Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu gejolak besar di pasar energi global. Jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman ini biasa dilalui sekitar 20,1 juta barel minyak mentah per hari. Ketika akses ditutup, dampaknya dirasakan hingga ke negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia terganggu akibat insiden ini. Mayoritas pasokan minyak mentah Indonesia memang berasal dari kawasan Timur Tengah, tapi sisanya didatangkan dari Afrika, Amerika Serikat, dan Brasil. Meski begitu, dia memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji masih aman untuk beberapa minggu ke depan.
Dampak Penutupan Selat Hormuz bagi Pasokan Energi Indonesia
Selat Hormuz adalah salah satu jalur pengiriman minyak paling sibuk di dunia. Ketika jalur ini ditutup, hampir seperempat dari pasokan energi global terganggu. Untuk Indonesia, yang mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya, gangguan ini bisa berdampak langsung pada ketersediaan energi nasional.
1. Proporsi Impor Minyak Mentah dari Timur Tengah
Dari total impor minyak mentah dan kondensat sebanyak 17,58 juta ton pada 2025, sekitar 20 hingga 25 persen berasal dari kawasan Timur Tengah. Artinya, gangguan di jalur ini bisa menyebabkan hingga 4,4 juta ton pasokan minyak mentah terhambat. Pemasok utama dari kawasan ini termasuk Arab Saudi, Kuwait, dan Iran.
2. Alternatif Sumber Impor Minyak Mentah
Untungnya, Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada satu kawasan. Sumber impor lainnya meliputi:
- Nigeria (26,3 persen)
- Angola (21,2 persen)
- Amerika Serikat
- Brasil
Dengan adanya alternatif ini, pemerintah masih bisa menjaga kestabilan pasokan meski ada gangguan dari Timur Tengah.
3. Ketersediaan BBM dan Elpiji Masih Aman
Bahlil menegaskan bahwa stok BBM dan elpiji nasional masih mencukupi kebutuhan hingga 21 hari ke depan. Bahkan, rata-rata stok nasional berada di atas standar minimum. Untuk antisipasi jangka panjang, pemerintah tengah membangun fasilitas penyimpanan energi dengan kapasitas hingga tiga bulan.
Rincian Impor Minyak Mentah Indonesia Tahun 2025
| Negara Asal | Persentase Impor |
|---|---|
| Nigeria | 26,3% |
| Angola | 21,2% |
| Arab Saudi | 18,1% |
| Kuwait | 8,7% |
| Amerika Serikat | 6,4% |
| Brasil | 4,2% |
| Negara Lain | 15,1% |
Catatan: Data dapat berubah sewaktu-waktu tergantung dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional.
Strategi Jangka Pendek dan Menengah Pemerintah
Menghadapi gangguan pasokan energi global, pemerintah tidak tinggal diam. Ada beberapa langkah antisipatif yang sedang diambil untuk memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi.
1. Peningkatan Stok Nasional
Stok BBM dan elpiji saat ini mencapai rata-rata 25 hingga 26 hari. Ini melebihi standar nasional minimal 21 hari. Pemerintah terus memperluas kapasitas penyimpanan untuk mengantisipasi gangguan jangka panjang.
2. Diversifikasi Sumber Impor
Pemerintah terus mendorong diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan. Impor dari Afrika dan Amerika Serikat terus ditingkatkan sebagai langkah strategis.
3. Peningkatan Produksi Dalam Negeri
Selain mengimpor, pemerintah juga fokus meningkatkan produksi minyak mentah dalam negeri. Program hilirisasi migas dan eksplorasi baru di berbagai wilayah terus digenjot.
Ketahanan Energi Jelang Idulfitri
Menjelang momen Idulfitri dan bulan puasa, ketersediaan energi menjadi prioritas utama. Bahlil menyampaikan bahwa stok BBM dan elpiji nasional dalam kondisi aman. Semua komponen distribusi, dari penyimpanan hingga penyaluran ke agen, telah disiapkan dengan matang.
1. Stok BBM Minimal 21 Hari
Standar nasional menetapkan stok BBM minimal 21 hari. Saat ini, rata-rata stok nasional berada di atas angka tersebut. Ini mencakup berbagai jenis BBM seperti Pertalite, Pertamax, dan solar.
2. Ketersediaan Elpiji 3 Kilogram
Elpiji 3 kg, yang sangat dibutuhkan masyarakat selama bulan puasa, juga dalam kondisi aman. Stok tersebar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil.
3. Koordinasi Antarsektor
Koordinasi lintas sektor antara Kementerian ESDM, BPH Migas, dan Pertamina terus dilakukan. Tujuannya untuk memastikan distribusi energi berjalan lancar tanpa hambatan teknis maupun logistik.
Tantangan Jangka Panjang dan Solusi
Gangguan di Selat Hormuz adalah pengingat bahwa ketahanan energi nasional tidak bisa bergantung sepenuhnya pada impor. Pemerintah perlu terus memperkuat kapasitas produksi lokal dan memperluas jaringan pasokan global.
1. Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan
Selain migas, pengembangan energi baru dan terbarukan seperti panas bumi, surya, dan angin juga terus digenjot. Ini untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor.
2. Peningkatan Infrastruktur Penyimpanan
Pemerintah tengah membangun fasilitas penyimpanan energi dengan kapasitas hingga tiga bulan. Ini akan memberikan buffer yang lebih besar saat terjadi gangguan global.
3. Kebijakan Regulasi yang Fleksibel
Kebijakan energi harus fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan dinamika global. Regulasi yang adaptif akan membantu menjaga kestabilan pasokan energi nasional.
Kesimpulan
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memang memberi dampak langsung pada impor minyak mentah Indonesia. Namun, dengan strategi diversifikasi, peningkatan stok, dan pengembangan energi dalam negeri, pemerintah mampu menjaga ketersediaan energi tetap stabil. Kondisi ini menunjukkan pentingnya ketahanan energi yang mandiri dan beragam agar tidak mudah terguncang oleh situasi geopolitik global.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah serta kebijakan pemerintah terkait energi nasional.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













