Ledakan besar terjadi di Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026, setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah target strategis di Iran. Serangan ini memicu respons cepat dari Iran yang menembakkan rudal ke wilayah Israel dan basis militer AS di Timur Tengah. Konflik yang awalnya bersifat bilateral ini berpotensi memanas menjadi perang regional, terutama dengan keterlibatan aktor global seperti Tiongkok dan Rusia yang mendukung Iran.
Dalam hitungan jam, harga minyak mentah dunia langsung melonjak. Pasar energi global yang sensitif terhadap ketidakpastian langsung bereaksi terhadap ancaman gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia. Jalur Selat Hormuz, yang menjadi titik leher botol bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak global, kembali menjadi sorotan. Jika akses jalur ini terganggu, dampaknya akan dirasakan secara global, termasuk lonjakan harga energi dan biaya transportasi.
Dampak Konflik terhadap Harga Minyak Dunia
1. Lonjakan Harga Minyak Mentah
Sebelum konflik, harga minyak mentah berada di kisaran USD 70 per barel. Namun, dengan eskalasi serangan dan ketidakpastian geopolitik, harga bisa naik hingga USD 80 hingga USD 100 per barel. Jika konflik berlarut-larut, harga bahkan bisa melampaui rekor yang tercatat saat invasi Rusia ke Ukraina pada awal 2022.
2. Gangguan Pasokan di Selat Hormuz
Selat Hormuz adalah salah satu jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia. Setiap gangguan di kawasan ini, baik karena serangan rudal, blokade, atau ketegangan militer, akan langsung memengaruhi pasokan global. Bila jalur ini benar-benar tertutup, dunia bisa menghadapi krisis energi serius.
3. Reaksi Pasar dan Spekulasi Investor
Selain faktor fisik, spekulasi pasar juga mempercepat lonjakan harga. Investor cenderung membeli kontrak minyak untuk antisipasi kenaikan harga di masa depan. Ini menciptakan efek domino yang mendorong harga semakin tinggi, meski pasokan belum benar-benar terganggu.
Pengaruh Lonjakan Harga Minyak terhadap Ekonomi Global
1. Inflasi yang Meningkat
Lonjakan harga minyak mentah berdampak langsung pada biaya produksi barang dan jasa. Transportasi, industri manufaktur, hingga pertanian akan merasakan kenaikan biaya operasional. Ini berpotensi mendorong laju inflasi di berbagai negara, termasuk yang tidak terlibat langsung dalam konflik.
2. Melemahnya Mata Uang Negara Importir Minyak
Negara-negara yang bergantung tinggi pada impor minyak mentah akan merasakan tekanan pada nilai tukar mata uang mereka. Semakin mahal harga minyak, semakin besar biaya impor energi, yang pada akhirnya memperlebar defisit neraca perdagangan.
3. Penyesuaian Harga BBM Domestik
Negara dengan struktur harga BBM yang mengacu pada harga pasar internasional akan terdampak langsung. BBM nonsubsidi biasanya disesuaikan otomatis, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi kenaikan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar. Kenaikan ini akan memengaruhi daya beli masyarakat menengah ke bawah.
Potensi Eskalasi Konflik dan Dampaknya
1. Keterlibatan Aktor Regional dan Global
Iran tidak sendirian. Negara-negara seperti Lebanon (Hezbollah), Yaman (Houthis), dan bahkan Rusia dan Tiongkok bisa ikut terlibat secara tidak langsung. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin kompleks situasi dan semakin lama durasi konflik.
2. Ancaman Perang Regional
Jika Israel dan Iran terus bertukar serangan, ada risiko perang terbuka di kawasan Timur Tengah. Ini akan memperparah ketidakstabilan, memicu pengungsi massal, dan mengganggu jalur perdagangan serta pasokan energi.
3. Gangguan Rantai Pasok Global
Ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah akan memengaruhi rantai pasok global, terutama sektor energi, logistik, dan komoditas pertanian. Banyak perusahaan multinasional yang memiliki ketergantungan pada pasokan dari kawasan ini.
Strategi Mitigasi bagi Negara dan Konsumen
1. Diversifikasi Sumber Energi
Negara yang terlalu bergantung pada impor minyak mentah dari Timur Tengah perlu mempercepat diversifikasi energi. Energi terbarukan, gas alam, dan cadangan minyak domestik bisa menjadi alternatif jangka pendek.
2. Kebijakan Subsidi yang Tepat Sasaran
Pemerintah perlu mempertimbangkan kembali skema subsidi BBM agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Subsidi sebaiknya ditujukan langsung kepada kelompok rentan melalui bantuan sosial, bukan melalui penurunan harga BBM secara umum.
3. Antisipasi Inflasi dengan Kebijakan Moneter
Bank sentral di berbagai negara perlu waspada terhadap tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi. Penyesuaian suku bunga dan kebijakan likuiditas menjadi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi makro.
Perbandingan Dampak Lonjakan Harga Minyak Dunia
| Aspek | Sebelum Konflik | Setelah Konflik |
|---|---|---|
| Harga Minyak Mentah | USD 70 per barel | USD 80–100 per barel |
| Inflasi Global | Stabil | Meningkat |
| Nilai Tukar Mata Uang Importir Minyak | Relatif Stabil | Melemah |
| Biaya Transportasi | Normal | Naik Signifikan |
| Stabilitas Pasokan Energi | Aman | Terancam |
Penutup
Konflik antara Iran dan Israel bukan hanya soal geopolitik. Dampaknya menyebar ke berbagai sektor, terutama energi global. Lonjakan harga minyak mentah berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia, terutama bagi negara yang bergantung tinggi pada impor energi. Semua pihak, baik pemerintah maupun konsumen, perlu siap menghadapi gejolak ini dengan strategi jangka pendek dan rencana mitigasi jangka panjang.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan situasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan konflik serta respons pasar global.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













