Harga emas kembali bersinar terang di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026, logam mulia ini mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan, didorong oleh melemahnya dolar AS dan laporan tenaga kerja yang mengecewakan dari Amerika Serikat.
Lonjakan harga emas ini terjadi seiring dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Investor pun mulai mencari aset safe-haven untuk melindungi portofolio mereka dari risiko yang muncul akibat eskalasi konflik.
Dinamika Harga Emas dan Dolar AS
Harga emas dan dolar sering kali bergerak berlawanan. Saat dolar melemah, emas cenderung lebih menarik bagi investor global. Namun, minggu ini, keduanya justru terlibat dalam tarik-ulur yang menarik untuk diamati.
1. Harga Emas Naik di Tengah Pelemahan Dolar
Pada akhir perdagangan Jumat, harga emas spot naik 1,6 persen mencapai USD5.162,42 per ons. Sementara harga emas berjangka naik lebih tajam lagi, yaitu 1,8 persen, ke level USD5.170,14 per ons. Lonjakan ini dipicu oleh melemahnya Indeks Dolar AS yang turun 0,4 persen.
2. Dolar AS Melemah Akibat Data Tenaga Kerja Buruk
Laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Februari mengejutkan pasar. Alih-alih menambah lapangan kerja, jumlah pekerjaan justru turun sebanyak 92 ribu. Angka ini jauh dari prediksi yang memperkirakan penambahan 58 ribu lapangan kerja.
Tingkat pengangguran juga naik dari 4,3 persen menjadi 4,4 persen. Data ini memicu spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan menunda langkah pemotongan suku bunga, yang pada akhirnya memengaruhi kekuatan dolar.
Faktor Geopolitik yang Mendorong Permintaan Emas
Ketidakpastian global, terutama yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah, menjadi salah satu pendorong utama permintaan terhadap emas. Investor melihat logam mulia ini sebagai pelindung nilai di tengah situasi yang sulit diprediksi.
1. Eskalasi Konflik Iran dan Ancaman Inflasi
Pertempuran antara AS, Israel, dan Iran semakin intens dalam beberapa pekan terakhir. Serangan rudal dan balasan yang terus-menerus membuat investor khawatir akan gangguan pasokan energi global.
Akibatnya, harga minyak mentah melonjak. Lonjakan ini memicu kekhawatiran baru tentang inflasi global yang bisa kembali menghiasi horizon ekonomi dunia.
2. Peran Emas sebagai Safe Haven
Emas biasanya menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian melanda. Namun, minggu ini, logam mulia ini menghadapi tantangan dari dolar yang menguat dan imbal hasil obligasi yang naik.
Meski demikian, sejumlah analis tetap optimis bahwa permintaan emas akan tetap tinggi selama situasi geopolitik belum stabil sepenuhnya.
Pergerakan Logam Lainnya
Selain emas, beberapa logam lain juga menunjukkan pergerakan yang cukup menarik. Perak dan platinum ikut naik, sementara tembaga mengalami fluktuasi yang mencerminkan dinamika pasar global.
1. Perak Naik 2,6 Persen
Harga perak naik 2,6 persen menjadi USD84,4210 per ons. Lonjakan ini sejalan dengan permintaan investor terhadap aset bernilai tinggi di tengah ketidakpastian pasar.
2. Platinum Naik Tipis
Platinum naik 0,9 persen ke level USD2.147,95 per ons. Meski kenaikannya tidak terlalu signifikan, logam ini tetap menunjukkan performa positif di tengah tekanan risiko global.
3. Stok Tembaga LME Melonjak
Stok tembaga di London Metal Exchange (LME) melonjak hampir delapan persen ke level tertinggi dalam 16 bulan. Ini menunjukkan adanya pergeseran arus logam dari pasar AS ke pasar global.
| Komoditas | Perubahan (%) | Harga Terbaru |
|---|---|---|
| Emas Spot | +1,6% | USD5.162,42 |
| Emas Berjangka | +1,8% | USD5.170,14 |
| Perak | +2,6% | USD84,4210 |
| Platinum | +0,9% | USD2.147,95 |
| Tembaga LME | -1,2% | USD12.902,00 |
| Tembaga AS | +0,5% | USD5,8348/lb |
Lonjakan stok tembaga di LME mencerminkan adanya perubahan struktur harga yang mendorong logam untuk kembali ke gudang global. Ini bisa menjadi indikator awal dari penyesuaian pasar terhadap permintaan jangka pendek.
Tantangan Jangka Pendek bagi Emas
Meski permintaan emas meningkat, logam ini masih menghadapi beberapa tantangan. Dolar yang menguat dan kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat emas terlihat kurang menarik bagi sebagian investor.
Namun, jika ketegangan geopolitik terus berlanjut, emas bisa kembali menjadi sorotan. Apalagi dengan potensi inflasi yang muncul akibat lonjakan harga energi, permintaan terhadap logam mulia ini bisa kembali meningkat.
Kesimpulan
Harga emas kembali naik di tengah ketidakpastian global dan data ekonomi AS yang mengecewakan. Investor semakin memilih aset safe-haven seperti emas untuk melindungi nilai investasi mereka. Meski menghadapi tekanan dari dolar yang menguat, emas tetap memiliki potensi untuk terus bersinar selama situasi geopolitik belum stabil.
Disclaimer: Data harga dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika global. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak menjadi rekomendasi investasi.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













