Nasional

Harga Minyak Global Naik 2,2 Persen, Brent Capai Level USD115 per Barel

Retno Ayuningrum
×

Harga Minyak Global Naik 2,2 Persen, Brent Capai Level USD115 per Barel

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Global Naik 2,2 Persen, Brent Capai Level USD115 per Barel

Lonjakan kembali terjadi di awal perdagangan pekan ini. Lonjakan itu dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah, khususnya setelah kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan ke Israel. Ketidakpastian geopolitik yang meningkat membuat investor langsung bereaksi, mendorong harga mentah Brent naik hingga 2,2 persen.

Minyak Brent, sebagai acuan harga global, mencatatkan level tertingginya di USD115,08 per barel. Sebelumnya, harga sempat menyentuh angka USD116,43. Lonjakan ini terjadi dalam konteks ketegangan yang semakin rumit antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Semakin banyak aktor yang terlibat, semakin besar pula dampaknya terhadap stabilitas pasokan energi global.

Ketegangan Geopolitik Picu Lonjakan Harga Minyak Mentah

Ketegangan di Timur Tengah bukan hal baru. Namun, kali ini situasinya terasa lebih rumit karena melibatkan lebih banyak pihak, termasuk kelompok bersenjata yang sebelumnya tidak aktif di garis depan konflik. Lonjakan harga minyak tak hanya mencerminkan gangguan pasokan, tapi juga adanya ancaman terhadap jalur pelayaran strategis.

1. Serangan Houthi Terhadap Israel

Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan memiliki dukungan dari Iran mengklaim telah meluncurkan serangkaian rudal ke wilayah Israel. Serangan ini dilakukan menjelang akhir pekan dan dianggap sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina serta Iran.

Langkah ini memperluas skala konflik. Houthi, yang sebelumnya fokus pada perebutan kekuasaan di dalam negeri Yaman, kini ikut campur dalam dinamika regional yang lebih besar. Ini menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah semakin tidak terprediksi.

2. Respons Militer Israel dan AS

Sebagai balasan, Israel dilaporkan melakukan serangan ke beberapa lokasi di Iran. Tak hanya itu, Amerika Serikat juga mengerahkan 3.500 tentara tambahan ke kawasan, termasuk penempatan di atas kapal induk USS Tripoli.

Keberadaan pasukan AS yang diperkuat menunjukkan bahwa Washington tidak ingin konflik ini berlarut-larut. Namun, peningkatan kekuatan militer justru menimbulkan spekulasi bahwa eskalasi bersenjata masih mungkin terjadi.

3. Ancaman Blokade Selat Hormuz

Iran dikabarkan telah memblokir Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling penting bagi distribusi minyak global. Sekitar 20 persen minyak dunia melewati selat ini setiap hari.

Blokade ini langsung memengaruhi pasar minyak. Brent yang sebelumnya sudah naik hampir 60 persen sepanjang Maret 2026, kini semakin melonjak. Investor khawatir pasokan global bisa terganggu dalam dekat jika blokade berlangsung lama.

Dampak Lonjakan Harga Minyak Global

Lonjakan harga minyak mentah berdampak ke berbagai sektor . Bukan hanya negara-negara pengimpor minyak yang merasakan tekanan, tapi juga masyarakat umum yang harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar dan barang-barang lainnya.

1. Inflasi Makro Ekonomi

Harga minyak yang naik otomatis mendorong biaya produksi dan transportasi. Ini berpotensi memicu inflasi di banyak negara, terutama yang bergantung pada impor energi.

Negara maju pun tak kebal. Meski produksi energi mereka tinggi, keterhubungan ekonomi global membuat gejolak harga minyak tetap dirasakan.

2. Tekanan pada APBN Negara Pengimpor

Negara-negara pengimpor minyak seperti India, Jepang, dan negara Eropa terpaksa mengeluarkan lebih besar untuk membeli energi. Ini bisa memengaruhi dan nilai tukar mata uang mereka.

Beberapa negara bahkan harus mengurangi subsidi energi domestik untuk menekan beban fiskal. Efek domino dari lonjakan harga minyak bisa terasa hingga ke saku masyarakat.

3. Volatilitas Pasar Saham dan Valuta Asing

Sektor energi kerap menjadi indikator awal . Lonjakan harga minyak biasanya diikuti oleh fluktuasi pasar saham, terutama saham perusahaan energi dan transportasi.

Investor asing juga cenderung waspada, sehingga aliran ke negara berkembang bisa terganggu. Ini berdampak pada nilai tukar dan keuangan.

Upaya Diplomasi di Balik Konflik

Meskipun situasi terlihat suram, upaya diplomasi tetap berjalan. Beberapa negara mencoba menjadi mediator untuk meredam ketegangan.

1. Pakistan Tawarkan Perantara

Pakistan menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah negosiasi damai antara AS dan Iran. Langkah ini diambil setelah Washington mengusulkan gencatan senjata dan membuka kemungkinan dialog.

Namun, Iran sendiri belum sepenuhnya membuka pintu diplomasi. Pihak Teheran menuduh AS merencanakan invasi darat, meski belum ada bukti konkret.

2. Skeptisitas Iran terhadap Negosiasi

Iran tampaknya belum siap untuk duduk bersama AS dalam satu meja. Tuduhan bahwa Washington merancang operasi militer darat di akhir pekan membuat Teheran semakin waspada.

Tanpa kepercayaan antar pihak, proses diplomasi akan sulit berjalan. Dan selama itu terjadi, ketegangan akan terus mengganjal dan harga minyak akan tetap volatil.

Perbandingan Harga Minyak Sebelum dan Sesudah Eskalasi

Parameter Sebelum Eskalasi (Februari 2026) Setelah Eskalasi (Akhir Maret 2026)
Harga Minyak Brent (USD/Barel) 72,50 115,08
Persentase Kenaikan Bulan Maret +59%
Volume Perdagangan Harian (juta barel) 19,5 18,2
Stok Minyak AS (juta barel) 428 415

Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan laporan pasar internasional dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Tips Mengantisipasi Dampak Lonjakan Harga Minyak

Bagi negara maupun individu, lonjakan harga minyak bisa menjadi tantangan. Namun, ada langkah antisipatif yang bisa diambil.

1. Diversifikasi Sumber Energi

Negara pengimpor sebaiknya mulai mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor. Investasi pada energi terbarukan seperti surya dan angin bisa menjadi solusi jangka panjang.

2. Subsidi yang Tepat Sasaran

Alih-alih memberikan subsidi energi secara umum, pemerintah bisa menyalurkan bantuan langsung kepada kelompok rentan. Ini akan lebih efisien dan mengurangi beban APBN.

3. Simpan Cadangan Strategis

Cadangan minyak nasional perlu dikelola secara optimal. Saat harga naik tajam, cadangan ini bisa digunakan untuk stabilisasi pasar lokal.

Kesimpulan

Lonjakan harga minyak mentah Brent hingga USD115 per barel merupakan cerminan dari ketegangan geopolitik yang semakin rumit di Timur Tengah. Semakin banyak aktor yang terlibat, semakin besar risiko gangguan pasokan energi global. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara pengimpor, tapi juga masyarakat luas melalui kenaikan harga barang dan jasa.

Upaya diplomasi masih dibutuhkan untuk meredam ketegangan. Namun, selama kepercayaan belum terbangun, harga minyak akan tetap fluktuatif. Untuk itu, mitigasi risiko baik di tingkat makro maupun mikro menjadi penting untuk dilakukan.

Disclaimer: Data harga minyak dan informasi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Artikel ini disusun berdasarkan informasi terkini hingga tanggal publikasi dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.