Nasional

Harga Beras Diprediksi Stabil di Tengah Lonjakan Biaya Produksi 2026 Menurut Bulog

Danang Ismail
×

Harga Beras Diprediksi Stabil di Tengah Lonjakan Biaya Produksi 2026 Menurut Bulog

Sebarkan artikel ini
Harga Beras Diprediksi Stabil di Tengah Lonjakan Biaya Produksi 2026 Menurut Bulog

Meski plastik mengalami kenaikan, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa harga beras tetap akan stabil. Kenaikan harga bahan kemasan yang sempat menjadi sorotan publik tidak akan berimbas pada harga jual beras di pasaran, apalagi ke masyarakat konsumen akhir.

Langkah ini sejalan dengan arahan yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga pangan, khususnya beras, agar masyarakat tetap terjaga. Rizal menyampaikan bahwa kebijakan ini sudah dibahas secara serius dalam rapat di Istana Kepresidenan beberapa waktu lalu.

Stok Beras Nasional Masih Aman

Stok beras nasional saat ini mencapai 4,72 juta ton. Angka ini dianggap sangat memadai untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga di tengah berbagai tekanan eksternal, termasuk lonjakan harga bahan kemasan.

Bulog memiliki cadangan yang cukup besar untuk mengantisipasi permintaan di berbagai daerah. Dengan stok yang aman, tekanan terhadap harga beras pun dapat diminimalkan.

1. Koordinasi Internal Bulog

Untuk menjaga keseimbangan antara biaya operasional dan harga jual, Bulog melakukan penyesuaian kebijakan internal. Langkah ini penting agar tidak terjadi kenaikan harga yang berdampak luas ke masyarakat.

2. Evaluasi Biaya Kemasan

Salah satu fokus utama adalah evaluasi terhadap biaya kemasan. Kenaikan harga plastik memang terjadi, tapi Bulog mencoba menekan dampaknya melalui efisiensi dan penyesuaian anggaran.

3. Rapat Direksi Strategis

Bulog menggelar rapat direksi untuk merumuskan langkah strategis. Salah satunya adalah memberikan ruang penyesuaian biaya kemasan tanpa mengganggu operasional distribusi secara keseluruhan.

Dukungan dari Kementerian Terkait

Selain langkah internal, Bulog juga melakukan koordinasi dengan . Tujuannya adalah untuk mendapatkan dukungan berupa keringanan harga bahan baku kemasan.

Ini penting karena sebagian besar beras yang dikemas Bulog digunakan untuk program pangan yang menjangkau 33,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) serta program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

1. Negosiasi Harga Bahan Baku

Bulog berupaya mendapat harga terbaik untuk bahan kemasan. Harapannya, harga bisa tetap kompetitif tanpa mengurangi kualitas dari kemasan itu sendiri.

2. Menjaga Kualitas Kemasan

Meski ada penyesuaian biaya, Bulog tetap menjaga kualitas kemasan. Ini penting untuk menjaga keamanan dan kelayakan beras yang didistribusikan ke seluruh pelosok negeri.

Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras

Bulog menetapkan HET beras berdasarkan kualitas dan zona distribusi. Berikut rinciannya:

Jenis Beras HET Nasional
Beras Medium Rp13.500/kg
Rp14.900/kg

Sementara untuk beras SPHP, harganya disesuaikan berdasarkan zona distribusi:

Zona Wilayah HET SPHP
Zona 1 Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, , NTB, Rp12.500/kg
Zona 2 Sumatra (selain Lampung dan Sumsel), NTT, Kalimantan Rp13.100/kg
Zona 3 Maluku, Papua Rp13.500/kg

Strategi Jangka Panjang Bulog

Menghadapi kenaikan harga plastik, Bulog tidak hanya mengandalkan penyesuaian jangka pendek. Ada beberapa strategi jangka panjang yang sedang dikaji, termasuk diversifikasi bahan kemasan dan penggunaan material yang lebih ramah lingkungan.

1. Diversifikasi Bahan Kemasan

Bulog mulai mengeksplorasi alternatif bahan kemasan yang lebih murah dan ramah lingkungan. Ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada plastik.

2. Efisiensi Distribusi

Langkah efisiensi distribusi juga terus ditingkatkan. Dengan sistem yang lebih efisien, biaya operasional bisa ditekan tanpa mengurangi kualitas pelayanan.

3. Penguatan Jaringan Mitra

Bulog terus memperkuat jaringan mitra di daerah. Kolaborasi ini membantu mempercepat distribusi dan mengurangi biaya .

Optimisme Stabilitas Harga

Rizal optimistis harga beras tetap bisa terjaga meski ada kenaikan harga plastik. Kunci utamanya adalah koordinasi yang baik dan pengelolaan biaya yang efisien.

Stok yang cukup, dukungan dari pemerintah, serta strategi distribusi yang matang menjadi fondasi utama dalam menjaga harga tetap stabil.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat valid pada April 2026. Harga, kebijakan, dan kondisi stok dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika pasar dan kebijakan pemerintah.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.