Di tengah deru mesin cetak dan aroma tanah liat yang khas, usaha genteng milik Hena Gian Hermana di Majalengka terus menulis kisahnya. Dari sebuah halaman rumah sederhana hingga menjadi salah satu pabrik genteng yang bertahan di tengah persaingan ketat industri bahan bangunan, perjalanan Gian adalah cerita tentang ketekunan dan adaptasi.
Genteng tanah liat bukan hanya produk yang ia hasilkan, tapi juga simbol dari warisan budaya dan nilai-nilai tradisional. Meski demikian, jalan untuk menjaga eksistensi usaha ini tidak selalu mulus. Banyak tantangan harus dihadapi, mulai dari keterbatasan modal hingga persaingan dengan material atap modern.
Dukungan KUR BRI Jadi Titik Balik
Perubahan signifikan terjadi ketika Gian menjadi nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Akses ke pembiayaan dengan bunga rendah memberinya ruang untuk mengembangkan produksi.
Dengan tambahan modal tersebut, Gian membeli mesin cetak yang lebih modern dan memperbaiki tungku pembakaran agar lebih efisien. Hasilnya? Kapasitas produksi meningkat, kualitas genteng lebih konsisten, dan waktu produksi menjadi lebih cepat.
BRI tidak hanya memberikan dana, tapi juga pendampingan dalam pengelolaan keuangan. Gian mulai memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat arus kas, serta merencanakan pengembangan jangka panjang. Ini adalah langkah penting agar usaha bisa tumbuh secara berkelanjutan.
1. Memperluas Produksi
Dengan bantuan KUR, Gian menggunakan dana untuk membeli mesin cetak genteng yang lebih canggih. Mesin ini mampu meningkatkan volume produksi sekaligus menjaga kualitas genteng tetap konsisten.
2. Meningkatkan Efisiensi Pembakaran
Tungku pembakaran yang diperbaiki membuat proses pembakaran genteng lebih efisien. Suhu yang stabil dan waktu pembakaran yang lebih tepat menghasilkan genteng berkualitas tinggi.
3. Mengatur Keuangan dengan Lebih Baik
Bantuan dari BRI membantu Gian memahami pentingnya manajemen keuangan. Ia mulai mencatat semua transaksi, memisahkan pengeluaran pribadi dan usaha, serta membuat laporan keuangan bulanan.
4. Meningkatkan Daya Saing Produk
Dengan produksi yang lebih stabil dan kualitas yang meningkat, genteng Gian mampu bersaing di pasar yang semakin ketat. Pelanggan pun semakin percaya pada produknya.
5. Menyerap Tenaga Kerja Lokal
Produksi yang meningkat membuat kebutuhan tenaga kerja juga bertambah. Gian merekrut warga sekitar untuk membantu proses produksi, mulai dari pencetakan hingga pengemasan dan pengiriman.
Peluang Baru di Tengah Tantangan
Di tengah maraknya material atap modern seperti baja ringan dan genteng metal, Gian tetap optimistis. Menurutnya, genteng tanah liat memiliki pasar tersendiri, terutama bagi masyarakat yang mengutamakan ketahanan panas dan nilai estetika tradisional.
“Kami terus menjaga kualitas supaya pelanggan tetap percaya,” ujar Gian. Ia juga mulai mempertimbangkan inovasi desain agar produknya mampu bersaing dengan model genteng yang lebih modern.
Rencana Ke Depan
Gian berencana memperluas jaringan pemasaran, tidak hanya mengandalkan pembeli lokal tetapi juga menyasar proyek-proyek perumahan skala lebih besar. Ia juga mulai mempertimbangkan inovasi desain agar produknya mampu bersaing dengan model genteng yang lebih modern.
1. Memperluas Jaringan Pemasaran
Gian ingin menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pengembang perumahan. Dengan strategi pemasaran yang lebih baik, ia berharap bisa menembus pasar nasional.
2. Mengembangkan Desain Produk
Untuk tetap relevan, Gian berencana menghadirkan varian desain genteng yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional.
3. Meningkatkan Kapasitas Produksi
Dengan mesin baru dan proses yang lebih efisien, Gian ingin meningkatkan kapasitas produksi agar bisa memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh.
4. Membangun Brand Awareness
Melalui promosi dan kolaborasi dengan pihak lain, Gian ingin membangun brand awareness agar produknya lebih dikenal luas.
5. Menjaga Kualitas dan Tradisi
Meski berkembang, Gian tetap ingin menjaga kualitas dan nilai-nilai tradisional yang menjadi ciri khas genteng Jatiwangi.
Sinergi Program Pemerintah dan BRI
Program “Gentengisasi” yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo menjadi harapan besar bagi Gian dan pelaku usaha lainnya. Program ini bertujuan mengganti atap rumah berbahan seng dengan genteng tanah liat sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).
BRI, sebagai bank yang fokus pada UMKM, turut mendukung program ini melalui pembiayaan KUR Perumahan. Dalam skema ini, BRI hadir setelah ada kontrak kerja sama antara pengusaha genteng dan pengembang perumahan.
Peran BRI dalam Ekosistem Gentengisasi
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa BRI berperan sebagai fasilitator dalam pembiayaan antara pengusaha genteng dan developer. “Peran BRI berada di tengah. Ketika sudah ada kontrak antara pengusaha genteng dan developer, BRI siap memfasilitasi pembiayaannya,” kata Hery.
BRI juga berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan UMKM lokal melalui program KUR Perumahan. Pembiayaan ini tidak hanya meningkatkan kualitas hunian masyarakat, tetapi juga mendorong efek berganda di sektor industri perumahan.
Dampak Positif Bagi Masyarakat
Program gentengisasi dan dukungan BRI diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para pekerja di industri genteng. Selain itu, program ini juga membuka peluang lapangan kerja baru dan memperkuat rantai pasok industri perumahan.
Tabel: Perbandingan Sebelum dan Sesudah Dukungan KUR
| Aspek | Sebelum Dukungan KUR | Setelah Dukungan KUR |
|---|---|---|
| Kapasitas Produksi | Terbatas | Meningkat Signifikan |
| Kualitas Produk | Tidak Konsisten | Lebih Stabil dan Seragam |
| Keuangan Usaha | Tidak Tertib | Lebih Tertata dan Terencana |
| Tenaga Kerja | Terbatas | Bertambah |
| Pemasaran | Lokal Saja | Menjangkau Skala Lebih Luas |
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan pemerintah dan pihak terkait. Data dan angka yang disebutkan merupakan estimasi berdasarkan informasi terkini dan tidak mengikat.
Usaha genteng Gian adalah bukti bahwa dengan dukungan yang tepat, usaha kecil pun bisa tumbuh dan memberikan dampak besar bagi masyarakat. Dengan semangat dan sinergi yang baik antara pelaku usaha, bank, dan pemerintah, masa depan industri genteng tanah liat bisa kembali bersinar.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













