Harga minyak global kembali menggelegak menjelang akhir pekan. Brent melonjak ke USD103,69 per barel, sementara WTI mencatatkan angka USD99,31 per barel. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah akibat konflik Iran yang semakin memanas.
Kenaikan harga ini bukan hal yang tiba-tiba. Dalam dua minggu terakhir, Brent naik hampir 43 persen, sedangkan WTI melonjak lebih dari 48 persen. Lonjakan tersebut dipicu oleh gangguan pasokan yang signifikan, terutama setelah Selat Hormuz—salah satu jalur pengiriman minyak terpenting di dunia—mulai terancam oleh eskalasi militer.
Dinamika Pasar Minyak di Tengah Ketegangan Geopolitik
Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz memiliki dampak langsung pada rantai pasokan energi global. Sekitar seperlima minyak dunia dikirim melalui selat sempit ini, menjadikannya titik kritis dalam stabilitas harga minyak dunia.
Meski begitu, respons pasar tidak hanya didorong oleh ketakutan. Langkah-langkah seperti pelepasan cadangan minyak darurat terbesar oleh Badan Energi Internasional (IEA) dan kebijakan AS yang mengizinkan pembelian minyak Rusia yang sudah berada di laut, mencoba menyeimbangkan situasi.
1. Pelepasan Cadangan Minyak Strategis oleh IEA
Badan Energi Internasional (IEA) merilis cadangan minyak sebesar 400 juta barel sebagai langkah darurat. Ini merupakan pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah IEA dan diharapkan bisa meredam lonjakan harga jangka pendek.
2. Kebijakan AS terhadap Minyak Rusia
Departemen Keuangan AS mengizinkan pembelian minyak Rusia yang sudah berada di laut. Langkah ini diambil untuk membantu mengimbangi gangguan pasokan akibat konflik Iran. India, sebagai salah satu importir minyak terbesar, juga diberikan pengecualian untuk melanjutkan pembelian dari Rusia.
3. Pengawalan Militer di Selat Hormuz
AS berencana mengerahkan Angkatan Laut untuk mengawal kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini bertujuan untuk menjaga keamanan jalur pengiriman minyak dan mencegah blokade yang bisa memperparah krisis.
Fluktuasi Harga Minyak: Naik-Turun yang Spektakuler
Harga minyak dalam beberapa hari terakhir mengalami volatilitas ekstrem. Pada satu titik, Brent sempat menyentuh level USD120 per barel, tapi kemudian turun drastis hingga ke bawah USD90 per barel.
Analisis dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa situasi saat ini belum sepenuhnya stabil. Meski ada langkah-langkah mitigasi, investor tetap waspada terhadap potensi eskalasi lebih lanjut.
Perbandingan Lonjakan Harga Minyak dalam Beberapa Minggu Terakhir
| Komoditas | Harga Awal (USD/barel) | Harga Akhir (USD/barel) | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Brent | 72,50 | 103,69 | 43,1% |
| WTI | 66,80 | 99,31 | 48,2% |
Kekhawatiran Terhadap Gangguan Jangka Panjang
Konflik Iran bukan sekadar gangguan sementara. Banyak analis memperkirakan bahwa dampaknya bisa bersifat struktural, terutama jika Selat Hormuz benar-benar ditutup dalam jangka panjang.
1. Ancaman Blokade Selat Hormuz oleh Iran
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengancam akan memblokir Selat Hormuz. Langkah ini dianggap sebagai upaya tekanan terhadap AS dan Israel, namun bisa berdampak global.
2. Serangan Terhadap Infrastruktur Minyak Negara Tetangga
Iran telah meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap infrastruktur minyak beberapa negara di kawasan. Ini memperburuk kekhawatiran bahwa pasokan minyak akan terus terganggu.
3. Respons Militer AS
Menteri Perang AS Pete Hegseth menyatakan bahwa militer AS akan bergerak untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, hingga kini belum ada detail teknis yang diungkapkan secara publik.
Prediksi Harga Minyak ke Depan: Apakah Ini Baru Awal?
Investor dan ekonom terus memantau perkembangan harga minyak. Sebagian memperkirakan bahwa harga bisa terus naik jika gangguan pasokan berlangsung lama.
Perbandingan Lonjakan Harga Minyak dalam Guncangan Global Sebelumnya
| Peristiwa | Lonjakan Harga (%) | Durasi | Harga Tertinggi (USD/barel) |
|---|---|---|---|
| Krisis Minyak 1973 | +130% | 6 bulan | 12,00 |
| Revolusi Iran 1979 | +120% | 1 tahun | 39,50 |
| Perang Teluk 1990 | +170% | 8 bulan | 41,50 |
| Krisis Minyak 2008 | +130% | 6 bulan | 147,00 |
| Invasi Rusia 2022 | +60% | 6 bulan | 130,00 |
| Konflik Iran 2026 (hingga kini) | +35% | 2 bulan | 103,69 |
Harga Minyak Perlu Capai USD125 untuk Setara dengan Guncangan Sebelumnya
Analis JPMorgan menyatakan bahwa agar setara dengan guncangan energi global sebelumnya, harga minyak Brent perlu mencapai USD125 hingga USD150 per barel dan bertahan di level tersebut selama beberapa bulan.
Kesimpulan: Ketidakpastian Masih Tinggi
Harga minyak saat ini berada di level yang tinggi dan fluktuatif. Meski ada upaya untuk menstabilkan pasar, ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi ancaman utama bagi keseimbangan pasokan global.
Investor dan negara-negara pengimpor minyak perlu terus waspada. Dalam skenario terburuk, harga bisa terus naik dan memicu inflasi energi yang berdampak luas.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan pemerintah terkait.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













