Nasional

Indeks Nasdaq Anjlok 2 Persen, S&P 500 Alami Pelemahan Empat Minggu Berturut-turut

Danang Ismail
×

Indeks Nasdaq Anjlok 2 Persen, S&P 500 Alami Pelemahan Empat Minggu Berturut-turut

Sebarkan artikel ini
Indeks Nasdaq Anjlok 2 Persen, S&P 500 Alami Pelemahan Empat Minggu Berturut-turut

Saham Wall Street kembali terperosok pada akhir pekan lalu, dengan Nasdaq anjlok hingga 2% dan S&P 500 mencatat penurunan untuk minggu keempat berturut-turut. Sentimen pasar yang lesu ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya laporan bahwa Amerika sedang mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke Iran. Kabar ini langsung memicu lonjakan ke level tertinggi dalam lebih dari tiga setengah tahun.

Investor pun mulai berlindung ke aset aman, menjual obligasi AS dan mendorong imbal hasilnya naik tajam. Sektor yang paling terpukul adalah teknologi dan utilitas, yang sensitif terhadap fluktuasi suku bunga. Tidak membantu lagi, hari perdagangan itu juga bertepatan dengan "quadruple witching", sebuah fenomena pasar yang terjadi setiap tiga bulan sekali dan memicu volatilitas tinggi karena kedaluwarsa bersamaan dari berbagai kontrak derivatif senilai USD4,7 triliun.

Penutupan Pasar Menandakan Tren Negatif

Indeks utama Wall Street memperkuat tren penurunan yang sudah berlangsung sejak beberapa minggu lalu. Investor semakin was-was dengan eskalasi konflik di Timur Tengah, yang berimbas langsung pada harga dan ekspektasi inflasi.

1. Kinerja Indeks Saham Utama AS

Indeks Perubahan Harian Perubahan Mingguan YTD (Year-to-Date)
S&P 500 -1,5% -1,9% -4,9%
Nasdaq -2,0% -2,1% -6,9%
-1,0% -2,1% -5,2%

2. Lonjakan Imbal Hasil Obligasi

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun naik ke 4,384%, meningkat 10 basis poin dalam sehari dan 32 basis poin sejak awal konflik Iran-Israel. Obligasi jangka pendek juga ikut terpengaruh, naik 6 basis poin menjadi 3,894%.

Faktor Utama di Balik Penurunan Saham

Kondisi pasar saat ini tidak bisa dilepaskan dari beberapa faktor utama yang saling terkait. Dari geopolitik hingga dinamika obligasi, semuanya berkontribusi pada tekanan yang dirasakan oleh investor dan bursa saham.

1. Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

Laporan CBS News menyebut bahwa Pentagon sedang menyusun rencana pengerahan pasukan darat ke Iran. Langkah ini dianggap sebagai respons terhadap eskalasi antara Israel dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari.

2. Lonjakan Harga Minyak

Harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam 3,5 tahun. Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap inflasi dan biaya operasional perusahaan-perusahaan yang bergantung pada energi.

3. Quadruple Witching Memicu Volatilitas

Peristiwa yang terjadi empat kali dalam setahun ini melibatkan kedaluwarsa bersamaan dari empat jenis kontrak derivatif. Dengan total nilai mencapai USD4,7 triliun, quadruple witching sering kali memicu volatilitas ekstrem di akhir pekan perdagangan.

Respons Pasar dan Sentimen Investor

Investor mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakpastian. Banyak dari mereka berpindah ke aset aman, menjual saham dan obligasi berisiko tinggi. Sektor teknologi dan real estat yang sensitif terhadap suku bunga menjadi korban utama dari lonjakan imbal hasil.

Keith Lerner, Kepala dan Strategi Pasar di Truist, menyebut bahwa sentimen saat ini masih didominasi oleh ketidakpastian harga minyak dan suku bunga. Ia menilai bahwa pasar sedang berada di titik yang rawan, dengan indikator teknikal yang mulai mendekati level ekstrem.

Menurutnya, agar pasar bisa pulih, dibutuhkan stabilitas di dua sektor kunci: harga minyak dan obligasi pemerintah AS jangka panjang. Tanpa itu, investor akan terus bermain aman dan menjauhkan diri dari ekuitas berisiko tinggi.

Pengecualian: Lonjakan Saham FedEx

Di tengah tekanan pasar yang meluas, ada satu pengecualian menarik: FedEx. Saham perusahaan ini justru naik hampir 1% setelah perusahaan melaporkan kinerja kuartal ketiga yang melebihi ekspektasi.

1. Kinerja Keuangan yang Solid

FedEx mencatat laba dan pendapatan yang lebih tinggi dari estimasi Wall Street, berkat permintaan menjelang musim liburan. Meski begitu, manajemen perusahaan menyatakan bahwa proyeksi laba belum memperhitungkan gangguan geopolitik apa pun.

2. Risiko Geopolitik Tetap Mengintai

Meskipun pasokan bahan bakar jet belum terpengaruh secara signifikan, lonjakan biaya pengiriman udara dan pengalihan rute akibat ketegangan di Timur Tengah bisa memengaruhi pendapatan kuartal mendatang. Perusahaan mungkin terpaksa menaikkan biaya pengiriman, yang berisiko mengurangi permintaan dari pelanggan.

Kesimpulan

Penurunan Wall Street dalam empat minggu terakhir mencerminkan ketidakpastian global yang tinggi. Ketegangan di Timur Tengah, lonjakan harga minyak, dan fluktuasi suku bunga menjadi kombinasi berbahaya bagi investor. Meski ada pengecualian seperti FedEx, tren umum tetap negatif dan menunjukkan bahwa pasar butuh kejelasan geopolitik dan stabilitas makroekonomi agar bisa pulih.

Disclaimer: Data pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi dan .

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.