Kunjungan kerja Komisi VI DPR RI bersama Danantara Asset Management dan Badan Pengaturan BUMN ke Krakatau Steel Group, Cilegon, menjadi momentum penting dalam upaya memperkuat industri baja nasional. Kunjungan ini dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan operasional serta progres revitalisasi fasilitas produksi perusahaan strategis tersebut.
Langkah ini merupakan bagian dari pengawasan DPR terhadap kinerja BUMN, sekaligus sebagai tindak lanjut dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar awal Februari 2026. Fokusnya jelas: memastikan Krakatau Steel tidak hanya bertahan, tapi tumbuh sebagai tulang punggung industri baja Indonesia.
Kolaborasi Strategis untuk Transformasi Baja Nasional
Sinergi antarlembaga negara seperti DPR, Danantara Asset Management, dan Krakatau Steel menunjukkan komitmen bersama dalam mempercepat transformasi industri strategis. Dalam kunjungan tersebut, Wakil Ketua Komisi VI DPR, Nurdin Halid, menyampaikan bahwa pengawasan ini penting untuk menjaga momentum perbaikan kinerja Krakatau Steel yang telah menunjukkan kemajuan sejak 2025.
Transformasi yang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi internal, tapi juga penguatan ekosistem secara keseluruhan. Capaian ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam membangun industri strategis yang mandiri dan berdaya saing global.
1. Evaluasi Operasional dan Revitalisasi Produksi
Salah satu agenda utama dalam kunjungan ini adalah meninjau langsung kondisi operasional dan progres revitalisasi fasilitas produksi Krakatau Steel. Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa langkah-langkah transformasi berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak nyata terhadap efisiensi serta kapasitas produksi.
Langkah ini juga menjadi bagian dari pengawasan DPR terhadap kinerja BUMN yang selama ini kerap menjadi sorotan publik. Dengan melakukan kunjungan langsung, DPR menunjukkan komitmen dalam memastikan bahwa dana dan sumber daya yang disalurkan benar-benar digunakan secara produktif dan transparan.
2. Penegakan Kebijakan Impor Baja
Dalam RDP sebelumnya, Komisi VI DPR juga meminta pemerintah untuk menahan penerbitan Persetujuan Teknis (Pertek) impor baja selama kebutuhan dalam negeri masih bisa dipenuhi oleh industri lokal. Kebijakan ini penting untuk melindungi industri dalam negeri dari persaingan tidak sehat, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor lokal.
Langkah ini menjadi salah satu pilar dalam membangun kedaulatan industri baja nasional. Dengan membatasi impor, Krakatau Steel dan perusahaan baja lainnya memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang tanpa tergerus produk luar.
Pembiayaan Strategis untuk Penguatan Produksi
Untuk mendukung transformasi bisnis Krakatau Steel, Badan Pengelola Investasi Danantara menyalurkan fasilitas Pinjaman Pemegang Saham (Share Holder Loan/SHL) senilai Rp4,93 triliun. Dana ini digunakan untuk memperkuat likuiditas dan meningkatkan kapasitas produksi perusahaan.
3. Penyaluran Dana SHL dan Penggunaannya
Hingga minggu pertama Maret 2026, Krakatau Steel telah menarik dana SHL sebesar Rp4,367 triliun. Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk pembelian bahan baku produksi senilai Rp4,050 triliun atau sekitar 477.000 ton. Sekitar 40 persen material sudah tiba dan langsung digunakan untuk mendukung kegiatan produksi.
| Rincian Penggunaan Dana SHL (Hingga Maret 2026) | |
|---|---|
| Total SHL yang disalurkan | Rp4,93 triliun |
| Dana yang telah ditarik | Rp4,367 triliun |
| Digunakan untuk bahan baku | Rp4,050 triliun |
| Jumlah bahan baku terbeli | 477.000 ton |
| Material yang sudah tiba | 40% |
Sisanya, sekitar Rp849 miliar, akan digunakan sesuai dengan peruntukan dalam perjanjian SHL. Salah satu program yang didukung adalah program Golden Handshake senilai Rp91 miliar yang menjadi bagian dari restrukturisasi sumber daya manusia.
4. Program Golden Handshake dan Restrukturisasi SDM
Program Golden Handshake merupakan bagian dari upaya restrukturisasi sumber daya manusia Krakatau Steel. Program ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi operasional dengan memberikan insentif kepada karyawan yang bersedia keluar secara sukarela.
Langkah ini penting untuk menciptakan struktur organisasi yang lebih ringkas namun produktif. Dengan SDM yang lebih efisien, perusahaan bisa mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk pengembangan teknologi dan peningkatan kapasitas produksi.
Membangun Ekosistem Industri Baja yang Terintegrasi
Direktur Utama Krakatau Steel, Dr. Akbar Djohan, menekankan pentingnya membangun ekosistem industri baja yang terintegrasi. Menurutnya, kolaborasi lintas lembaga negara adalah kunci untuk menghadapi dinamika geopolitik global dan persaingan industri baja yang semakin ketat.
5. Integrasi Vertikal dan Horizontal dalam Industri Baja
Integrasi vertikal dan horizontal menjadi salah satu strategi utama dalam memperkuat industri baja nasional. Integrasi vertikal mencakup pengendalian rantai pasok dari hulu hingga ke hilir, sementara integrasi horizontal melibatkan kolaborasi dengan industri penunjang seperti logistik dan pengolahan baja.
Langkah ini tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tapi juga mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga. Dengan begitu, Krakatau Steel bisa lebih mandiri dan responsif terhadap perubahan pasar.
6. Peran Asosiasi dalam Mendorong Kolaborasi
Akbar Djohan, yang juga menjabat sebagai Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA), menekankan pentingnya peran asosiasi dalam mendorong kolaborasi antarindustri.
Melalui asosiasi, berbagai pemangku kepentingan bisa duduk bersama untuk merancang kebijakan yang saling menguntungkan. Hal ini penting untuk menciptakan sinergi yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi industri nasional secara keseluruhan.
Menuju Kedaulatan Industri Baja Nasional
Langkah-langkah yang diambil oleh Komisi VI DPR, Danantara Asset Management, dan Krakatau Steel menunjukkan komitmen serius dalam membangun industri baja yang mandiri dan kompetitif. Dengan dukungan pembiayaan yang tepat sasaran dan kebijakan yang pro terhadap industri lokal, Indonesia berpeluang besar untuk menjadi pemain utama dalam pasar baja global.
Namun, semua ini baru awal dari perjalanan panjang. Kolaborasi yang terus berkelanjutan dan pengawasan yang ketat akan menjadi kunci keberhasilan transformasi ini.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas hingga Maret 2026. Nilai dan kondisi dapat berubah seiring perkembangan kebijakan dan situasi ekonomi nasional maupun global.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













