Desa Tugu Selatan di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, menyuguhkan pemandangan hijau yang memikat sekaligus menjadi cerminan transformasi ekonomi berbasis potensi lokal. Dikelilingi alam yang masih asri dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur, desa ini berhasil menggabungkan kearifan lokal, inovasi, serta kolaborasi strategis untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Salah satu wujud nyata dari perubahan ini adalah Kampung Koboi, sebuah destinasi wisata yang tumbuh dari identitas unik warga setempat. Kampung ini lahir dari Kampung Teksas, kawasan yang mayoritas penduduknya memiliki profesi sebagai penunggang kuda. Dari sinilah, benih destinasi wisata berbasis budaya dan tradisi mulai tumbuh dan berkembang.
Kampung Koboi, Ikon Baru Wisata Edukatif
Kampung Koboi bukan sekadar tempat wisata biasa. Tempat ini menawarkan pengalaman langsung berinteraksi dengan kuda, belajar tentang peternakan, hingga menikmati suasana alam pegunungan yang menenangkan. Dengan konsep edukatif dan rekreasi, Kampung Koboi berhasil menarik minat wisatawan dari berbagai kalangan.
1. Mengenal Asal Usul Kampung Koboi
Sebelum menjadi destinasi wisata, Kampung Teksas dikenal sebagai wilayah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai penunggang kuda. Kepala Desa Tugu Selatan, M. Eko Windiana, menjelaskan bahwa Kampung Teksas sudah ada sejak lama dan identitas ini menjadi inspirasi utama lahirnya Kampung Koboi.
2. Pengembangan Destinasi Wisata
Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kampung Koboi dikembangkan secara terintegrasi. Mulai dari pengelolaan atraksi wisata, penyediaan fasilitas pengunjung, hingga kolaborasi dengan pelaku usaha lokal untuk mendukung ekonomi masyarakat sekitar.
3. Dampak bagi Masyarakat
Kehadiran Kampung Koboi membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan warga, dan memberikan ruang berkembang bagi pelaku usaha lokal. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati atraksi, tetapi juga berkontribusi langsung pada perekonomian desa.
Penguatan Ekonomi Melalui BUMDes dan Program Desa BRILiaN
Transformasi ekonomi di Desa Tugu Selatan tidak hanya berjalan sendiri. Dukungan dari program Desa BRILiaN milik BRI memberikan dorongan signifikan dalam pengembangan usaha dan penguatan kelembagaan desa.
1. Peran BUMDes dalam Mengelola Unit Usaha
BUMDes Tugu Selatan mengelola berbagai unit usaha, mulai dari Café Landing Para Layang yang menjadi wadah UMKM lokal, hingga layanan BRILink Agen yang memudahkan transaksi keuangan warga. Semua ini menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa yang terintegrasi.
2. Akses Pembiayaan melalui KUR
Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) memberikan akses permodalan bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Banyak warga yang memanfaatkan program ini untuk mengembangkan usaha peternakan, pertanian, hingga usaha kuliner.
3. Digitalisasi Layanan Desa
Digitalisasi menjadi salah satu pilar utama dalam program Desa BRILiaN. Melalui layanan internet desa dan integrasi sistem digital, warga lebih mudah mengakses informasi, layanan publik, hingga transaksi keuangan.
Sektor Peternakan dan Pertanian yang Terus Tumbuh
Selain wisata, sektor peternakan dan pertanian juga menjadi tulang punggung ekonomi Desa Tugu Selatan. Kedua sektor ini terus berkembang berkat dukungan teknologi, permodalan, dan pendampingan yang tepat.
1. Peternakan Sapi Perah yang Produktif
Di sektor peternakan, klaster sapi perah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Produksi susu mencapai sekitar 2.000 liter per hari. Angka ini menunjukkan bahwa produktivitas ternak terus meningkat berkat peningkatan kualitas pakan, manajemen, dan dukungan pembiayaan.
2. Pertanian yang Dikelola oleh Gapoktan
Gapoktan di Desa Tugu Selatan juga terus diperkuat melalui bantuan alat pertanian dan pendampingan teknis. Tujuannya agar hasil produksi meningkat dan lahan pertanian bisa dikelola secara lebih efisien.
3. Kolaborasi dengan BUMDes dan BRI
Kolaborasi antara BUMDes, BRI, dan kelompok tani serta peternak mempercepat proses pengembangan usaha. Dari sisi pembiayaan hingga pemasaran, semua elemen ini saling mendukung untuk menciptakan ekosistem usaha yang sehat.
Empat Pilar Desa BRILiaN yang Mendukung Transformasi
Desa BRILiaN hadir sebagai program pemberdayaan desa yang menyeluruh. Empat pilar utamanya menjadi fondasi dalam mendorong desa agar bisa naik kelas secara berkelanjutan.
1. Penguatan Kelembagaan Desa
Penguatan kelembagaan seperti BUMDes menjadi kunci agar desa bisa mengelola aset dan usaha secara profesional. Ini termasuk tata kelola yang transparan dan akuntabel.
2. Digitalisasi Layanan
Digitalisasi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga akses. Dengan layanan digital, warga bisa lebih mudah mengakses berbagai layanan publik dan keuangan.
3. Inovasi Berbasis Kearifan Lokal
Inovasi yang diambil dari budaya dan tradisi lokal justru memiliki daya tahan yang lebih lama. Kampung Koboi adalah salah satu contoh nyata bagaimana kearifan lokal bisa menjadi magnet ekonomi.
4. Keberlanjutan sebagai Fondasi
Pembangunan desa harus berkelanjutan. Artinya, tidak hanya memikirkan keuntungan saat ini, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat.
Peran BRI dalam Mendorong Desa Naik Kelas
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa Desa BRILiaN adalah bagian dari strategi BRI untuk memperkuat ekonomi desa. Program ini tidak hanya soal pembiayaan, tetapi juga pendampingan dan penguatan ekosistem usaha agar desa bisa berkembang secara mandiri.
BRI membantu desa dalam hal akses permodalan, digitalisasi, dan kolaborasi antarlembaga. Tujuannya agar desa tidak hanya bertahan, tetapi bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerahnya.
Tabel Perkembangan Ekonomi Desa Tugu Selatan
Berikut adalah perkembangan ekonomi Desa Tugu Selatan dalam beberapa sektor pasca penerapan program Desa BRILiaN:
| Sektor | Sebelum Program | Setelah Program | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Produksi Susu per Hari | 1.200 liter | 2.000 liter | 66,7% |
| Jumlah UMKM | 15 unit | 32 unit | 113,3% |
| Kunjungan Wisatawan per Bulan | 500 orang | 1.200 orang | 140% |
| Akses Pembiayaan KUR | 5 orang | 20 orang | 300% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi lapangan.
Desa Tugu Selatan membuktikan bahwa transformasi ekonomi bisa terjadi ketika potensi lokal dikelola secara sinergis dan berkelanjutan. Kampung Koboi adalah salah satu cerita nyata dari perubahan besar yang terjadi di desa ini. Dengan dukungan program seperti Desa BRILiaN, desa-desa lain pun bisa mengikuti jejak serupa untuk menciptakan kemandirian ekonomi yang berdampak luas.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













