Nasional

Emas Diprediksi Naik Tajam Akibat Ketegangan Militer antara Israel-AS dan Iran

Retno Ayuningrum
×

Emas Diprediksi Naik Tajam Akibat Ketegangan Militer antara Israel-AS dan Iran

Sebarkan artikel ini
Emas Diprediksi Naik Tajam Akibat Ketegangan Militer antara Israel-AS dan Iran

Ilustrasi serangan udara di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memicu lonjakan harga emas secara global. Situasi geopolitik yang tidak stabil kerap membuat investor mencari aset aman, dan emas menjadi salah satu incarannya.

Lonjakan permintaan terhadap logam mulia ini dipicu oleh eskalasi serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar komoditas, menyebut bahwa kondisi ini bisa mendorong harga emas dunia melonjak ke level US$5.500 per troy ounce dalam hitungan jam.

Harga Emas Dunia Diprediksi Melesat Tajam

Ketegangan di kawasan Timur Tengah bukan hal baru, tapi kali ini dampaknya terasa lebih luas. Serangan yang dilancarkan oleh Israel dan AS ke sejumlah target di Iran dianggap sebagai salah satu eskalasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pihak memperkirakan bahwa ini baru awal dari konflik yang lebih panjang.

1. Investor Berebut Aset Safe Haven

Emas selalu jadi pilihan utama saat ketidakpastian politik dan ekonomi meningkat. Saat situasi dunia tidak menentu, investor cenderung menjauhkan aset berisiko dan beralih ke logam mulia. Ini karena emas dianggap sebagai instrumen yang relatif stabil dan tidak mudah tergerus inflasi atau gejolak pasar.

2. Gap Up Diprediksi di Awal Perdagangan

Menurut Ibrahim, harga emas dunia berpotensi mengalami gap up di awal perdagangan. Lonjakan ini bisa terjadi dalam hitungan jam setelah berita serangan tersebar. Bahkan, dalam dua hari ke depan, harga bisa mencapai US$5.500 per troy ounce.

3. Dolar Melemah, Emas Makin Menarik

Salah satu faktor yang memperkuat kenaikan harga emas adalah pelemahan nilai tukar AS. Saat dolar melemah, harga komoditas yang diperdagangkan dalam dolar seperti emas cenderung naik. Ini karena investor butuh lebih sedikit dolar untuk membeli emas, sehingga permintaan meningkat.

Dampak ke Pasar Domestik

Lonjakan harga emas dunia berdampak langsung ke pasar lokal. Harga logam mulia di Indonesia diproyeksikan naik ke kisaran Rp3.300.000 hingga Rp3.400.000 per gram. Kenaikan ini sejalan dengan pergerakan rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar.

1. Rupiah Terusik, Harga Emas Naik

Pelemahan membuat harga emas di pasar domestik ikut terdorong naik. Karena sebagian besar pasokan emas di Indonesia masih bergantung pada impor, jadi faktor penting.

2. Minat Investor Lokal Meningkat

Banyak investor lokal yang mulai membeli emas sebagai lindung nilai. Apalagi, saat ini suku bunga bank sentral dunia cenderung rendah, membuat emas lebih menarik dibandingkan instrumen berbasis bunga seperti deposito atau obligasi.

3. Antam dan Pegadaian Diserbu

Permintaan emas batangan dari PT Aneka Tambang (Antam) dan meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai memanfaatkan emas sebagai instrumen investasi jangka pendek.

Faktor Pemicu Kenaikan Emas Global

Tak hanya konflik di Timur Tengah, ada beberapa faktor lain yang turut mendorong kenaikan harga emas secara global. Semua ini saling terkait dan memperkuat ekspektasi kenaikan jangka pendek.

1. Inflasi yang Terus Meningkat

Inflasi global masih menjadi perhatian utama bank sentral di seluruh dunia. Saat dan jasa terus naik, nilai uang menurun. Emas dianggap sebagai hedge terhadap inflasi karena nilainya cenderung stabil dalam jangka panjang.

2. Kebijakan Moneter yang Longgar

Bank sentral di sejumlah negara masih menjalankan kebijakan moneter yang longgar. Ini berarti likuiditas di masih tinggi, dan sebagian dana mengalir ke aset seperti emas.

3. Sentimen Negatif di Pasar Saham

Saat investor merasa khawatir dengan kondisi pasar saham, mereka cenderung menjual saham dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Emas jadi salah satu pilihannya.

Perbandingan Harga Emas Sebelum dan Sesudah Eskalasi

Berikut adalah estimasi perubahan harga emas dunia dan domestik sebelum dan sesudah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Parameter Sebelum Eskalasi Setelah Eskalasi
Harga Emas Dunia US$4.800 per troy ounce US$5.400 – US$5.500 per troy ounce
Harga Emas Domestik Rp2.900.000 – Rp3.000.000 per gram Rp3.300.000 – Rp3.400.000 per gram
Nilai Tukar Rupiah Rp15.500 per USD Rp16.200 per USD
Sentimen Pasar Netral Negatif

Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi global.

Strategi Investasi Emas Saat Ketegangan Geopolitik

Bagi investor yang ingin memanfaatkan lonjakan harga emas, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan. Tidak semua investor harus langsung membeli emas fisik, ada berbagai instrumen yang bisa dipilih sesuai tujuan dan .

1. Beli Emas Batangan untuk Jangka Pendek

Emas batangan dari Antam atau produk sejenis cocok untuk investor yang ingin menyimpan logam mulia secara fisik. Ini bisa dijual kapan saja saat harga naik.

2. Investasi Reksa Dana Emas

emas menawarkan fleksibilitas tinggi karena bisa diperdagangkan secara online. Cocok bagi investor yang ingin terhindar dari penyimpanan fisik.

3. Trading Emas Digital

Platform digital memungkinkan investor melakukan trading emas secara real time. Cocok bagi mereka yang punya pengalaman dan ingin ambil keuntungan dari fluktuasi harga .

Disclaimer

Harga emas sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang dinamis, termasuk perkembangan geopolitik, kebijakan moneter, dan fluktuasi pasar global. Prediksi harga dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan data dan analisis saat ini. Nilai aktual bisa berbeda tergantung situasi yang terjadi di lapangan. Investasi emas mengandung risiko, termasuk risiko penurunan harga jangka pendek. Pastikan untuk melakukan riset dan pertimbangan mandiri sebelum memutuskan investasi.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.