Pasar energi global kembali diguncang oleh gejolak geopolitik yang memicu lonjakan harga minyak mentah secara signifikan. Pada perdagangan Selasa, 28 April 2026, harga minyak dunia mencatatkan kenaikan lebih dari tiga persen akibat ketegangan yang tak kunjung usai di Timur Tengah.
Situasi semakin memanas setelah upaya resolusi konflik di Iran menemui jalan buntu. Penutupan akses navigasi di Selat Hormuz menjadi pemicu utama terhambatnya rantai pasok energi global yang sangat vital bagi stabilitas ekonomi dunia.
Dinamika Harga Minyak dan Manuver UEA
Di tengah lonjakan harga yang tajam, pasar dikejutkan oleh langkah strategis Uni Emirat Arab (UEA). Keputusan negara tersebut untuk keluar dari keanggotaan OPEC dan OPEC+ memberikan sentimen baru yang cukup menekan laju kenaikan harga minyak mentah.
Berikut adalah rincian kenaikan harga minyak mentah pada penutupan perdagangan 28 April 2026:
| Jenis Minyak | Kenaikan Harga | Harga per Barel |
|---|---|---|
| Brent (Pengiriman Juni) | USD 3,37 (3,1%) | USD 111,60 |
| WTI (Pengiriman Juni) | USD 3,72 (3,7%) | USD 100,09 |
Data di atas menunjukkan bahwa harga minyak Brent berhasil menembus rekor tertinggi sejak awal April. Sementara itu, minyak mentah WTI Amerika Serikat kembali melampaui ambang batas psikologis USD 100 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir.
Keputusan UEA untuk hengkang dari aliansi produsen minyak dunia ini dipandang sebagai pukulan telak bagi dominasi Arab Saudi di pasar global. Pergeseran peta kekuatan ini menambah lapisan ketidakpastian baru di tengah krisis pasokan yang sedang berlangsung.
Dampak Kebuntuan Diplomasi AS dan Iran
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi. Proposal perdamaian yang diajukan Teheran ditolak mentah-mentah oleh pihak Washington, sehingga negosiasi program nuklir dan sengketa maritim terhenti total.
Kondisi ini memperburuk situasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Berikut adalah tahapan dampak dari kebuntuan diplomasi tersebut terhadap pasar energi:
- Penolakan proposal perdamaian oleh pihak Amerika Serikat.
- Kelanjutan blokade militer di pelabuhan-pelabuhan strategis Iran.
- Penutupan jalur navigasi di Selat Hormuz bagi kapal tanker komersial.
- Kepanikan pasar dalam mengkalkulasi ulang risiko geopolitik jangka panjang.
Analis Rystad Energy, Jorge Leon, menekankan bahwa harga di atas USD 110 per barel merupakan cerminan dari kekhawatiran mendalam pelaku pasar. Ketidakjelasan mengenai kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali membuat gangguan pasokan diprediksi akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
Gangguan Lalu Lintas Maritim dan Defisit Pasokan
Sebelum pecahnya agresi militer pada akhir Februari lalu, Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan energi dunia yang sangat sibuk. Data historis menunjukkan volume lalu lintas yang sangat kontras dibandingkan dengan kondisi saat ini.
Berikut adalah perbandingan aktivitas lalu lintas maritim di Selat Hormuz:
- Sebelum konflik: 125 hingga 140 kapal melintas setiap harinya.
- Kondisi saat ini: Pengalihan rute besar-besaran dan pembatasan operasional kapal tanker.
- Dampak pasokan: Potensi defisit hingga 10 juta barel per hari.
Gangguan ini memaksa banyak kapal tanker, termasuk yang membawa minyak mentah Arab Saudi dan gas alam cair dari UEA, harus menempuh rute yang lebih berisiko atau memutar haluan. Analis PVM, Tamas Varga, memperingatkan bahwa hilangnya volume pasokan raksasa ini akan memicu kontraksi pasar yang jauh lebih parah daripada penurunan permintaan akibat tekanan inflasi.
Keseimbangan pasar minyak dunia kini berada di titik yang sangat rentan. Selama diplomasi antara Washington dan Teheran tidak membuahkan hasil konkret, ancaman lonjakan harga akan terus membayangi pasar energi global dalam waktu yang tidak ditentukan.
Disclaimer: Data harga minyak, kebijakan geopolitik, dan status keanggotaan organisasi energi yang tercantum dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan situasi global. Informasi ini disusun untuk tujuan edukasi dan analisis pasar, bukan sebagai saran investasi atau keputusan finansial.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













