Harga minyak dunia kembali melonjak tajam setelah ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Lonjakan ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran bisa “disingkirkan” jika tidak mematuhi tuntutan Washington. Pernyataan tegas tersebut muncul seusai media pemerintah Iran mengumumkan penolakan terhadap proposal gencatan senjata yang ditengahi oleh Pakistan.
Kenaikan harga minyak ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan. Iran, salah satu produsen minyak terbesar di dunia, berada di jantung ketegangan ini. Penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lalu lintas minyak global, menjadi ancaman nyata jika situasi semakin memburuk.
Harga Minyak Dunia Naik Tajam
Lonjakan harga minyak terjadi dalam sesi perdagangan Senin, 6 April 2026. Kontrak berjangka minyak Brent naik 1,2 persen menjadi USD110,42 per barel, sempat menyentuh level tertinggi di USD111,68. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,4 persen menjadi USD113,07 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah pekan sebelumnya WTI melonjak lebih dari 11 persen menjelang libur Jumat Agung.
-
Brent dan WTI Tembus Level Tertinggi Sesi
- Minyak Brent naik 1,2% menjadi USD110,42 per barel.
- WTI naik 1,4% menjadi USD113,07 per barel.
-
Lonjakan Pasca-Pernyataan Trump
- Pernyataan Trump bahwa Iran bisa “dihancurkan dalam satu malam” memicu gejolak pasar.
- Investor langsung bereaksi dengan membeli aset aman dan komoditas energi.
-
Kekhawatiran Inflasi Global
- Lonjakan harga energi berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara luas.
- Sektor transportasi dan manufaktur menjadi paling rentan terhadap kenaikan biaya energi.
Penolakan Iran Picu Ketegangan
Iran menolak proposal gencatan senjata yang ditawarkan oleh AS dan Israel. Proposal tersebut ditengahi oleh Pakistan dan dirancang sebagai langkah awal menuju perdamaian jangka panjang. Namun, pemerintah Iran menilai bahwa tawaran tersebut tidak memadai dan justru menuntut pembukaan Selat Hormuz sebagai syarat utama.
-
Proposal Gencatan Senjata Ditolak
- Iran menolak pembukaan Selat Hormuz secara langsung.
- Tanggapan resmi Iran mencakup 10 klausul, termasuk pencabutan sanksi dan jalur aman di selat.
-
Tawaran AS dan Iran Masih Jauh Berbeda
- AS menawarkan gencatan senjata sementara selama 45 hari.
- Iran menuntut pengakhiran permanen konflik dan penghentian sanksi ekonomi.
-
Mediasi Pakistan Gagal Membawa Hasil
- Pakistan berperan sebagai mediator, namun belum ada titik temu antara kedua belah pihak.
- Ketegangan terus meningkat seiring berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan Trump.
Ancaman Trump dan Dampaknya pada Pasar
Ancaman Trump untuk “mengambil minyak Iran” menjadi poin penting dalam eskalasi ketegangan. Pernyataan ini tidak hanya memicu kekhawatiran geopolitik, tetapi juga menekan pasar minyak global. Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20% minyak dunia, menjadi sorotan utama.
-
Trump Ancam “Ambil Minyak” Iran
- Trump menyatakan bahwa AS akan mengambil alih produksi minyak Iran jika situasi memburuk.
- Pernyataan ini dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan energi Iran.
-
Selat Hormuz Jadi Titik Panas
- Penutupan jalur strategis ini bisa memicu krisis energi global.
- Harga minyak bisa melonjak lebih tinggi jika akses terganggu.
-
Tenggat Waktu yang Ditentukan Trump
- Trump menetapkan batas waktu Selasa pukul 20:00 ET untuk pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Ancaman “Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan” menjadi sorotan media global.
Respons OPEC+ dan Pasar Minyak
Di tengah ketegangan ini, OPEC+ mengumumkan rencana peningkatan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari mulai Mei 2026. Langkah ini diharapkan bisa membantu menstabilkan harga minyak global. Namun, para analis memperkirakan bahwa peningkatan produksi ini tidak serta merta bisa mencapai pasar karena kendala logistik.
-
OPEC+ Setujui Peningkatan Produksi
- Delapan negara anggota OPEC+ akan menaikkan produksi mulai Mei.
- Total peningkatan mencapai 206.000 barel per hari.
-
Kendala Logistik Masih Jadi Masalah
- Infrastruktur distribusi minyak belum siap menyerap peningkatan produksi.
- Efek dari kebijakan ini baru akan terasa dalam beberapa pekan ke depan.
-
Pasar Masih Skeptis
- Investor ragu apakah peningkatan produksi bisa mengimbangi potensi gangguan pasokan.
- Spekulasi terus berlanjut terkait kemungkinan eskalasi konflik.
Dampak Global dari Lonjakan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak berdampak luas, tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga ekonomi global. Kenaikan biaya energi berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor minyak.
-
Inflasi Makroekonomi Meningkat
- Kenaikan harga energi mendorong biaya produksi dan transportasi.
- Negara berkembang berisiko tinggi terkena dampaknya.
-
Sektor Transportasi dan Manufaktur Terpukul
- Biaya operasional meningkat, memaksa perusahaan menaikkan harga jual.
- Konsumen akhirnya merasakan dampaknya melalui harga barang dan jasa.
-
Investor Cari Aset Aman
- Pasar saham sempat terkoreksi karena ketidakpastian.
- Minyak dan logam mulia menjadi pilihan utama investor.
Kesimpulan
Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas, memicu lonjakan harga minyak global. Penolakan Iran terhadap gencatan senjata dan ancaman Trump untuk mengambil alih produksi minyak menjadi pemicu utama volatilitas pasar. Meski OPEC+ berupaya menstabilkan harga melalui peningkatan produksi, pasar masih terus memperhitungkan risiko eskalasi konflik.
Disclaimer: Data harga minyak dan kondisi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak menjadi rekomendasi investasi.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













