilitas Minyak

Tidak hanya ancaman verbal, aksi nyata pun terus terjadi. Pagi Selasa, sebuah proyektil mengenai kapal tanker di dekat pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab. Meski kerusakannya tidak parah, insiden ini menambah daftar kejadian yang membuat investor gelisah.

Belum usai dari insiden itu, sebuah drone dikabarkan menyebabkan kebakaran di pusat industri minyak utama di UEA. Dua kejadian dalam waktu singkat ini memperburuk ekspektasi pasar terhadap pasokan minyak global.

Inflasi Global Makin Nyata

Lonjakan harga minyak bukan cuma soal angka di pasar komoditas. Ini juga berdampak langsung ke dompet masyarakat. Kenaikan harga energi cenderung mendorong laju , yang memaksa bank sentral di berbagai negara harus kembali waspada.

Reserve Bank of Australia (RBA) misalnya, saja menaikkan ke level tertinggi dalam satu dekade. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap risiko inflasi yang disebabkan oleh gangguan pasokan energi global.

Beberapa bank sentral besar lainnya, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan Bank , juga bakal menggelar pertemuan dalam waktu dekat. Semua mata tertuju pada langkah-langkah antisipatif yang akan mereka ambil.

3. Korelasi Negatif Antara Minyak dan Saham

Menariknya, tren harga minyak saat ini memiliki hubungan erat dengan performa pasar saham. Sepanjang tahun ini, WTI dan indeks cenderung bergerak berlawanan arah.

Fairlead Strategies mencatat bahwa WTI sempat menguji resistensi di kisaran USD100-102 per barel sebelum mundur sedikit. Di tengah koreksi jangka pendek ini, pasar saham bisa mendapat jeda stabilisasi singkat.

Dinamika Hubungan Internasional Turut Memperparah Situasi

Di tengah gejolak ini, tokoh-tokoh politik global ikut memainkan perannya. Presiden Trump, misalnya, kembali menunjukkan sikap tegas terhadap Tiongkok. Ia meminta agar pertemuan dengan Presiden Xi Jinping ditunda, karena merasa Beijing tidak cuk

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.