Nasional

Rupiah Anjlok Lagi, Sentuh Level Rp16.829 per USD!

Fadhly Ramadan
×

Rupiah Anjlok Lagi, Sentuh Level Rp16.829 per USD!

Sebarkan artikel ini
Rupiah Anjlok Lagi, Sentuh Level Rp16.829 per USD!

Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Selasa, 24 . Sejak pagi, mata lokal sudah menunjukkan tekanan pelemahan yang berlanjut hingga penutupan pasar. Pelemahan ini mencerminkan dinamika global dan lokal yang tengah memengaruhi sentimen pasar keuangan.

Data Bloomberg mencatat rupiah ditutup di level Rp16.829 per USD, turun 27 poin atau sekitar 0,16 persen dari posisi sebelumnya di Rp16.802. Sementara itu, Yahoo Finance mencatat rupiah berada di zona merah pada posisi Rp16.820 per USD, melemah tujuh poin atau 0,04 persen dari penutupan sebelumnya. Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa sumber data kurs bisa memberikan gambaran yang sedikit berbeda tergantung metodologi dan waktu pengambilan datanya.

Data Resmi Jisdor dan Pergerakan Rupiah

Selain data pasar, kurs referensi resmi dari Bank juga memberikan catatan pelemahan. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat rupiah berada di level Rp16.830 per USD. Angka ini turun dari posisi sebelumnya di Rp16.818 per USD. Jisdor menjadi acuan penting dalam transaksi keuangan dan perdagangan internasional, sehingga pergerakannya kerap menjadi indikator sentimen domestik.

Pergerakan rupiah yang cenderung melemah hari ini tidak terlepas dari dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Sentimen pasar global tetap sensitif terhadap isu geopolitik dan kebijakan moneter berbagai negara besar. Di tengah situasi seperti ini, rupiah kerap menjadi korban “flight to quality” di mana investor memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS.

Sebelumnya, ada harapan bahwa rupiah bisa menguat. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tekanan eksternal dan beberapa faktor domestik justru membuat pelemahan menjadi pilihan pasar. Berikut beberapa faktor yang berkontribusi terhadap pelemahan .

1. Sentimen Global yang Belum Stabil

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang hari. Namun, ia sempat memprediksi bahwa rupiah bisa menguat ke kisaran Rp16.770 hingga Rp16.800. Harapan ini didasarkan pada perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran dalam putaran ketiga pembicaraan nuklir di Jenewa.

Komentar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyebut adanya peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik, memberikan sedikit optimisme pasar. Pasar cenderung merespons positif terhadap sinyal-sinyal de-escalation atau penurunan ketegangan.

Namun, optimisme ini tidak cukup kuat untuk menahan tekanan dari faktor lain, terutama kebijakan perdagangan yang diumumkan oleh pemerintah AS. Presiden berencana mengenakan tarif 10 persen pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS. Kebijakan ini muncul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas.

Langkah ini dianggap sebagai bentuk proteksionisme yang bisa memicu volatilitas pasar global. Investor kembali waspada, dan dolar AS tetap menjadi pilihan utama dalam kondisi ketidakpastian.

2. Defisit APBN Januari 2026

Dari sisi domestik, laporan APBN bulan Januari 2026 memberikan gambaran kondisi fiskal yang perlu diperhatikan. Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN sebesar Rp54,6 triliun atau setara dengan 0,21 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini masih berada dalam koridor wajar sesuai desain APBN 2026.

Namun, defisit menunjukkan bahwa belanja negara masih lebih tinggi daripada pendapatan. Realisasi belanja negara per Januari mencapai Rp227,3 triliun, atau sekitar 5,9 persen dari target belanja tahunan sebesar .842,7 triliun. Meski jumlah ini belum besar, namun jika terus terjadi sepanjang tahun, bisa memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.

Belanja pemerintah yang tinggi tanpa diimbangi dengan penerimaan yang sepadan bisa menimbulkan kekhawatiran inflasi dan defisit berkepanjangan. Investor asing cenderung menghindari negara dengan defisit fiskal yang besar karena dianggap sebagai indikator .

3. Perbandingan Data Kurs Hari Ini

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah perbandingan data kurs rupiah terhadap USD dari berbagai sumber:

Sumber Data Kurs (Rp per USD) Perubahan (Poin) Perubahan (%)
Bloomberg 16.829 -27 -0,16%
Yahoo Finance 16.820 -7 -0,04%
Jisdor BI 16.830 -12 -0,07%

Perbedaan angka antar sumber menunjukkan bahwa setiap platform memiliki metode pengambilan dan pelaporan data yang berbeda. Namun, secara umum, semua sumber menunjukkan bahwa rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.

Faktor Pendukung Pelemahan Rupiah

Beberapa faktor lain juga turut memengaruhi pelemahan rupiah, di antaranya:

  • Kebijakan moneter global yang masih didominasi oleh ketidakpastian siklus suku bunga.
  • Kekhawatiran terhadap tarif baru AS yang bisa memicu perang dagang baru.
  • Sentimen investor yang tetap risk-off, terutama menjelang kebijakan penting dari negara besar.

Proyeksi ke Depan

Meski pelemahan terjadi hari ini, Ibrahim Assuaibi tetap optimistis bahwa rupiah bisa pulih jika sentimen global membaik. Namun, ia menyarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan perdagangan global yang bisa memicu volatilitas lebih lanjut.

Di sisi dalam negeri, pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus menjaga stabilitas makroekonomi agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin besar. Pengelolaan APBN yang baik dan transparan akan menjadi salah satu faktor penopang kepercayaan investor.

Disclaimer

Data kurs yang disajikan bersifat mengambang dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar. Perbedaan nilai antar sumber data merupakan hal yang wajar mengingat metodologi pengambilan data yang berbeda. Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.