Harga minyak kembali mengalami kenaikan tajam menjelang akhir pekan. Brent, sebagai acuan global, mencatat level di atas USD110 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh memudarnya harapan akan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, sementara ketegangan di kawasan Timur Tengah terus memanas.
Pasca-gagalnya tenggat waktu yang diperpanjang oleh Presiden Donald Trump untuk menyelesaikan konflik, situasi semakin rumit. Iran menuduh Israel, yang diduga bertindak atas koordinasi AS, melakukan serangan ke sejumlah infrastruktur penting negaranya. Serangan itu dianggap sebagai pelanggaran terhadap upaya diplomasi yang sedang berjalan.
Kondisi Pasar dan Pergerakan Harga Minyak
Pergerakan harga minyak dunia akhir-akhir ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik. Investor bereaksi cepat terhadap setiap isu yang berpotensi mengganggu pasokan. Kenaikan Brent hingga 4,3 persen menjadi USD112,60 per barel menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap ketidakpastian.
Perbandingan Harga Minyak Global (Jumat, 27 Maret 2026)
| Jenis Minyak | Harga Sebelumnya | Harga Kini | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Brent | USD108,00 | USD112,60 | 4,3% |
| WTI | USD94,50 | USD99,28 | 5,0% |
Lonjakan ini tidak hanya berdampak pada negara-negara pengimpor besar, tapi juga memicu tekanan inflasi domestik di berbagai belahan dunia. Kenaikan harga energi berpotensi mempercepat laju inflasi, yang membuat bank sentral enggan menurunkan suku bunga.
Penyebab Lonjakan Harga Minyak
Beberapa faktor utama menyebabkan lonjakan harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Semua berkumpul pada ketegangan geopolitik yang terus meningkat di Teluk Persia.
1. Serangan ke Infrastruktur Iran
Iran melaporkan bahwa Israel menyerang dua pabrik baja besar, sebuah pembangkit listrik, dan situs nuklir sipil. Serangan ini dianggap sebagai eskalasi yang dilakukan tanpa persetujuan diplomasi.
2. Gagalnya Diplomasi AS-Iran
Presiden Trump memperpanjang tenggat waktu untuk Iran membuka blokade Selat Hormuz. Namun, klaim Iran bahwa tidak ada pembicaraan substansial dengan AS membuat investor khawatir akan terjadinya eskalasi militer.
3. Ancaman Pengenaan Tol di Selat Hormuz
Iran disebut-sebut ingin mengenakan biaya atas penggunaan Selat Hormuz, jalur krusial bagi distribusi minyak global. Pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut rencana itu sebagai “tidak dapat diterima” dan berbahaya bagi stabilitas dunia.
Dampak Global dari Lonjakan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak bukan hanya soal angka di pasar komoditas. Ini berdampak langsung pada perekonomian global, terutama negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
1. Inflasi Energi Dunia
Negara-negara seperti Jepang, India, dan negara Eropa mengalami tekanan pada anggaran energi mereka. Lonjakan harga minyak berpotensi memicu kenaikan harga barang dan jasa secara keseluruhan.
2. Obligasi dan Suku Bunga
Imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk jangka waktu 10 tahun mencatat level tertinggi sejak Juli lalu. Investor memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menahan inflasi.
3. Volatilitas Pasar Saham
Saham perusahaan energi sempat mengalami lonjakan, namun sektor lain seperti transportasi dan manufaktur justru tertekan. Ini karena biaya operasional yang meningkat langsung mengurangi margin keuntungan.
Respons Internasional dan Prospek Masa Depan
Berbagai pihak internasional mulai mencari jalan keluar. Namun, hingga kini belum ada solusi konkret yang bisa meredam ketegangan.
Negara-negara G7 berupaya menyusun strategi bersama untuk menghadapi kemungkinan pengenaan tol di Selat Hormuz. Namun, upaya itu sejauh ini belum membuahkan hasil karena minimnya koordinasi antaraktor global.
Mantan gubernur Bank Dunia untuk Kazakhstan, Yerbol Orynbayev, menyatakan bahwa konflik ini bisa berlarut jika tidak ada perubahan dramatis dalam dua minggu ke depan. “Preseden sejarah menunjukkan bahwa konflik yang berlangsung lebih dari dua minggu akan jauh lebih sulit diselesaikan,” ujarnya.
Apa Kata Ahli?
Ahli ekonomi dan analis energi memperkirakan volatilitas harga minyak akan terus tinggi dalam beberapa pekan mendatang. Pasar sangat sensitif terhadap setiap pernyataan dari pihak AS, Iran, atau aktor regional lainnya.
“Ini adalah lingkaran setan yang kemungkinan besar tidak akan berhenti sampai terjadi perubahan dramatis,” kata Orynbayev. Investor pun dituntut ekstra hati-hati dalam mengambil keputusan.
Kesimpulan
Lonjakan harga minyak hingga di atas USD110 per barel mencerminkan ketidakpastian geopolitik yang tinggi. Brent dan WTI kembali menguat seiring dengan memudarnya harapan damai antara AS dan Iran. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara pengimpor besar, tapi juga berpotensi memicu kenaikan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan.
Disclaimer: Data harga minyak dan kondisi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan serta kebijakan pemerintah dan aktor internasional.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













