Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 7 April 2026. Penutupan hari ini mencatatkan nilai tukar di level Rp17.105 per USD, turun 70 poin atau sekitar 0,41 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.035 per USD. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak global yang berdampak pada ekspektasi inflasi serta kebijakan moneter.
Data dari berbagai sumber menunjukkan konsistensi arah pergerakan rupiah yang cenderung tertekan. Bloomberg mencatat penutupan di level Rp17.105, sementara Yahoo Finance mencatat rupiah di posisi Rp17.090 per USD. Data resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga mencatat pelemahan ke level Rp17.092 per USD. Meski terdapat sedikit perbedaan angka, arah pergerakan tetap sinkron, yakni melemah.
Sentimen Global Tekan Rupiah
Pergerakan rupiah tidak lepas dari situasi global yang penuh ketidakpastian. Investor tengah waspada terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump telah menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Penolakan Iran terhadap proposal gencatan senjata yang diajukan AS semakin memperbesar risiko benturan bersenjata.
Iran menolak usulan AS yang mengusulkan gencatan senjata selama 45 hari dengan pembukaan selat secara bertahap. Sebagai respons, Iran menuntut penghentian permusuhan permanen, jaminan keamanan, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan yang dialami. Trump sendiri memperingatkan bahwa kegagalan mematuhi tenggat waktu bisa memicu serangan militer AS ke infrastruktur Iran.
1. Lonjakan Harga Minyak Picu Ketidakstabilan Pasar
Lonjakan harga minyak mentah ke level USD113 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang hanya memperhitungkan harga USD70 per barel, menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah. Kenaikan ini bukan hanya berdampak pada anggaran subsidi energi, tetapi juga memperlebar defisit APBN.
2. Tekanan pada APBN Semakin Berat
Subsidi energi yang belum tepat sasaran semakin memperburuk situasi. BBM bersubsidi masih mudah diakses oleh semua kalangan, termasuk kelompok mampu. Akibatnya, subsidi yang seharusnya melindungi masyarakat rentan justru dinikmati oleh pihak yang tidak berhak.
3. Distribusi Subsidi yang Tidak Merata
Kelompok seperti nelayan atau petani yang seharusnya menjadi penerima utama subsidi justru sering kehabisan kuota atau mengalami kesulitan akses. Ini menunjukkan bahwa mekanisme distribusi masih perlu diperbaiki agar lebih efektif dan adil.
Dampak pada Stabilitas Fiskal
Kondisi ini membuat pemerintah semakin terjepit dalam mengelola anggaran. Lonjakan harga energi global berisiko memperlebar defisit fiskal jika tidak diimbangi dengan langkah efisiensi. Namun, penyesuaian harga BBM secara langsung bukanlah solusi ideal mengingat daya beli masyarakat yang masih lemah.
1. Subsidi Harus Lebih Tepat Sasaran
Fokus utama saat ini adalah mempertajam sasaran subsidi. Dengan harga minyak global yang melonjak lebih dari 60 persen di atas asumsi APBN, tekanan langsung dirasakan pada anggaran negara. Subsidi dan kompensasi yang membengkak menjadi beban besar.
2. Efisiensi Belanja Jadi Alternatif Realistis
Langkah efisiensi belanja dan realokasi anggaran dinilai lebih realistis dalam jangka pendek. Pemerintah perlu meninjau ulang alokasi anggaran untuk memastikan bahwa dana yang tersedia digunakan secara efektif dan efisien.
3. Menjaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global
Dengan situasi global yang penuh gejolak, menjaga stabilitas ekonomi menjadi tantangan tersendiri. Kebijakan moneter dan fiskal harus seimbang agar tidak memicu inflasi lebih lanjut atau memperburuk defisit.
Perkiraan Pergerakan Rupiah
Melihat situasi saat ini, analis memperkirakan rupiah akan terus mengalami fluktuasi pada perdagangan Rabu besok. Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan ditutup melemah di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.150 per USD. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif global serta tekanan pada kondisi fiskal domestik.
Tabel Perbandingan Data Kurs Rupiah terhadap USD (Selasa, 7 April 2026)
| Sumber Data | Kurs (Rp/USD) | Perubahan (Poin) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Bloomberg | 17.105 | -70 | -0,41% |
| Yahoo Finance | 17.090 | -58 | -0,34% |
| Jisdor | 17.092 | -55 | -0,32% |
Penutup
Rupiah yang tertekan hari ini mencerminkan situasi global yang semakin tidak menentu. Lonjakan harga minyak, ketegangan geopolitik, dan tekanan pada APBN menjadi kombinasi yang cukup berat bagi stabilitas nilai tukar. Pemerintah dan Bank Indonesia harus terus waspada dan siap mengambil langkah antisipatif agar rupiah tetap terjaga di tengah gejolak global.
Disclaimer: Data kurs dan harga minyak bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi global dan kebijakan moneter.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













