Nasional

Penerapan Sistem Tol Bitcoin di Selat Hormuz Dorong Lonjakan Harga Bitcoin Hingga 2026

Retno Ayuningrum
×

Penerapan Sistem Tol Bitcoin di Selat Hormuz Dorong Lonjakan Harga Bitcoin Hingga 2026

Sebarkan artikel ini
Penerapan Sistem Tol Bitcoin di Selat Hormuz Dorong Lonjakan Harga Bitcoin Hingga 2026

Harga bitcoin melonjak hampir enam persen dalam sehari, mendekati level USD75.000. Lonjakan ini terjadi tak lama setelah Amerika Serikat melakukan blokade di Selat Hormuz. Respons Iran datang tak biasa: mewajibkan pembayaran “tol” dalam bentuk bitcoin bagi kapal tanker yang melintas.

Langkah ini langsung menciptakan permintaan besar terhadap aset kripto paling populer itu. Tak hanya itu, fenomena ini juga memicu short squeeze besar-besaran yang menyapu posisi short senilai ratusan juta dolar . Dalam dunia investasi, momen seperti ini bisa jadi pemicu volatilitas ekstrem, dan kali ini dampaknya terasa hingga ke .

Dinamika dan Peran Bitcoin sebagai Aset Strategis

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, aset kripto mulai menunjukkan peran lebih dari sekadar alat spekulasi. Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyebut bahwa lonjakan harga bitcoin kali ini tidak lepas dari kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi makro.

Salah satunya adalah keputusan Iran untuk menggunakan bitcoin sebagai alat pembayaran tol di Selat Hormuz. Ini bukan sekadar langkah ekonomi biasa, tapi strategi untuk menghindari sanksi yang selama ini membatasi akses mereka ke sistem keuangan global.

Dengan memanfaatkan blockchain, transaksi bisa dilakukan tanpa melibatkan bank atau lembaga keuangan yang berada di bawah pengaruh AS. Ini menunjukkan bahwa teknologi kripto mulai menjadi bagian dari taktik ekonomi negara-negara yang ingin tetap beroperasi di tengah tekanan global.

Inflasi AS dan Sentimen Investor Menuju Aset Alternatif

Sementara itu, data inflasi AS (CPI) untuk Maret 2026 mencatatkan angka 3,3 persen, naik dari rata-rata 2,4 hingga 3,0 persen dalam dua tahun terakhir. Lonjakan ini memperkuat ekspektasi bahwa tekanan harga akan terus berlanjut.

Investor pun mulai mencari alternatif lindung nilai. Bitcoin, yang selama ini dikenal sebagai “”, kembali menjadi pilihan utama. Apalagi dengan adanya kebijakan baru dari Iran, permintaan langsung terhadap bitcoin meningkat secara instan.

Tidak hanya itu, sentimen positif ini juga menyebar ke aset kripto lainnya. Ethereum naik 8 persen, Solana 5,2 persen, dan BNB 3,2 persen. Ini menunjukkan bahwa arus dana tidak hanya terpusat di bitcoin, tapi juga mengalir ke seluruh ekosistem kripto.

1. Peningkatan Permintaan Organik Akibat Kebijakan Iran

Langkah Iran mewajibkan pembayaran tol dalam bentuk bitcoin menciptakan permintaan langsung terhadap aset ini. Tarif yang ditetapkan setara dengan USD1 per barel minyak, dan pembayaran dilakukan melalui jaringan blockchain.

Ini bukan hanya soal penerimaan negara, tapi juga cara cerdas untuk menghindari sanksi internasional. Dengan sistem ini, transaksi bisa dilakukan tanpa terlibat langsung dengan bank-bank besar yang berada di bawah tekanan AS.

2. Short Squeeze dan Likuidasi Posisi Bearish

Lonjakan harga yang terjadi juga dipicu oleh fenomena short squeeze. Banyak trader yang sebelumnya membuka posisi short (taruhan harga turun) harus menutup posisi dengan cepat saat harga malah naik tajam.

Likuidasi ini menyedot dana besar dalam waktu singkat, dan mempercepat momentum bullish. Dalam dunia kripto, pergerakan seperti ini bisa sangat cepat dan dramatis, terutama saat terjadi peristiwa geopolitik besar.

3. Arus Dana ke ETF Bitcoin Spot

Tak kalah penting, arus dana masuk ke ETF Bitcoin spot juga menjadi pendorong utama. Sepanjang Maret hingga April 2026, ETF ini mencatat inflow sebesar USD1,94 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa investor institusional semakin percaya terhadap bitcoin sebagai kelas aset yang stabil.

ETF ini juga membuka akses lebih luas bagi investor yang ingin terpapar aset kripto tanpa harus langsung membeli dan menyimpan bitcoin.

Perbandingan Kinerja Aset Kripto Selama Krisis Geopolitik

Aset Kripto Persentase Harga Akhir (USD)
Bitcoin +% ~75.000
Ethereum +8% 2.380
Solana +5,2% 86,60
BNB +3,2% 615,50

April: Bulan Hijau untuk Bitcoin

Secara historis, April adalah bulan yang cenderung positif bagi bitcoin. Sejak 2013, rata-rata kenaikan bitcoin di bulan ini mencapai 69 persen. Meski begitu, tahun ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti konflik Timur Tengah dan tekanan inflasi global.

Hingga kuartal kedua 2026, bitcoin sudah naik sebesar 8,64 persen. Ini menunjukkan bahwa meskipun volatilitas tetap tinggi, tren jangka panjangnya masih positif.

4. Peran Blockchain dalam Menghindari Sanksi

Iran bukan satu-satunya negara yang menggunakan blockchain untuk menghindari sanksi. Namun, kali ini mereka mengambil langkah nyata dengan mengintegrasikan bitcoin ke dalam sistem ekonomi mereka.

Ini membuka peluang baru bagi negara-negara lain yang ingin tetap beroperasi di tengah tekanan global. Teknologi blockchain memberikan alternatif yang lebih independen dan transparan.

5. Narasi Bitcoin dari Aset Spekulatif ke Aset Strategis

Dulu, bitcoin dikenal sebagai aset yang sangat fluktuatif dan penuh risiko. Tapi sekarang, narasi itu mulai berubah. Bitcoin mulai diakui sebagai bagian dari sistem ekonomi global, bukan hanya alat investasi, tapi juga instrumen kebijakan.

Antony Kusuma menyebut bahwa ini adalah fase baru dalam evolusi kripto. Semakin banyak negara dan institusi yang mulai melihat potensi teknologi blockchain, semakin besar pula legitimasi aset ini di mata dunia.

Manajemen Risiko Tetap Jadi Kunci

Meski trennya positif, volatilitas pasar kripto tetap tinggi. Faktor seperti data ekonomi makro, kebijakan moneter, hingga sentimen geopolitik bisa memengaruhi harga dalam hitungan jam.

Investor disarankan untuk tidak terjebak pada sentimen sesaat. Memahami risiko dan memiliki strategi yang jelas jauh lebih penting daripada hanya mengikuti tren.

Disclaimer: Data harga dan pergerakan pasar kripto dapat berubah sewaktu-waktu. Artikel ini dibuat berdasarkan informasi hingga April 2026 dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.